26 November 2012

Membentuk Kesabaran Diri

Sabar.. sering kita dengar kata-kata ini. Namun dibalik sebuah kata yang sangat simpel, ini ada makna dan penerapan yang sering dianggap susah untuk direalisasikan. Banyak dari kita ingin sekali mempunyai kepribadian dan dapat menempatkan kesabaran dalam diri. Proses hidup dan keadaan lingkungan sangat mempengaruhi terbentuknya sifat kesabaran ini. Kadang muncul banyak pertanyaan mengenai sabar ini. Kenapa kita harus sabar? bagaimana cara untuk lebih sabar? kenapa keadaan ini membutku semakin tidak sabar?

Pada intinya kesabaran adalah bagaimana kita mengolah pikiran dan menempatkan diri sebagai faktor eksternal dan bukan internal, walaupun situasi yang kita hadapi menyeret kita masuk ke dalam masalah tersebut.  Sabar berasal dari kata “sobaro-yasbiru” yang artinya menahan. Dan menurut istilah, sabar adalah menahan diri dari kesusahan dan menyikapinya sesuai syariah dan akal, menjaga lisan dari celaan, dan menahan anggota badan dari berbuat dosa dan sebagainya. Itulah pengertian sabar yang harus kita tanamkan dalam diri kita. Dan sabar ini tidak identik dengan cobaan saja. Karena menahan diri untuk tidak bersikap berlebihan, atau menahan diri dari pemborosan harta bagi yang mampu juga merupakan bagian dari sabar. Sabar harus kita terapkan dalam setiap aspek kehidupan kita. Bukan hanya ketika kita dalam kesulitan, tapi ketika dalam kemudahaan dan kesenangan juga kita harus tetap menjadikan sabar sebagai aspek kehidupan kita.
Berikut adalah kisah-kisah atau cerita mengenai kesabaran yang saya kutip dari beberapa sumber yang mungkin bisa membuka pikiran anda mengenai kesabaran.

Kesabaran itu dibuktikan oleh pengalaman dan hasil dari sebuah proses. Itu juga yg terjadi pada Stephen Covey, penulis buku Seven Habits of Highly Effective People tentang pengalamannya di kereta api bawah tanah New York.Hari itu minggu pagi. Para penumpang duduk diam, mengantuk, membaca koran dan beberapa lagi melamun. Namun ketenangan itu berubah saat seorang pria dan anak-anaknya naik, kemudian membuat gaduh dan mengganggu seluruh gerbong.Pria itu nampak tidak peduli dengan tingkah anak-anaknya yang sangat mengesalkan, ia bahkan tidak berbuat apa-apa.
Covey menahan jengkel. Akhirnya berkata juga pada pria itu, “Pak, anak-anak anda benar-benar mengganggu semua orang, bisakah anda sedikit mengendalikan mereka ?”Pria itu menjawab dengan pelan, “Oh Anda benar, maaf seharusnya saya melakukan sesuatu. Kami baru pulang dari rumah sakit. Ibu mereka meninggal sejam yang lalu. Saya tidak tahu harus berpikir bagaimana. Dan saya kira mereka juga tidak tahu bagaimana harus menghadapinya”Covey menulis lebih lanjut. “Bisakah anda membayangkan perasaan saya waktu itu? Paradigma saya bergeser. Tiba-tiba saya melihat semuanya secara berbeda, saya berpikir secara berbeda. Kekesalan saya lenyap pada hari itu. Hati saya dipenuhi kepedihan pria itu. Rasa simpati dan belas kasihan mengalir dan semuanya berubah dalam sekejap.”Kita bisa bersikap sabar dan mengasihi orang lain, bila kita mau melihat melalui kacamata yang berbeda.Selama kita berfokus pada persoalan dan pemikiran kita sendiri, maka tidak akan pernah muncul rasa simpati dan toleransi dalam diri kita terhadap orang lain.Mari belajar mengasihi dengan tulus hati, dengan lebih memahami apa yang tengah dialami orang-orang disekitar kita. Sumber : http://fuznaku.wordpress.com

Pernah ada sebuah gunung yang sangat, sangat besar di mana ada banyak pohon dan semak-semak.Itu juga rumah dari sekelompok manusia yang hidup di gua-guadigali dari batu gunung. Bahkan, t di sini adalah dua keluarga di sana. Satu tinggal di sebuah gua berwarna abu-abu, yang lainnya di sebuah gua kehijauan (yang disebabkan oleh jenis batuan).Tentu, mereka dikenal sebagai Grey dan Hijau.The Grey memiliki ayah, ibu dan seorang anak berusia empat belas tahun yang disebut Petrus, sedangkan Hijau memiliki ayah, ibu, anak laki-laki empat tahun dan seorang kakek tua yang bijak.Kedua keluarga kadang-kadang makan bersama-sama, ketika mereka akanberbicara tentang pohon-pohon gunung dan bagaimana jatuh mereka untuk mendapatkan kayu yang dapat digunakan untuk membuat api dan panas. Suatu kali, Petrus merasa ia siap untuk bergabung dengan percakapan. Kakek bijak mendengarkan dengan penuh perhatian kepada orang muda, karena Petrus percaya bahwa pohon-pohon itu ada yang akan ditebang, dan bahwa hal itu tidak masalah jika mereka ditanami kembali atau tidak karena mereka mengambil begitu lama untuk tumbuh kembali.Short stories - The wise and patient cavemanSetelah Petrus telah memberikan pendapatnya, kakek bijak mengatakan kepadanya ini: "Alam adalah pasien, dan kita manusia harus bersabar juga," dan ia mengusulkan sebuah tantangan: "Aku akan mencukur semua rambut saya off, dan kita akan melihat apa sifatnya untuk menjaga keseimbangan di kepalaku. Datang dan melihat saya dalam sebulan. "
Muda Petrus tidak bisa mengerti apa yang di bumi kakek dimaksud dengan ini, dan pergi tidak ada rumah lebih bijaksana.
Kakek bijaksana dari Hijau menunggu tepat satu bulan di dalam gua untuk Petrus untuk datang. Dia tahu bahwa semua yang ia butuhkan adalah kesabaran untuk rambutnya tumbuh kembali, dan untuk mengajar anak itu pelajaran.Pada akhir bulan, Peter memasuki gua Hijau dan terkejut melihat kakek dengan kepala penuh rambut lagi. Tapi dia mengerti pesan kakek, dan berkata:"Terima kasih, Hijau Kakek, saya telah belajar banyak dari Anda. Anda telah mengajari saya dua hal: yang pertama adalah bahwa kita harus menjaga sumber daya alam kita untuk terus menggunakan mereka, misalnya dengan menanam kembali pohon-pohon yang telah kita ditebang. Yang kedua adalah bahwa saya harus lebih sabar dengan alam dan mencoba untuk belajar dari itu. "  Sumber : www.shortstories.net/for-kids/human-values/patience-stories/
Kadang sangat tidak kita sadari setiap hari, setiap jam dan setiap detik kita melalui sebuah proses untuk mempelajari bagaimana kita bersabar. Berikut dapat saya tuliskan beberapa tips untuk membuat diri menjadi pribadi yang lebih sabar dan menjadi pribadi yang lebih baik.

1.       Jangan terlalu memikirkan mengenai masalah, kesusahan dan kesakitan serta mengharapkan simpati dan perhatian dari orang lain.
2.      Jangan terlalu memfokuskan diri terhadap masalah dan selalu ingat tidak ada orang yang benar-benar perduli kepada anda, semua masalah bersumber dari pikiran kita sendiri.
3.     Iklas dan pasrahlah kepada Tuhan yang anda yakini.
4.      Kita tidak dapat memenuhi keinginan setiap orang, dan selalu sedapat mungkin kita dapat bersikap adil dalam hidup, dalam artian bersikaplah wajar kepada setiap orang.
5.      Cobalah untuk selalu bersyukur atas apa yang telah anda dapatkan, apakah itu baik atau buruk menurut anda.
6.       Cobalah untuk tidak memaksakan kehendak kita kepada orang lain, pemaksaan kehendak akan membuat keadaan semakin buruk dan bisa menimbulkan emosi dikedua pihak.
7.      Cobalah keluar sejenak dari lingkaran masalah.
8.     Kadang kita butuh sendiri untuk merenungkan apa yang telah terjadi.
9.       Abaikan segala perlakuan buruk yang menimpa adan, hidup anda tidak ditentukan oleh sikap buruk orang lain melainkan oleh diri anda sendiri.
10.  Cobalah untuk melihat masalah dan diri anda dari sisi yang berbeda.
11.    Bersimpati terhadap orang lain akan membantu anda bersifat lebih sabar.
12.    Jangan fikirkan bahawa sifat yang tidak menentu itu (moodiness) dalam diri seseorang adalah terlalu penting.
13.   Hadapi segala perubahan dengan kepala dingin dan jangan bertindak tergesa-gesa atau ceroboh.
14.   Jangan selalu menganggap materi dan cita-cita anda adalah sesuatu yang sangat penting.
15.   Cobalah untuk menerima kekurangan dan ketidak pastian dari hidup ini.


Semua kembali kepada pribadi masing-masing dan kunci dari semua untuk mencapai  pribadi yang sabar adalah pengendian diri dan selalu berfikir positif atas semua perubahan yang terjadi pada diri anda. Semoga artikel ini dapat membantu anda dalam menjalani kehidupan yang serba tidak pasti ini.

1 komentar so far

Good artikel. Kesabaran merupakan hal yang sangat penting dalam hidup kita karena jika berlebihan maka hal tersebut akan berdampak negatif bagi kita sendiri. Sayangnya tidak banyak orang yang menyadari hal ini, bahkan kebanyakan orang justru mengubah bentuknya. Dengan alasan bersabar kebanyakan orang justru menunda pekerjaannya hal ini disebabkan karena mereka menilai kesabaran dari sudut pandang dan cara yang salah

www.careerln.com


EmoticonEmoticon