22 Juni 2014

Penggabungan Holistik Sains dan Spiritualitas

Ilmu Pengetahuan ilmiah selalu berada dalam keadaan perubahan. Penemuan ilmiah yang baru akan meruntuhkan hipotesis sebelumnya. Sebuah contoh yang baik dalam hal ini adalah upaya manusia untuk menjelaskan fenomena cahaya. Sebelum bangkitnya ilmu pengetahuan, manusia mengandalkan pengalaman religius dan filsafat untuk memahami tentang cahaya dan kosmos. Alkitab menyatakan alam semesta dimulai ketika Tuhan berkata, “Jadilah terang” Teks-teks agama kuno sepanjang sejarah telah mengkaitkannya dengan cahaya kesadaran ilahi – kesadaran dari mana segala sesuatu, termasuk semua kesadaran lain, berasal. Alkitab juga menyatakan, “Tuhan adalah cahaya” Ilmu pengetahuan telah menemukan bahwa cahaya itu terserap pada awal munculnya alam semesta. Para ilmuwan baru-baru ini telah menemukan apa yang disebut “Partikel Tuhan”- partikel yang memberi massa pada semua partikel. Partikel ini sangat penting bagi ilmu fisika karena itu bisa dianggap sebagai “Pemahaman akhir dari struktur semua material.”Persamaan terkenal dari Albert Einstein E = mc 2 (di mana E adalah energi, m untuk massa dan c adalah kecepatan cahaya) menggambarkan kekuatan yang luar biasa dari energi yang menyatukan semua atom bersama-sama. Anehnya, Alkitab mendukung persamaan Einstein ketika menyatakan bahwa “Tuhan adalah kekuatan tak terlihat yang menyatukan segala sesuatu bersama-sama.” Pandangan transenden dari kesadaran adalah dasar dari agama-agama besar dunia. Jadi tidak mengherankan bahwa beberapa fisikawan kuantum dipengaruhi oleh agama-agama. Erwin Schrodinger , misalnya, mempelajari Hindu, Werner Heisenberg mengacu pada teori Plato dari Yunani kuno, Niels Bohr tertarik pada Tao, Wolfgang Pauli kepada Kabbalah; dan Max Plank kerap mengacu pada ajaran Kristen
1. Penggabungan Holistik Sains dan Spiritualitas
Penemuan ilmiah terhadap sifat cahaya adalah landasan utama dari fisika modern dan hukum alam. Ini juga merupakan dasar dari penelitian pengalaman mendekati kematian dan penelitian tentang kesadaran modern. Selama berabad-abad, ilmu pengetahuan telah menghasilkan beberapa hasil yang sangat tidak biasa, sifat yang hampir “Seperti Tuhan,” pada sifat cahaya. Baru-baru ini ditemukan “Partikel Tuhan(God Particle)”- partikel yang sulit dipahami yang memberikan massa untuk setiap partikel lainnya – adalah salah satu penemuan terbesar dalam ilmu pengetahuan. Cahaya meresap pada saat Big Bang. Cahaya adalah sesuatu yang tercepat di alam semesta. Dibutuhkan jumlah tak terbatas energi untuk memindahkan sebuah objek dengan kecepatan cahaya. Pada kecepatan cahaya, masa lalu, masa kini, dan masa depan semua ada secara bersamaan. Jika seseorang bisa bepergian dengan kecepatan cahaya, maka ia akan menjadi abadi. Ada juga teori kuantum superposisi dimana materi bisa eksis di lebih dari satu tempat pada saat yang sama – yang membuat fenomena anomali seperti NDE dan OBEs menjadi sangat mungkin. Fisikawan yang telah melakukan eksperimental menunjukkan bahwa dua partikel dapat dipisahkan, dan tidak peduli dengan seberapa jauh mereka terpisah (bahkan miliar mil), perubahan dalam satu partikel langsung menciptakan perubahan simultan pada partikel lain seolah-olah mereka saling terhubung. Fenomena ini disebut “belitan kuantum” yang Einstein sebut sebagai “Kejadian menyeramkan dari kejauhan “dan fenomena sugestif dari realitas yang para fisikawan belum mampu menjelaskan meskipun ada banyak teori. Cahaya juga memiliki “kepribadian ganda” yang hadir baik sebagai partikel maupun gelombang. Alasan kita bisa melihat adalah karena pengamatan kita yang mengkonversi gelombang cahaya ini menjadi partikel cahaya sehingga membuat ‘kesadaran’ manusia menjadi faktor penting dalam melihat sebuah realitas.
Carl Jung (1875-1961) ahli psikolog Swiss dan juga pernah megalami mati suri. Ia adalah orang pertama yang mendirikan psikologi analitis, ia terkenal karena konsep psikologis termasuk arketipe, alam bawah sadar, analisis mimpi kolektif, dan sinkronisitas. Minatnya dalam filsafat dan metafisika membuat banyak orang melihatnya sebagai mistikus. Setelah diskusi dengan Albert Einstein dan Wolfgang Pauli (dua pendiri fisika kuantum) Jung percaya bahwa ada persamaan antara sinkronisitas, relativitas waktu dan hubungannya dengan kesadaran.
Para ilmuwan menemukan bagaimana realitas objektif adalah tidak lebih dari sebuah ilusi daripada realitas yang terlihat. Pada tingkat yang lebih dalam, segala sesuatu – atom, sel, molekul, tanaman, hewan, dan orang-orang terhubung dalam sebuah “jaringan informasi yang mengalir.” Pada tingkat kuantum, “pengamat menjadi bagian dari yang diamati” dan perbedaan antara pengamat dan objek menjadi menghilang. Ruang dan waktu adalah konsep yang kita bawa bersama kita ke tingkat kuantum, tetapi mereka tampaknya tidak ada di sana. Waktu mengalir baik maju maupun mundur secara simetris menurut relativitas – konsep ini membuat perjalanan waktu menjadi satu keniscayaan. Dan karena semua materi, termasuk otak dan tubuh kita, sebagian besar terdiri dari ruang kosong, dan karena struktur atom digerakkan oleh energi atom, kasus-kasus metafisik dapat dijelaskan bahwa kita sebagian besar terdiri dari sesuatu yang non-fisik “roh.” Pada tingkat kuantum, lokal menjadi nonlokal dan semuanya dapat dianggap sebagai tidak berada di tempat tertentu pada waktu tertentu. Apa yang kita “lihat” di luar sana lebih berkaitan dengan kesadaran kita sendiri dan “pengalaman subyektif” dari apa yang mungkin ada sebenarnya “di luar sana”. Mengingat temuan ini, kita harus menyimpulkan bahwa pengertian kita terhadap realitas obyektif adalah kesalahan. Fisikawan yang menemukan hukum-hukum fisika adalah hukum-hukum pikiran kita sendiri.
Salah satu teori yang paling menarik adalah “prinsip holografik” yang mendefinisikan alam semesta sebagai sebuah, hologram raksasa di mana semuanya terhubung dengan segala sesuatu yang lain termasuk pikiran kita. Secara Metafisik dikatakan, otak memproses informasi kosmik dalam bentuk hologram atau bisa kita sebut sebagai “Mata pikiran”. Prinsip holografis berasal dari salah satu fisikawan teoritis yang paling signifikan dari abad ke-20, David Bohm . Neurofisiolog bernama Karl Pribram secara simultan menemukan model holografik dari pikiran dan otak pada saat yang sama ketika David Bohm mengembangkan model holografik tentang alam semesta. Anehnya, model-model holografik dapat menjadi dasar bagi semua pengalaman mistis termasuk NDE. Model hologram merupakan bagian dari paradigma baru yang muncul yang disebut “holisme” yang merupakan kebalikan dari reduksionisme. Ini adalah paradigma di mana semua sistem alamiah – fisika, biologi, kimia, sosial, ekonomi, dan lain-lain, harus dipandang sebagai satu kesatuan dan bukan jumlah dari bagian-bagiannya. Sebuah teori yang sesuai dengan kesadaran kuantum yang dikembangkan oleh karya bersama dua fisikawan teoritis, Sir Roger Penrose , dan ahli anestesi Stuart Hameroff . Seperti hal nya David Bohm dan Karl Pribram, Penrose dan Hameroff mengembangkan teori mereka secara sinkron. Penrose mendekati kesadaran dari sudut pandang matematika, sedangkan Hameroff mendekati berdasarkan keahliannya dalam bidang anestesi yang memberinya minat dalam memahami struktur otak. Kesadaran Quantum adalah teori kesadaran yang mendasari dan menghubungkan semua orang dan segala sesuatu dan didasarkan pada kenyataan bahwa medan kuantum dapat diartikan sebagai berjarak tidak terbatas.
Carl Jung menyebut hubungan antara semua kehidupan sebagai “ketidaksadaran kolektif “yang juga dikenal sebagai” bawah sadar kolektif. ” Jung berteori bagaimana sinkronisitas melayani peran yang mirip dengan mimpi, dengan tujuan menggeser pemikiran sadar egosentris seseorang untuk keutuhan yang lebih besar. Jung terpaku oleh gagasan kehidupan bukan sebagai serangkaian kejadian acak melainkan sebuah ekspresi dari suatu tatanan yang lebih dalam, yang ia dan Wolfgang Pauli disebut sebagai “satu dunia “- sebuah istilah yang mengacu pada konsep realitas terpadu yang mendasari alam semesta dari mana segala sesuatu muncul dan kembali. Jung percaya prinsip “satu dunia” yang mendasari yang dapat mengekspresikan dirinya melalui sinkronisitas dan merupakan dasar untuk mistisisme kuantum . Teori kuantum seperti interpretasi banyak-dunia mekanika kuantum dan banyak teori-pikiran sesuai yang mendukung paradigma baru ini. Teori kuantum juga mendukung teori keabadian kuantum yang secara teoritis membuat keabadian non-fisik atau “jiwa” menjadi mungkin. Jika seseorang memandang kesadaran sebagai fundamental, non-fisik, bagian dari alam semesta, menjadi mungkin untuk membayangkan bahwa kita terus ada setelah kematian dalam alam semesta paralel kesadaran. Ini adalah paradigma kuantum holografik dan menganggap fenomena anomali seperti NDE berada dalam wilayah satu kemungkinan
Sama mengejutkan adalah bagaimana pengalaman “pertemuan dengan cahaya” di dunia lain saat NDE ternyata sesuai dengan paradigma baru yang ditemukan dalam prinsip-prinsip fisika kuantum. Mekanika klasik yang melibatkan mengamati, berteori, dan memprediksi tidak bekerja dengan baik ketika masuk ke dalam pemahaman tentang cahaya, kesadaran, dan pengalaman subyektif – terutama ketika menyangkut NDE. Paradigma lama memungkinkan kaum materialis dan skeptis untuk menganggap NDE sebagai hanya disebabkan oleh anomali otak – meskipun penyebab NDE tidak relevan apakah merupakan pengalaman akhirat yang nyata atau tidak. Namun demikian, baru-baru ini studi NDE telah mengesampingkan anomali otak . anomali otak adalah efek samping dari pengalaman mendekati kematian dan bukan penyebab dari pengalaman tersebut. Bahkan jika kita menganggap NDE menjadi hanya sebuah reaksi kimia di otak, tidak ada dari setiap deskripsi pengalaman manusia yang bisa begitu saja direduksi menjadi sekedar proses biologis, tapi ini sama sekali tidak mengimbangi arti pengalaman ini bagi mereka yang memiliki pengalaman tersebut – apakah itu jatuh cinta, atau berduka, atau memiliki bayi, atau mendekati kematian dan memiliki pengalaman transendental
Teori fisika kuantum mendukung gagasan alam semesta kita sebagai sebuah semesta sadar di mana semua kesadaran lainnya adalah fraktal dari Satu Kesadaran tersebut. Banyak ilmuwan tidak lagi percaya pada alam semesta yang terjadi secara acak yang berasal beberapa jenis debu primal. Penerima hadiah Nobel bidang biologi molekuler Christian de Duve menggambarkan alam semesta sebagai memiliki struktur kosmik penting untuk mengembangkan kehidupan sadar. Struktur molekul yang menyusun makhluk hidup sangat mendikte evolusi kehidupan sadar. Astrofisikawan Fred Hoyle setuju bagaimana hukum-hukum dasar alam semesta mengatur pembentukan planet, matahari dan galaksi yang menyiratkan kehidupan sadar akan hasil akhir dari hukum-hukum universal. Ahli biologi evolusi Rupert Sheldrake bahkan melangkah lebih jauh, menggambarkan bagaimana “bentuk morphic” – pola energi yang pertama kali muncul di alam semesta – muncul dalam kehidupan. Jika teori-teori yang menarik ini adalah benar, maka ada kemungkinan untuk menerapkannya pada dimensi lain dari realitas yang terdiri dari partikel subatom dasar lainnya. Fenomena anomali seperti NDE kemudian menjadi seperti “fantasi” dan lebih sebagai persepsi makhluk sadar di realitas lain yang dapat diprediksi oleh ilmu pengetahuan modern. NDE mungkin hanyalah aplikasi klinis dari percobaan fisikawan yang telah ditemukan di laboratorium
Misalnya, seorang astrofisikawan Eropa dengan nama Metod Saniga menggunakan penelitian NDE untuk mengembangkan model matematika dari waktu yang tampaknya menawarkan solusi untuk masalah yang mengganggu sejak Einstein. Secara singkat, Dr Saniga mendokumentasi secara serius kesaksian para nders ketika mereka menggambarkan pengalaman di alam di mana “waktu berhenti” dan di mana beberapa dari mereka “melihat masa lalu, sekarang, dan masa depan secara bersamaan.” Dr Saniga menggambarkan wilayah ini sebagai “Kehadiran/moment Murni.” Dr Saniga menggunakan pengalaman-pengalaman anomali ini untuk menjelaskan model matematika tunggal yang dapat menjelaskan baik secara konvensional dan luar biasa cara manusia mengalami waktu
Pelopor dari paradigma baru ilmu pengetahuan, Albert Einstein, mungkin masih memiliki paradigma lama dalam pikirannya ketika ia berkata, “Semua pengetahuan tentang realitas dimulai dari pengalaman dan berakhir di dalamnya.” Paradigma lama menyangkal berbagai macam pengalaman subyektif berlaku seperti NDE, OBEs, dan pengalaman mistik. Kelemahan paradigma lama mulai muncul ketika, pada tahun 1982, sebuah tim peneliti dipimpin oleh fisikawan Alain Aspect melakukan suatu eksperimen yang mungkin berubah menjadi salah satu eksperimen yang paling penting dari abad ke-20. Mereka menemukan partikel subatomik mampu untuk tetap terkoneksi satu sama lain terlepas dari jarak yang memisahkan mereka – bahkan jika jarak itu miliaran mil. Temuan Aspect sepertinya melanggar teori yang lama dipegang yaitu ketidakmungkinan melakukan perjalanan lebih cepat dari cahaya. Ini adalah temuan sugestif dari tingkat realitas yang lebih dalam di mana segala sesuatu di alam semesta ini ternyata saling berhubungan secara tak terbatas. Temuan Aspect dipengaruhi oleh salah satu fisikawan teoritis yang paling signifikan dari abad ke-20, David Bohm , untuk mengembangkan teori matematika yang mendalam di mana semua keterpisahan yang tampak di alam semesta menjadi sebuah ilusi. Teori Bohm, yang dikenal sebagai Prinsip Holographic , menggambarkan alam semesta sebagai hologram raksasa yang sangat detail.
Sebuah contoh dari hologram muncul pada film “Star Wars” ketika gambar hologram ilusi dari Putri Lea diproyeksikan oleh robot R2D2. Gagasan realitas sebagai ilusi ada pada masyarakat adat kuno yang percaya eksistensi adalah mimpi atau ilusi. Perkembangan modern dalam ilmu pengetahuan telah menyebabkan fisikawan teoretis untuk melihat realitas dengan cara yang sama – sebuah realitas yang terdiri dari matriks, grid, virtual reality, simulasi dan hologram.
Sebuah alam semesta holografik yang menjelaskan supersimetri ditemukan di alam semesta dan menunjukkan bagaimana, pada tingkat kuantum, segala sesuatu – atom, sel, molekul, tanaman, hewan, dan orang-orang berada dalam sebuah jaringan informasi yang mengalir dan terhubung. Misalnya, elektron dalam atom karbon dalam otak manusia terhubung dengan partikel subatomik pada setiap otak manusia lainnya – bahkan dengan setiap bintang di langit. Alam semesta akhirnya dapat dipandang sebagai satu jaringan yang saling terhubung. Dalam alam semesta holografik, waktu dan ruang menjadi ilusi. Masa lalu, masa kini, dan masa depan semua ada secara bersamaan, ini menunjukkan kemungkinan bahwa ilmu pengetahuan suatu hari nanti dapat mencapai ke tingkat holografik dari realitas dan memutar kembali adegan-adegan dari masa lalu yang sudah lama terlupakan – sebuah fenomena yang telah didokumentasikan dalam penelitian NDE tentang peninjauan kehidupan.
Aspek lain dari alam semesta holografik adalah bukti matematis bahwa “setiap bagian dari hologram mengandung semua informasi yang dimiliki oleh keseluruhan.” Jika kita mencoba menguraikan sesuatu yang tersusun secara holografik, kita tidak akan mendapatkan potongan informasi, kita hanya akan mendapatkan keutuhan yang lebih kecil. “Keseluruhan dalam setiap bagian” dari sifat alam semesta holografik dapat menjadi dasar untuk pengalaman mistik seperti NDE. Hal ini juga sesuai dengan pandangan mistisisme Timur bahwa semua kesadaran yang ada sebagai bagian dari Yang Satu dan Menyeluruh di semua kesadaran. Paradigma holografik ini mendukung prinsip-prinsip matematika yang ditemukan dalam geometri fraktal dan konsep metafisik jiwa fraktal non-fisik yang ada di alam semesta fraktal. Alam semesta holografik secara teoritis dapat dipandang sebagai Matrix yang membawa ke dalam keberadaan segala sesuatu di alam semesta kita: semua materi dan energi – dari atom, sistem tata surya, galaksi untuk, dll. Matrix seperti ini bisa dilihat sebagai semacam gudang kosmik dari “Segalanya”atau konsep metafisik dari” medan Akashic . ” Seperti Matrix dari “semua informasi” juga bisa menjadi dasar bagi ulasan kehidupan saat NDE. David Bohm percaya bahwa tingkat holografik dari realitas mungkin hanya “sekadar satu tingkatan” yang di luarnya terletak ” pengembangan lebih lanjut yang tak terbatas.” Menurut fisikawan Fred Alan Wolf , NDE dapat dijelaskan menggunakan model holografik mana kematian hanyalah sebuah pergeseran kesadaran seseorang dari satu dimensi hologram ke dimensi yang lain. Craig Hogan, fisikawan Fermilab, bahkan meneliti lebih dalam tentang alam semesta holografik ketika ia menemukan bukti alam semesta holografik dalam data detektor gelombang gravitasi.

Oleh : Kevin Williams


EmoticonEmoticon