19 Januari 2014

Seimbangkan Beragama ke Luar dan ke Dalam Diri

Seimbangkan Beragama ke Luar dan ke Dalam Diri
Iha camutra wa kamyam
prawrttam karma kirtyate
niskamam jnanapurwam
tu niwrttamupadicyate.
(Manawa Dharmasastra.XII.89)
Maksudnya: Pengertian perbuatan-perbuatan yang menjamin tercapainya harapan-harapan di dunia ini atau di waktu mendatang disebut prawrtta. Tetapi perbuatan-perbuatan yang dilakukan tanpa keinginan akan pahalanya didahului dengan penentuan ilmu disebut niwrti.
UMAT Hindu dalam melakukan kegiatan beragama Hindu nampaknya lebih banyak kecenderungannya di luar dirinya atau disebut Prawrti Marga. Kegiatan itu seperti melangsungkan upacara yadnya dengan banten-nya yang serba besar dan banyak serta dengan waktu berlama-lama dengan melibatkan tenaga yang kolosal. Demikian juga perayaan hari raya agama dengan kemeriahan sosial budaya yang kadang-kadang berlebihan. Demikian juga melakukan tirthayatra yang kadang-kadang sulit dibedakan dengan berpelesiran. Banyak hal itu dilakukan dengan pemahaman yang sangat dangkal dan tak nyambung dengan tattwa yang dikemas dalam kegiatan tersebut seperti yang tertera dalam pustaka sastranya. Kegiatan beragama Hindu yang tergolong Prawrti Marga itu tentunya akan baik dan wajib dilakukan sepanjang dilakukan dengan baik, benar dan wajar sesuai degan petunjuk sastranya.
Di samping itu kegiatan Prawrti Marga itu akan amat bermakna apabila dilakukan seimbang dengan kegiatan Niwrti Marga yaitu beragama ke dalam diri. Dewasa ini paradigma beragama yang seimbang sedang tumbuh dalam masyarakat. Cuma yang perlu dilakukan lebih serius adalah mendorong keseimbangan tersebut secara sadar dan berencana. Dengan tumbuhnya berbagai pasraman dan berbagai kelompok spiritual Hindu, lewat hal itulah kita mengharapkan adanya keseimbangan arah beragama Hindu tersebut. Ritual itu hendaknya menjadi media penguatan spiritual untuk diaktulisasikan meningkatkan kualitas kehidupan individual, sosial dan kelestarian natural. Keseimbangan itu akan menjadikan agama sumber peningkatan mutu hidup dalam segala aspeknya.
Beragama Hindu itu hendaknya dapat dilakukan dengan seimbang antara beragama ke luar diri dan beragama ke dalam diri, seperti dinyatakan dalam Sloka Manawa Dharmasastra XII.89 dan Bhagawad Gita XVIII.80.
Yang dimaksud dengan beragama keluar diri atau Prawrti itu adalah beragama menggunakan semua ciptaan Tuhan yang ada di luar diri manusia. Seperti alam lingkungan dan semua makhluk hidup ciptaan Tuhan yang ada di bhuwana agung ini. Demikian juga mendekatkan diri pada yang tertinggi dan tersempurna jiwa agung alam semesta yang disebut Brahman. Sedangkan beragama dalam diri atau Niwrti adalah beragama dengan menggunakan segala hal yang ada dalam diri kita sendiri terutama atman jiwa dari bhuwana alit.

Upanishad menyatakan: Brahman atman aikyam. Artinya, brahman dan atman adalah sama. Beragma Hindu itu adalah upaya untuk menemukan antara atman yang diselubungi oleh Panca Maya Kosa dengan Brahman yang transenden dan imanent dalam bhuwana agung. Beragama yang Niwrti itu juga menggunakan unsur-unsur dalam diri seperti tingkat kesadaran budhi, kadar kecerdasan intelektual, kadar kepekaan emosional dan keadaan indria dengan semua unsur badan jasmani sebagai perlengkapannya. Beragama dengan Prawrti pun sering konteksnya tidak konek dengan teks sastra sebagai acuan melakukan kegiatan ritual dan seremonial agama Hindu. Misalnya semua upacara yadnya dan hari raya agama Hindu itu tidak ada yang mengajarkan agar umat mengumbar indrianya atau media berhura-hura mengumbar nafsu. Justru ritual Hindu yang sakral itu sebagai media untuk mulatsarira menguatkan daya spiritual.

Daya spiritual itu untuk mengarahkan hati yang cerah, kecerdasan intelektual dan kehalusan emosi. Semuanya itu dapat berdaya guna untuk mengatualisasikan kasih sayang berdasarkan dharma. Hal ini akan terjadi seimbang apabila kegiatan Niwrti itu melakukan pengawasan kesadaran hati nurani untuk memberi pencerahan pada laku intelektual sehingga pikiran yang cerdas itu untuk kebenaran dan kebaikan bersama. Tidak memanjakan pikiran dan perasaan untuk berekspresi tanpa kendali daya spiritualitas. Itulah bentuk beragama yang Niwrti. Jangan kegiatan Prawrti itu justru menutup kegiatan Niwrti. Misalnya melakukan kegiatan beragama yang berhura-hura tanpa dasar sastra. [Weda Wakya - Ketut Wiana, Balipost Minggu, 3 November 2013].


EmoticonEmoticon