17 Januari 2014

Makna Yoga Dalam Meningkatkan Evektivitas dan Kreatifitas Kerja

“Economics that hurt the moral well-being of an individual or a nation are immoral and, therefore, sinful”
Mahatman Gandhi, Young India 13-10-1921

Pendahuluan

Berbagai usaha untuk meningkatkan kesejahtraan dan memakmurkan masyarakat patut dilakukan. Usaha untuk memakmurkan masyarakat merupakan cita-cita semua ajaran agama. Demikian pula dalam agama Hindu, kita jumpai banyak ajaran-Nya, yang memberi motivasi kepada kita untuk bekerja keras, meningkatkan kesejahtraan dan kemakmuran  masyarakat.
Kitab suci Veda sebagai himpunan wahyu Tuhan Yang Maha Esa mengamanatkan: orang untuk bekerja keras, tidak malas, suka tidur dan banyak omong kosong (Ågveda VIII.48.14). Orang hendaknya suka hidup di dunia ini dengan kerja keras selama ratusan tahun (Yajurveda XL.2). Tuhan Yang Maha Esa mencintai orang-orang yang suka bekerja keras, tidak menyukai orang malas dan gampangan (Atharvaveda XX.18.3). Ketekunan berada di tangan kanan, kejayaan ada di tangan kiri (Atharvaveda VII.50.8). Tekun, bangkit, dan seberangi sungai kehidupan, tinggalkan mereka yang tidak berbudi luhur (Ågveda X.53.8). Orang yang tidak mengenal lelah, memperoleh segala macam kekayaan (Ågveda I.411.6). “Wahai orang yang berpikiran mulia, janganlah tersesat. Tekunlah bekerja dan dengan tekad yang keras mencapai tujuan yang tinggi. Bekerjalah dengan tekun untuk memperoleh kekayaan. Orang yang bersemangat, berhasil, hidup bahagia dan menikmati kemakmuran. Para dewa tidak pernah menolong orang yang bermalas-malas”(Ågveda VII. 32. 9).   Demikian pula dinyatakan: “Seseorang yang tidak memanfaatkan kesempatan,  tidak dapat memperoleh kekayaan” (Ågveda VII.32.21). “Hendaknya kekayaan diperoleh atas usaha yang jujur”  (Ågveda I.30.5.)                                     

Ajaran suci Veda tersebut tentunya dapat memberi motivasi umat Hindu untuk bekerja keras, meningkatkan kualitas kerja dan pengebdian kita kepada perusahaan, sesama karyawan maupun dalam memperteguh tali kekeluargaan sesama karyawan di lingkuan tempat kerja dan mengembangkan profesionalisme kita. Bekerja keras yang didasari dengan hati yang tulus dan Úraddhà (keimanan) yang mantap merupakan wujud dari pengamalan ajaran Karma Yoga, dan ajaran ini mendorong seseorang untuk senantiasa efektif dan kreatif dalam memenuhi tuntutan hidupnya.

Makna Karma Yoga

Swami Sivananda, seorang dokter bedah yang pernah berpraktek di Malaysia, kemudian menjadi seorang Yogi besar pada abad XX yang lalu menyatakan bahwa: Karma Yoga adalah jalan kegiatan, yaitu pelayanan tanpa pamrih yang membawa pencapaian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yoga ini merupakan penolakan terhadap buah perbuatan, pelaksananya disebut Karma-Yogin.

Karma Yoga mengajarkan kepada kita bagaimana bekerja demi untuk kerja itu sendiri, yaitu tidak terikat. Dan bagaimana menggunakan sebagian besar tenaga kita untuk keuntungan yang terbaik. Motto seorang Karma-Yogin: Kewajiban untuk kewajiban itu sendiri. Bagi seorang Karma- Yogin, kerja adalah pemujaan, sehingga setiap pekerjaan dialihkan menjadi suatu pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seorang karma-Yogin tidak terikat oleh karma, karena ia mempersembahkan buah perbuatannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, Yogaá-karmaûu-kauúalam, yoga adalah ketrampilan dalam kegiatan.

Biasanya, suatu kerja memberi buah kesenangan maupun penderitaan sebagai akibatnya. Setiap kerja menambahkan satu rantai mata rantai terhadap ikatan saýsàra kita dan membawa dan membawa pada pengulangan kelahiran. Ini merupakan hukum karma yang pasti. Tetapi, melalui pelaksanaan Karma Yoga, pahala dari karma itu dapat dihapus, dan karma menjadi mandul. Pekerjaan yang sama, apabila dilakukan dengan sikap mental yang benar dan kehendak yang benar melalui yoga, tanpa keterikatan dan pengharapan terhadap buahnya, tanpa pemikiran badan atau dengan perlakuan pikiran yang seimbang dalam keberhasilan maupun kegagalan (sàmatvam-yoga-ucyate) tidak akan menambahkan mata rantai terhadap belenggu kita. Sebaliknya, ia memurnikan hato dan membantu kita untuk mencapai kebebasan melalui turunnya penerangan Tuhan Yang Maha Esa atau merekahnya fajar kebijaksanaan.

Disiplin moral adalah mutlak dan pengendalian indria-indria adaklah sangat perlu bagi pelaksana Karma Yoga, oleh karena itu sesungguhnya Brahmacarya itu penting. Pelaksanaan kebajikan seperti toleransi, kesesuaian (harmoni), simpati, welas asih, pikiran seimbang, kasih sayang kosmia, kesabaran, ketabahan, kerendahan hati, dermawan, kemuliaan, pengendalian diri, pengendalian kemarahan, tanpa kekerasan, kejujuran, membatasi makananm, minuman dan tidur, hidup sederhana dan mantap merupakan hal yang sangat diperlukan.

Setiap orang hendaknya melakukan kewajibannya sesuai dengan varóa (profesi/swadharma) dan àúramanya (tahapan kehidupan) masing-masing. Tidak ada manfaatnya meninggalkan pekerjaannya sendiri dan condong melakukan pekerjaan orang lain. Beberapa orang berpikir bahwa Karma Yoga adalah tipe yoga yang lebih rendah. Mereka berpikir bahwa mengangkut air, mencuci piring, memberikan makanan kepada orang-orang miskin dan menyapu lantai adalah pekerjaan yang hina. Pikiran yang demikian itu adalah kesalahan besar, karena mereka tidak memahami teknik dan kemuliaan Karma Yoga. Úrì Kåûóa, penguasa ketiga dunia berperan sebagai kusir Arjuna. Bahkan beliau juga berperan sebagai seorang pengembala (1993:  127-129).

Menurut hemat kami ajaran Karma Yoga merupakan etos kerja, seperti telah kami kutipkan pada awal tulisan ini, Tuhan Yang Maha Esa hanya mencintai umat-Nya yang suka bekerja, tidak malas dan suka tidur . Bila semua pekerjaan dilakukan sebagai bentuk pelayanan dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dilandasi dengan penuh keihklasan, dan melakukan berbagai kegiatan sebagai aktivitas yajña, seperti dinyatakan dalam Bhagavadgìtà (III.10) yang mengamanatkan bahwa setiap orang hendaknya melakukan kegiatan untuk bersama memutar roda atau cakra yajña, artinya, seseorang ikhlas berbuat baik karena setiap perbuatan baik akan menghasilkan pahala kemuliaan, kini maupun kelak di kemudian hari. Bila kita turut bersama memutar roda yajña, maka hal ini merupakan salah satu jalan menuju  Tuhan Yang Maha Esa. Pada kesempatan ini kami kutipkan pula pernyataan Svami Vivekananda seratus tahun yang lalu: “Your hand on work, but your heart on God”, tangan menghadapi pekerjaan (apapun) namun hati hendaknya senatiasa menghadap Tuhan Yang Maha Esa.

Usaha Untuk Meningkatkan Efektivitas dan Kreativitas

Tujuan hidup manusia menurut sudut pandang agama Hindu adalah untuk mewujudkan Catur Purusa Artha, yakni: Dharma (kebajikan), Artha (harta benda/ material), Kàma (kenikmatan hidup) dan   Mokûa (kebebasan dan kebahagiaan abadi). Dharma merupakan landasan bagi tercapainya Artha, Kàma dan Mokûa, oleh karena itu seseorang tidak boleh berbuat melanggar atau bertentangan dengan Dharma. Mahàrûi Cànakya dalam kitabnya Nìtiúàstra (III.20) menyatakan, seseorang yang tidak mampu mewujudkan satu dari 4 tujuan hidup tersebut, sesungguhnya kelahirannya ke dunia ini hanyalah untuk menunggu kematian.
Untuk mewujudkan kemakmuran bersama, pemerintah menurut ajaran Hindu hendaknya dapat mengatur perekonomian rakyat dengan baik. Perekonomian disebut dengan istilah Vàrttà, yang menurut Kauþilya dalam bukunya Arthaúàstra (I.7) meliputi pengelolaan kekayaan negara. Perekonomian hendaknya pula didukung oleh keberhasilan pengembangan : Ànvikûikì (ideologi), Veda Trayì (Ågveda, Yajurveda dan Sàmaveda, yang menekankan keimanan dan moralitas) dan Daóîanìti (Hukum), sedang lingkup Vàrttà meliputi 4 bidang (Vàrttà Caturvidhà), yaitu : pertanian, peternakan, perdagangan dan membungakan uang seperti disebutkan dalam Bhàgavata Puràóa X.24.21 (kåûi-vàóijya-gorakûà kuûìdam tùrìyamucyate, vàrttàcaturvidhà tattra vayaý govåttayo’niúam).
Berbicara keterkaitan antara Ànvikûikì (ideologi), Veda Trayì (Ågveda, Yajurveda dan Sàmaveda, yang menekankan keimanan dan moralitas) dan Daóîanìti (Hukum), kiranya tidak jauh berbeda dengan teori sistem ekonomi modern, seperti diungkapkan oleh Dr. Winardi, S.E. dalam bukunya Kapitalisme Versus Sosialisme, Suatu Analisis Ekonomi Teoritis seperti dikutip oleh I Gede Sudibya dalam bukunya Hindu Menjawab Dinamika Zaman (1994), antara lain: “Every economic system is part of constellation of economic and political institutions and ideas and can be understood only as a part of this whole”, demikian pula pernyataan lainnya: “Economic systems comprise the ways and means by which economic welfare can be secured within the framework of social relations”. Dewasa ini kita diingatkan oleh sistem ekonomi kita yang mengalami krisis yang mulai dari krisis moneter, yang berpengaruh pada bidang-bidang yang lain seperti politik, stabilitas nasional, dan kepercayaan yang tentunya bila tidak tertangani dengan baik, akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Berbicara tentang sistem ekonomi Hindu, ada baiknya dikutipkan secara lengkap pendapat yang dikemukakan oleh cendekiawan Hindu terkemuka dan presiden pertama India, S. RadhaKrishnan, sebagai berikut: “The Hindu view of the individual and his relation to society can be best brought out by a reference to the synthesis and gradation of:
1. The fourfold object of life (Puruûàrtha: desire and enjoyment (Kàma), interest  (Artha), ethical living (Dharma), and spiritual freedom (Mokûa),
2. The fourfold order of society (Varna), the man of learning (Brahmin), of power (Kûatriya), of skilled productivity (Vaiûya), and of service Sudra, and
3. The fourfold succession of the stage of life (Aúrama), student (Brahmacari), householder (Gåhastha), forest recluse (Vanaprastha, and the free supersocial man (Sannyasin).

By means of this threefold discipline the Hindu strives to reach his destiny, which is to change body into soul, to discover the world’s potentiality for virtue and derive happiness from it”.

Jadi menurut S. Radha Krishnan, melalui realisasi nilai-nilai Catur Puruûàrtha, Catur Varna dan Catur Aúrama, umat Hindu akan mecapai tujuannya, yakni penemuan manusia terhadap jiwanya, yang mengantarkannya ke jalan Tuhan Yang Maha Esa, untuk memperoleh kebahagiaan yang sejati. Demikian pula bila secara khusus kita mengkaji dasar filosofi dari Catur Varna sebagai anatomi masyarakat, maka sesungguhnya tiap profesi bertanggung jawab untuk mewujudkan kesejahtraan masyarakat, seperti anggota badan manusia, yang sehat karena merupakan satu kesatuan (Advaita) tidak terpisahkan. Demikianlah ajaran ini merupakan pula landasan etika bisnis menurut perspektif Hindu.
Lebih jauh tentang pengelolaan penghasilan untuk mendukung hidup dan kehidupan, mahàrûi (Bhagavàn) Vararuci yang disebut juga dengan nama Katyàyana, dalam Sarasamuccaya (261-276) secara panjang lebar menjelaskan cara-cara memperoleh harta benda yang tidak boleh bertentangan dengan Dharma (kebenaran dan kebajikan). Harta benda atau penghasilan yang diperoleh melalui kerja atas dasar Dharma, hendaknya dibagi tiga, yakni masing-masing sepertiga, digunakan untuk: Dharma, mengembangkan harta dan untuk dinikmati. Untuk jelasnya kami kutipkan úloka Sarasamuccaya, sebagai berikut:

 “ekanàmcena dharmàthaá kartavyo bhùtimicchatta,
          ekanàmcena  kàmtha  ekamaýcaý  vivirddhayet”.

  “Nihan  kramaning  pinatêlu,  ikang  sabhàga,   sàdhana  rikasiddhaning dharma, ikang kapingrwaning  bhàga  sàdhana  ri  kasiddhaning Kàma ika, ikang kaping tiga, sàdhana ri kasiddhaning artha ika, wåddhyakêna muwah, mangkana kramanyan pinatiga,denika sang mahyun manggiha kênang hayu”.
Sarsamuccaya 262
(Demikian hendaknya  dibagi tiga (hasil usaha itu),  yang  satu  bagian, digunakan  sebagai  biaya  mewujudkan  Dharma,  bagian  yang  kedua digunakan  sebagai  biaya untuk memenuhi Kàma  (untuk  kenikmatan  hidup) dan bagian yang ketiga digunakan untuk mengembangkan harta melalui berbagai usaha, kegiatan ekonomi, agar berkembang lagi.Demikianlah hendaknya harta penghasilan itu dibagi tiga, oleh mereka yang menginginkan kebahagiaan).

Demikianlah sepintas tentang tujuan hidup manusia, masalah perekonomian dan pengelolaan penghasilan. Selanjutnya marilah kita bahas usaha untuk memperoleh harta benda atau kekayaan, ditinjau dari sudut pandang agama Hindu. Kitab Nìtiúàstra, karya mahàrûi Cànakya yang dikenal juga dengan nama Kauþilya, di antaranya menyatakan sebagai berikut:

“Udyoge nàsti dàridriyam”
 Cànakya Nìtiúàstra III.11.
 (Tidak ada masalah kemiskinan bagi mereka yang giat berusaha)


 “Dhana-dhanya prayogeûu vidyà saýgrahaneûu ca,
         Àhàre vyavahàra ca tyakta lajjàá sukhi bhavet”
Cànakya Nìtiúàstra VII.2.
    (Dalam urusan mencari beras dan dalam urusan keuangan,
        dalam hal menuntut ilmu, dalam hal menikmati makanan dan
        dalam hal berdagang, orang hendaknya meninggalkan rasa malu.
        Orang tersebut akan memperoleh kebahagiaan).

 Demikian pula maharûi Vararuci dalam kitabnya Sarasamuccaya menyatakan:

 “Lawan tekaping mangarjana, makapagwanang dharma ta ya”
Sarasamuccaya 261.
(Dan cara memperoleh sesuatu, hendaknyalah senantiasa berdasarkan Dharma (kebenaran dan kebajikan)
 Berdasarkan uraian tersebut di atas, juga kutipan terjemahan mantra Veda yang kami sampaikan dalam pendahuluan tulisan ini, ternyata ketekunan bekerja, bekerja dengan penuh kejujuran, termasuk tidak perlu malu dalam hal berusaha yang benar (halal) atau sesuai dengan ajaran Dharma. Ajaran agama Hindu memberi motivasi untuk tekun berusaha, melakukan kegiatan bisnis,  sebagai satu kegiatan perekonomian adalah wajar dan patut, sepanjang di dalamnya  atau kegiatan tersebut tidak merugikan konsumen, tidak ada unsur penipuan atau ketidak-jujuran seperti diungkapkan oleh Mahatma Gandhi seperti kami kutipkan dalam manggala tulisan ini. Pandangan Gandhi ini tentunya berangkat dari filsafat Vedànta, yaitu Advaita (kesatuan) dengan inti ajarannya Tattvamasi, yang memandang sesuatunya secara holistik. Pandangan ini dapat diibaratkan seperti pohon kayu yang tumbuh dan berkembang dengan batang yang semakin besar, cabang dan rantingnya yang semakin banyak, namun juga akarnya melebar ke segala arah dan menacap sangat dalam, artinya bila sebuah perusahaan berkembang pesat, maka kesejahtraan karyawan dan lingkungannya berkembang sejalan dengan perkembangan perusahaan tersebut.
Pandangan bisnis masyarakat Bali di antaranya dalam hukum jual beli, mucul adigium “berani menjual-berani membeli”, demikian dalam persaingan mengutamakan kualitas serta pelayanan dengan prinsip “sama-sama bisa hidup”, sangat dipantangkan “yang penting kami hidup, biar engkau yang mati”, karena masyarakat memandang orang lain atau pesaing adalah juga bagian dari diri dan bagian dari hidupnya.
Selanjutnya bila kita tinjau dari sudut pandang hukum Hindu, distributor independen, produsen dan konsumen seperti tergabung dalam satu perserikatan, yakni dengan pemberian diskon atau bonus kepada distributor independen dan konsumen pada derajat tertentu keberhasilannya melakukan penjualan. Hukum Hindu yang mengatur ketentuan tentang perserikatan atau perjanjian kerjasama atau penjualan bersama,  termasuk dalam Vyàvaharapàda (titel hukum): Saýbhùya-Samutthàna yang artinya perusahaan kerjasama atau persekutuan. Maksudnya adanya usaha kerja sama dengan para pihak, antar produsen atau antara produsen dengan distributor dan bahkan dengan konsumen.
Di dalam Båhaspati Småti diamanatkan persyaratan orang yang patut diajak kerja sama atau bekerja sama dalam membuat sekaligus memajukan perusahaan, yakni: “orang-orang dari keluarga yang baik (integritasnya tidak diragukan), orang-orang yang cerdas, terdidik, penuh aktivitas, rajin, fasih mengelola keuangan, ahli dalam mengatur pengeluaran dan pemasukan, jujur, memiliki keberanian, bertanggung jawab, dan perusahaan perserikatan atau joint venture, hendaknya jangan dikelola oleh orang yang yang ahli dan rajin dengan partnernya yang lemah, malas, orang yang sedang menderita karena penyakit, orang yang tidak memiliki keberuntungan, atau orang yang sangat melarat”(Båhaspati Småti dalam Sacred Books of the East, vol.33 p.336 verses 1-2).
Terjemahan úloka tersebut patut kita dikaji kembali, yakni orang-orang dari keluarga baik, maksudnya jangan sampai bekerja sama dengan mereka yang reputasinya tidak baik di dunia bisnis, di samping keseimbangan antar partner, jangan bekerja sama dengan orang yang malas, atau sedang menderita penyakit yang berat atau orang yang sangat melarat, dikhawatirkan akan terjadi penyimpangan dan banyak bukti di masyarakat, bekerja sama dengan orang yang demikian sering mengalami kegagalan disebabkan tidak ada keseimbagan dalam kerjasama.
Dalam kitab-kitab Dharmaúàstra diatur pula kewajiban para pihak yang diajak bekerja sama, termasuk dalam hal perusahaan mengalami kerugian karena berbagai faktor, misalnya ditimpa musibah, atau adanya peraturan baru dari pemerintah. Penjualan asset dan lain sebagainya.
Selanjutnya aktivitas bisnis bila kta tinjau dari ajaran karma (Karmayoga dalam Bhagavadgìta), maka melakukan kerja apapapun yang dipandang benar menurut ajaran agama hendaknya dilakukan dengan penuh keikhlasan, kebaktian, pelayanan dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berikut kami kutipkan úloka yang menegaskan hal tersebut:  

“yat karosi yad aúnàsi yaj juhoûi dadàsi yat,
     yat tapasyasi kaunteya tat kuruûva mad arpanam”
Bhagavadgita IX.27
    (Apapun yang engkau kerjakan, apapun yang engkau makan,
        yang engkau persembahkan, dan engkau amalkan. Displin diri
        dan pertapaan apapun yang engkau lakukan, laksanakanlah wahai
        Arjuna, hanya sebagai bentuk bhakti dan persembahan kepada Aku).

Adapun maksud úloka di atas adalah melakukan segala tugas dan kewajiban atau pekerjaan dan disiplin diri hanya sebagi bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karma Marga atau jalan kerja untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa berawal dari melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing dengan sebaik-baiknya. Segala usaha bila dilakukan dengan sebaik-baiknya, tentunya akan mendapat rakhmat dari Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan melakukan segala pekerjaan yang menjadi tugas masing-mamsing-mamsing dengan baik, maka di dalamnya akan muncul efektivitas dalam menangani pekerjaan tersebut serta kreativitas untuk mengembangkannya. Efektivitas dan kreativitas adalah sikap dan perilaku yang dapat mempertimbangkan keseimbangan antara apa yang dikeluarkan atau dihabiskan sebagai biaya dan apa yang diperoleh sebagai hasil guna. Ini diwujudkan dalam perilaku tidak membuang waktu, tenaga, dana, dan pikiran sehingga diperoleh hasil yang sebesar-besarnya sesuai dengan ciri-cirinya. Perilaku ini diwujudkan dalam hubungannya dengan diri sendiri dan orang lain dengan mencari trobosan-trobosan yang tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

Kratve dakûàya suprajàvatìm iûam.
Ågveda  I. 111. 2
‘Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkahi kami dengan berlimpahnya makanan untuk aktivitas kami dan efektif dalam melaksanakan pekerjaan kami’

Suatu hari Sang Hyang Úiva memberi tahu kedua putranya Kumara dan Gaóeúa untuk berlomba mengelilingi alam semesta. Siapa yang lebih dulu sampai akan diberikan hadiah yang sangat bagus. Perlombaan segera dilaksanakan dan sebagai juri adalah dewi Umà, úakti dewa Úiva. Demikian segera saja dewa Kumara yang dikenal dengan berbagai nama seperti Skanda, Muruga, Kartikeya dan Subrahmaóya segera mengedarai burung mayura (merak) yang merupakan wahananya. Demikian cepat melayang ke arah Timur, ternyata Gaóeúa diam saja. Dewi Umà segera memerintahkan Gaóeúa untuk mengelilingi alam semesta ini. Ternyata ia hanya mengelilingi tubuh dewa Úiva. Ketika Gaóeúa ditanya mengapa ia melakukan hal itu. Jawaban Gaóeúa adalah demi efisiensi saja. Mengapa, karena tubuh dewa Úiva yang sebenarnya adalah alam semesta atau jagat raya ini. Dengan mengelilingi badan dewa Úiva berarti Gaóeúa sudah mengelilingi seluruh alam semesta, badan materi dewa Úiwa, oleh karena itu dewa Úiva disebut  juga dengan nama Bhuvaneúvara atau Bhuvanaúarìra.

Simpulan

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa makna Karma Yoga adalah memandang kerja atau pekerjaan yang dilaksanakan sebagai bentuk bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan menyerahkan sepenuhnya hasilnya kepada-Nya dan mengerjakan pekerjaan dengan baik, sesungguhnya kearifan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut akan menumbuhkan efektivitas dan krativitas. Kerja sebagai bentuk bakti di India disebut sevaka dan di Bali disebut ngayah yang dalam melaksanakannya tidak berpikir untuk mendapatkan upah atau pahala untuk pekerjaan itu, karena pahalanya berupa kebahagiaan ketika melakukan pekekrjaan itu.

DAFTAR PUSTAKA


Dharmayasa, I Made. 1995.Canakya Nìitiúàstra,Denpasar: Yayasan Dharma Naradha.

Kadjeng, I Nyoman. 1997.  Sarasamuccaya, Surabaya: Paramita.

Kane, Pandurang Vaman. 1973 History of Dharmaúàstra, Vol.  III, Second Editian, Poona, India : Bhandarkar Oriental Research Isntitute,

Maswinara, I Wayan.1997.Bhagavadgita, Surabaya: Paramita.

Narendra Nath Law. 1990. Studies in Indian History and Culture, Delhi: A Venture of Low Price Publications.

Prabhu, R.K.&Rao, U.R. 1987. The Mind of Mahatma Gandhi, Ahmedabad-14, India: Navajivan Publishing House.

Ranggarajan, L.N. 1990. Kautilya, The Arthasashtra, New Delhi: Pinguin Classics, Pinguin Books

Sudibya, I Gde. 1995. Hindu, Menjawab Dinamika Zaman, Denpasar: Bali Post,

Titib, I Made. 1996. Veda, Sabda Suci, Pedoman Praktis Kehidupan, Surabaya: Paramita.

--------------------------------
*Makalah disampaikan pada acara Pengasraman Pegawai Bank Tabungan Negara,tanggal 23 Maret 2005 bertempat di Wisma PLN Wilayah Bali, Bedugul, Bali.

** Lektor Kepala dan mantan Ketua Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Denpasar (hari ini diresmikan menjadi Institut Hindu Negeri Denpasar),dan Direktur Urusan Agama Hindu pada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha, Departemen Agama R.I. di Jakarta, juga Perwira TNI-AD (1978-1986) dan kini Ketua I Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat (2001 –2006)



 sumber: http://www.parisada.org






EmoticonEmoticon