18 Juli 2014

HOṀA YAJÑA /AGNIHOTRA

Oṁ Swastyastu
Yatrā suhārdāṁ sukṛtam – agnihotrahutaṁ yatrā lokaḥ, taṁ lokaṁ yamniyabhisambhuva  sā no ma hiṁsit puruśān paśuṁūca – Di mana mereka yang hatinya mulia bertempat tinggal,  orang yang pikirannya damai dan mereka yang mempersembahkan Agnihotra, di sanalah majelis (pimpinan masyarakat) bekerja dengan baik, memelihara masyarakat, tidak menyakiti mereka dan binatang ternaknya.  Atharvaveda XXVIII.6
A. Hoṁa  Yajña/Agnihotra dalam kitab suci Veda dan susastra Sanskerta
Sumber tertua tentang ūpacāra Hoṁa  Yajña/Agnihotra dapat kita jumpai dalam kitab suci Veda khususnya kitab Ṛgveda X.66.8. Demikian pula kitab Atharvaveda VI.97.1 dan yang lain-lain yang secara tradisional oleh umat Hindu di India disebut Yajña atau Yaga. Jadi bila di India kita mendengar umat Hindu melakukan Yajña atau Yaga yang dimaksud tidak lain adalah Agnihotra walaupun secara leksikal pengertian Yajña atau Yaga jauh lebih luas dibandingkan dengan Agnihotra. Agnihotra dalam pengertian leksikal (masculinum, neutrum dan femininum) yang dimaksud persembahan suci kepada Sang Hyang Agni (api suci) teristimewa adalah persembahan susu, minyak susu dan susu asam. Ada dua macam Agnihotra yaitu yang dilakukan secara rutin (konstan) umumnya 2 kali sehari pagi dan sore (nitya atau nityakāla) dan Agnihotra yang dilakukan secara insidental (kāmya atau naimitikakāla/Monier, 1993: 6).
Istilah yang lain untuk Hoṁa  Yajña/Agnihotra adalah Huta (persembahan kepada Sang Hyang Agni) oleh karena itu kita mengenal pula istilah Hotṛi yang juga berarti api. Agnihotra juga disebut Havan dan kata Havani berarti sendok (yang dalam bahasa Sanskerta disebut Juhu) untuk menuangkan persembahan cair. Nama Hoṁa  mengandung arti persembahan berbentuk cairan yang dituangkan ke dalam api suci (Loc.Cit.). Sumber-sumber lainnya tentang ūpacāra Agnihotra adalah kitab-kitab Brāhmaṇa di antaranya Kauśītaki, Sathapatha, dan Aitareya Brāhmaṇa. Selanjutnya bila kita melihat-kitab-kitab Sūtra khususnya tentang Kalpasūtra, Gṛhyasūtra, Śrautasūtra dan lain-lain selalu kita menemukan informasi tentang betapa pentingnya ūpacāra Hoṁa  Yajña/Agnihotra ini. Kitab-kitab Śrautasūtra  (Aśvalāyana S.S.II.1.9, Saṇkhāyana S.S.II.1, Lāthyāyana S.S.IV.9.10., Kātyāyana S.S.IV.7-10., Mānava S.S.I.5.1., Vārāha S.S.I.4.1., Baudhayana S.S.II., Bhāradvāja S.S.V., Āpastamba S.S.V.1., Hiraṅyakeśi S.S.III.1-6, Vaikhānasa S.S.I, Vādhūa S.S.1.,Vaitāna S.S.5-6) menggambarkan bermacam-macam bentuk tentang persembahan Hoṁa  Yajña / Agnihotra yang secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut: Seorang pelaksana Agnyadhāna hendaknya setiap hari mempersembahkan persembahan kepada api suci Agnihotra pagi dan sore hari apakah dilakukan oleh perseorangan atau di bawah pimpinan seorang Adhvaryu. Bila tiada seorang Adhvaryu yang memimpin, kepala keluarga dapat melakukannya teristimewa pada waktu bulan purnama dan bulan baru terbit. Dari kitab-kitab Śrautasūtra  dan juga kitab Brāhmaṇa kita mendapat informasi tentang betapa pahala yang diperoleh bagi mereka yang mempersembahkan atau melaksanakan ūpacāra Agnihotra, dinyatakan bahwa segala keinginannya akan tercapai. Api suci hendaknya tetap menyala pada rumah-rumah para Gṛhastha. Mereka yang secara rutin melakukan Agnihotra, maka kemakmuran akan dapat terwujud. Agnihotra dengan mempersembahkan biji-bijian, minyak susu, susu, susu asam dan lain-lain yang kini di India disebut Samagri, diikuti dengan pengucapan mantram-mantram, terutama mantram Veda dan hendaknya dilakukan seseorang selama hidupnya atau sampai mencapai tingkatan hidup sebagai Saṁnyāsin (Ram Gopal, 1983: 535). Hoṁa  Yajña/Agnihotra merupakan persembahan wajib yang dilakukan oleh setiap Gṛhastha  karena hanya Gṛhastha secara sempurna dikatakan dapat melakukan Yajña dan Agni yang dimaksud dalam Agnihotra adalah Tuhan Yang Maha Esa yang bila dilaksanakan pada pagi hari maka persembahan itu ditujukan kepada Sūrya, mantram yang selalu diucapkan adalah:
Oṁ Bhūr Bhūvaḥ Svaḥ Oṁ Sūrya Jyotiḥ Jyotiḥ Sūrya Svaha  dan bila dilakukan sore hari (menjelang malam) ditujukan kepada Agni dengan mengucapkan mantram:
Oṁ Bhūr Bhūvaḥ Svaḥ Oṁ Sūrya Jyotiḥ Jyotiḥ Agni Svaha (Abhinash Chandra Das, 1979: 493).
Selanjutnya dalam kitab-kitab Itihāsa dan Purāṇa dan juga kitab-kitab Agama atau Tantra, ūpacāra Agnihotra senantiasa dilaksanakan dan tentu pula mantram yang digunakan, di samping mantram-mantram Veda adalah mantram-mantram yang bersifat Pauranic, Agamic atau Tantrik. Kini kita melihat umat Hindu di India, bahwa setiap kegiatan ūpacāra, maka ūpacāra Agnihotra senantiasa merupakan persembahan yang istimewa, artinya dalam perkawinan, ūpacāra kematian, ūpacāra Śarīra Saṁskara (yang di Indonesia disebut Manusa Yajña) dan pada hari-hari raya keagamaan, ūpacāra Agnihotra senantiasa dilaksanakan. Bagi Sampradaya Arya Samaj yang didirikan oleh Swami Dayananda Sarasvati (1875) maka ūpacāra ini merupakan kewajiban suci yang mesti dilaksanakan.
B. Hoṁa  Yajña/Agnihotra menurut sumber Jawa Kuno (Kawi)
Bila kita membuka sumber tertua Jawa Kuno, maka dalam bagian awal dari kakawin Rāmāyana, yakni ketika prabhu Daśaratha memohon kelahiran putra-putranya dipimpin oleh Maharsi Ṛṣyaśṛṅga keturunan Gadhi kita mendapatkan informasi tentang ūpacāra Agnihotra sebagai berikut:
  • Saji ning yajña ta humadang, śrī wṛkṣa samiddha puṣpa gandha phala,
    dadhi ghṛta kṛṣṇatila madhu. mwang kuśāgra wṛtti wetiḥ (24)
  • Lumekas ta sira mahoṁa , pretadi pisaca raksasa minantram, bhuta kabeh inilagaken, asing mamighna rikang Yajña (25)
  • Sakali karana ginawe, awahana len pratista sannidhya, Parameswara inangen-angen, umunggu ring kunda bahnimaya (26).
  • Sampun Bhatāra inenah, tinitisaken tang miñak sasomyamaya, lawan kṛṣṇatila madhu, śrī wṛkṣa samiddha rowang nya (27)
  • Sang Hyang Kunda pinuja, caru makulilingan samatsyamāngsadadhi, kalawan sekul niwedya. inames salwir nikang marasa (28)
  • Ri sedeng Sang Hyang dumilah, niniwedyaken ikanang niwedya kabeh, Ośadi len phala mūla, mwang kembang gandha dhūpādi (29)
  • Sampun pwa sira pinuja, bhinojanan sang mahārṣi paripūrna, kalawan sang wiku sāksi, winursita dinaksinān ta sira (30). Rāmāyana I. 24-30.
v  Sesajen ūpacāra korban telah siap, kayu cendana, kayu bakar, bunga, harum-haruman dan buah-buahan, susu kental, mentega, wijen hitam, madu, periuk, ujung alang-alang, bedak dan bertih (24).
v  Mulailah beliau melangsungkan ūpacāra korban api (Agnihotra), roh jahat dan sebagainya, pisaca dan raksasa dimentrai. Bhuta Kala semuanya diusir, segala yang akan menggangu ūpacāra korban itu (25).
v  Segala perlengkapan ūpacāra telah tersedia. Doa dan tempat peralatan hadirnya Devata. Bhatara Śiva yang dimohon kehadiran-Nya, hadir pada tunggu persembahan (26).
v  Sesudah Devata disthanakan, diperciki minyak “sOṁa”, wijen hitam dan kayu cendana beserta kayu bakar (27).
v  Api ditungku dipuja, di kelilingi dengan caru dan ikan, daging dan susu kental, bersama nasi sesaji persembahan, dicampur dengan segala yang mengandung rasa (28).
v  Pada waktu api di tungku itu menyala-nyala, dipersembahkan sesaji itu semua, tumbuh-tumbuhan bahan obat-obatan, buah-buahan dan akar-akaran, kembang harum-haruiman, dupa dan sebagainya (29).
v  Sesudah Beliau disembah (selesai acara pemujaan), disuguhkan suguhan kepada para maharsi, bersama para wiku (pandita) yang menjadi saksi, mereka dihormati dipersembahkan hadiah untuk beliau (30).
Sumber Jawa Kuna lainnya adalah Agastya parwa (355) yang menjelaskan berbagai macam Yajña (Pañca Maha Yajña) yang dalam uraiannya tentang Deva Yajña secara tegas menyatakan bahwa Deva Yajña adalah persembahan kepada Śivāgni yang dimaksud tidak lain adalah Agnihotra sedang Korawāsrama, menyatakan bahwa Deva Yajña adalah ūpacāra persembahan berupa makanan dan pengucapan mantram-mantram Stuti dan Stava (Hooykaas, 1975: 247) menunjukkan bahwa mantram Veda merupakan sarana dalam Deva Yajña yang tidak lain juga hampir sama dengan pelaksanaan Agnihotra. Di dalam kakawin Sutasoma 79.8, Tantri Kāmanîaka 142 dan Nāgarakṛtāgama 8.4 dinyatakan bahwa ūpacāra Agnihotra atau Hoṁa yajña tersebut merupakan pusat dari ūpacāra korban.
Sumber lainya dalam bahasa Jawa Kuno adalah kitab Ādiparwa (197) yang menyatakan: mangarpaṇaken udakañjali, magaway agnihortra, yang artinya memper-sembahkan air penyuci tangan dan melaksanakan Agnihotra (Mardiwarsito,1981: 13). Di samping sumber tersebut di atas, pelaksanaan Agnihotra atau Hoṁa yajña dijelaskan pula dalam kitab-kitab susastra Jawa Kuno seperti: Brahmanda Purāna 127 dan 178, Wirataparwa 12, Rāmāyana 5.9, SutasOṁa 1.11;109.4;110.6;119.12, Nāgarakṛtāgama 83.6, Nitiśāstra 8.1;1.114, Tantu Pagelaran 90, Kidung Harsawijaya 6.85; 6.93, Arjunawijaya 53.3; 53.4, Partayajña 11.10, Sasasamuccaya 64, Ślokātara 41, Tantri Kāmandaka 38, Tantri Kadiri 1.38, Calon Arang 122. Salah satu usaha untuk menyucikan diri bagi seorang Sadhaka adalah dengan melakukan Agnihotra atau Hoṁa yajña:
Śuddha ngaranya eñjing-eñjing madyus, aśuddha śarīra, masūrya sewana, mamuja,
majapa, mahoṁa
 - Bersihlah namanya, tiap hari membersihkan diri, sembahyang kepada Sang Hyang Sūrya , melakukan pemujaan, melakukan Japa dan melaksanakan Hoṁa yajña. Śīlakrama, lamp.41.
Berdasarkan kutipan tersebut di atas, bahwa Agnihotra atau Hoṁa Yajña dilaksanakan pula di Indonesia (Bali) dan sebagai pendukung data ini kita masih dapat mengkajinya melalui peninggalan purbakala (arkeologi) dan tradisi yang hidup dalam masyarakat. Salah satu peninggalan purbakala adalah adanya lobang api (Yajñaśala atau Vedi) tempat dilaksanakan-nya ūpacāra Agnihotra. Tempat atau lobang api ini dapat pula kita saksikan di salah satu Gua Pura Gunung Kawi yang diyakini oleh penduduk sebagai Geria Brahmana terdapat sebuah lobang dalam sebuah altar di tengah-tengah gua, yang rupanya dikelilingi duduk oleh pelaksana ūpacāra Agnihotra. Peninggalan berupa lobang tempat api unggun itu adalah Yajñakunda (Yajñaśala) dikuatkan pula dengan adanya lobang api di bagian atap sebagai ventilasi keluarnya asap dari tempat dilangsungkannya ūpacāra Agnihotra. Nama-nama seperti Keren, Kehen, Hyang Api Hyang Agni (Hyang geni) dan Śala menunjukkan tempat yang berkaitan dengan dilangsungkannya ūpacāra Agnihotra.
Sumber tradisi di antaranya adalah penggunaan pasepan oleh para pamangku, dedukun atau sedahan desa, menunjukkan pula pelaksanaan Agnihotra dalam bentuknya yang sederhana, sayang tradisi menggunakan pasepan dengan mempersembahkan darang asep atau kastanggi kini nampaknya semakin memudar, pada hal yang penting dalam mempersembahkan pasepan adalah mempersembahkan darang asep tersebut. Kami mendapatkan pula sebuah informasi lisan, yang perlu dikaji kembali lebih seksama, bahwa ūpacāra Agnihotra terakhir terjadi pada masa kerajaan Klungkung di bawah raja Dalem Dimade. Konon saat itu, ketika pelaksanaan ūpacāra Agnihotra berlangsung, panggung tempat ūpacāra terbakar, dan sejak itu raja memerintahkan untuk melaksanakan ūpacāra Agnihotra yang kecil dan sederhana dengan menggunakan pasepan (padupan) saja. Bila informasi tersebut benar, maka sejak itulah tradisi melaksanakan ūpacāra Agnihotra mulai memudar di Bali.
C. Hoṁa  Yajña/Agnihotra dalam stuti atau stava
Sayang sekali penelitian ke arah pūjā, stuti atau stava hampir tidak pernah lagi dilakukan setelah meninggalnya Prof.Dr.Hooykaas. Syukur dalam karya bersamanya dengan T.Goudriaan (dalam Stuti and Stava, Bauddha, Śaiva and Vaiṣṇava Balinesse Brahman Priests, 1970: 23) kita menemukan informasi tentang 8 buah lontar yang isinya adalah puja Hoṁa  atau Agnihotra. Empat di antaranya menggunakan judul Agni Janana, sedang sisanya menggunakan judul Hoṁa .
Memperhatikan stuti atau stava yang telah dikaji oleh T.Goudriaan dan C.Hooykaas maka jelaslah bagi kita bahwa mantram-mantram yang disebutkan dalam lontar-lontar tersebut di atas adalah mantram Agnihotra atau Hoṁa yajña, di antaranya memakai judul Sūrya stava, Saptapūjā, stuti Bhatāra Tripuruṣa, Rudra Gāyatrī Dhyāna, Brahmastava, Liṅgastava, Pṛthivīstava, Ātmakunda, Viṣṇu Gāyatrī, Rudra Gāyatrī, Viṣṇustava dan lain-lain menunjukkan karakter mantra-mantra tersebut bersifat Tantrik yang berbeda dengan Agnihotra seperti yang dikembangkan atau dilaksanakan oleh Arya Samaj di India yang menekankan penggunaan mantram-mantram Veda.
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka di masa yang lampau pelaksanaan Agnihotra menggunakan mantram-mantram yang bersifat Tantrik, seperti juga yang oleh sebagian digunakan oleh Sampradaya-Sampradaya di India Devasa ini. Sayang kita belum menemukan praktek pelaksanaan Agnihotra yang pernah dilaksanakan oleh para pandita Hindu di Bali di masa yang silam. Mengapa tradisi Agnihotra kini tidak lagi kita jumpai di kalangan para pandita atau di masyarakat ? Untuk menjawab permasalahan ini kiranya penelitian ke arah itu sangat perlu dilakukan.
D. Keutamaan ūpacāra Hoṁa  Yajña/Agnihotra
Segala sesuatu yang diketahui atau dirasakan manfaatnya tentu akan dicari atau dilaksanakan oleh umat manusia. Demikian pula halnya ūpacāra Hoṁa  Yajña/ Agnihotra. Berbagai penelitian ilmiah membuktikan bahwa Agnihotra demikian sangat penting artinya bagi kehidupan umat manusia. Salah satu buku yang menguraikan tentang manfaat Agnihotra adalah Hoṁa  Therapy, Or Last Chance diterbitkan oleh Fivefold Path, Inc. Parama Dham (House of Almighty Father), Madison, Virginia, USA,1989 yang menguraikan manfaatnya bagi kesehatan umat manusia.
Sebagai telah diuraikan pada bagian depan dari tulisan ini, Agnihotra atau persembahan kepada api suci adalah merupakan salah satu ūpacāra Veda yang dilakukan setiap hari. Kitab Aitareya Brāhmana (V.26) menghubungkan ūpacāra ini dengan seluruh Deva (Viśvedeva) yang diharapkan memberi perlindungan dan kesuburan ternak, sedang kitab Kauśītaki Brāhmana (II.1) mengidentifikasikan persembahan Agnihotra adalah persembahan kepada Deva Sūrya  dan menurut kitab suci Veda (Ṛgveda I.115.1) Sūrya adalah jiwa atau Ātma dari seluruh alam semesta, yang bergerak dan yang tidak bergerak (sūrya ātma jagatas tasthusaś ca).  Mantram-mantram yang digunakan dalam ūpacāra Agnihotra umumnya dipetik dari kitab suci Veda, Ṛgveda, Yajurveda (salah satu yang sangat terkenal adalah Agnir jyotir jyotir agnir svāhā, Sūrya  jyotir yotiḥ Sūrya  svaha, III.9), dan beberapa mantram dari Atharvaveda. mantram lainnya biasanya dari mantram sampradaya tertentu, misalnya Śaivisme menggunakan mantram pemujaan kepada Ganeśa, Durgāsaptasati, Śivamahimastotra dan lain-lain. Di dalam Śatapatha Brāhmana (II.3.1.1) dinyatakan bahwa Agnihotra diidentikkan dengan Sūrya : Agnihotra tidak lain adalah (pemujaan kepada) Sūrya . Karena ia muncul dari depan (agra) dari segala persembahan, oleh karena itu Agnihotra adalah Sūrya . Agnihotra adalah persembahan sehari-hari berupa cairan yang dituangkan ke dalam api, terdapat dua macam, yaitu ada yang dilakukan sebulan sekali dan yang dilakukan sepanjang aktivitas hidup. Persembahan Havana dilakukan pagi dan sore dan selanjutnya  orang yang mempersembahkannyapun ketika ia meninggal ia dibakar melalui ūpacāra Agnihotra. Persembahan Yajña ghṛta (minyak mentega yang dijernihkan) dan biji-bijian yang harum dituangkan di atas batang-batang kayu kering yang dibakar diikuti dengan pengucapan mantram-mantram Veda. Yajña dilakukan pula pada bulan mati (Amavasya) dan pada bulan purnama (Pūrṇamasi atau Pūrṇima). Agnihotra adalah ūpacāra yang sangat penting dari ūpacāra-uapacara Veda yang dilakukan pada pagi dan sore hari oleh para Gṛhastha  (keluarga). Kitab Mahābhārata menyatakan: Seperti seorang raja di antara umat manusia, seperti Gāyatrī mantram di antara seluruh mantram, demikian pula ūpacāra Agnihotra adalah ūpacāra yang sangat penting di antara semua ūpacāra-ūpacāra Veda ( Ganga Ram Garga, 1992: 217).
Mengingat peranan fungsi-fungsi mantram, khususnya mantram Gāyatrī dan Mahāmṛtyuñjaya serta ūpacāra ini dapat mengusir kekuatan-keuatan jahat sebagai digambarkan dalam kitab-kitab Itihāsa dan Purāṇa, maka ūpacāra Hoṁa  Yajña/ Agnihotra yang sering disebut sebagai The Jewel of all Yajñas sangat besar manfaatnya bila dilakukan dengan penuh kekhusukan sesuai dengan syarat pelaksanaan sebuah Yajña.
E. Pelaksanaan ūpacāra Hoṁa  Yajña / Agni Hotra dan Sarananya
Seperti telah diuraikan di atas, Hoṁa  Yajña/Agnihotra adalah ūpacāra Veda yang merupakan permata atau mutiara dari semua Yajña dalam agama Hindu. Seperti pengamatan kami di india, ūpacāra ini dilaksanakan dalam berbagai kegiatan ūpacāra Pañca Yajña, baik Deva Yajña, Pitra Yajña, Ṛṣi Yajña, Nṛ atau Manusa Yajña, demikian pula dalam pelaksanaan ūpacāra-ūpacāra besar di Bali di masa yang silam, dilaksanakan pula ūpacāra yang sangat utama ini.
Persembahan Hoṁa  Yajña/Agnihotra sebaiknya dipimpin oleh seorang Dvijati atau pandita (pūjāri), bila tidak memungkinkan dapat dilaksanakan oleh seorang pamangku atau pinandita yang hidupnya senantiasa Vegetarian. Para peserta mengiringi pemimpin ūpacāra dengan mengucapkan Svāha (untuk Deva Yajña dan Yajña yang lain) dan Svādha khusus untuk ūpacāra Hoṁa  Yajña yang dilakukan dalam rangka Pitra Yajña, pada akhir setiap mantra dengan sekaligus mempersembahkan persembahan yang telah disediakan dengan bahan persembahkan ditempatkan di atas telapak tangan dalam posisi tengadah yang disorongkan kedalam Kunda atau Vedi, tempat api persembahan berkobar. Hoṁa  Yajña yang dilakukan dalam rangka ūpacāra kematian, biasanya dilakukan setelah 12 hari selesai pembakaran jenasah (Antyesti atau Ngaben), sebelum hari tersebut dipandang masih dalam keadaan Cuntaka. Peserta yang mengikuti ūpacāra Hoṁa  Yajña/Agnihotra dilarang bercakap-cakap dengan sesama peserta, merokok, minum minuman keras dan melakukan penyucian diri (mandi besar) seandainya sebelumnya melakukan hubungan suami-istri.
Sebelum secara khusus membahas pelaksanaan ūpacāra Yajña ini, kiranya perlu diketengahkan tata-tertib untuk melaksanakan dan mengikuti ūpacāra yang sangat suci ini, antara lain: peserta telah datang 15 menit sebelum ūpacāra dimulai, diharapkan memakai pakaian sembahyang, yang dibenarkan duduk di sekeliling kunda, vedi atau lobang api hanyalah mereka yang telah didvijati (pandita) atau pamangku (pinandita), sedang peserta lainnya mengambil posisi dari para pandita atau pinandita tersebut. Sang Yajamana atau yang mempersembahkan ūpacāra dan seluruh peserta ūpacāra tidak diperkenankan meninggalkan ūpacāra sebelum ūpacāra selesai dilaksanakan. Posisi duduk peserta ūpacāra adalah: peserta wanita di sebelah kiri dan laki-laki di sebelah kanan kunda atau vedi. Dilarang keras mempersembahkan ke dalam api suci bahan-bahan kimia berupa plastik, lilin, dupa atau bahan-bahan yang telah jatuh ke tanah, karena telah cemar atau lungsuran. Pelaksanaan Hoṁa  Yajña/Agnihotra dimulai dengan menyiapkan air suci (sedapat mungkin Tirtha Gangga), dan sangat baik bila seorang atau beberapa Dvijati (pandita) terlebih dahulu “ngarga” atau memohon Tīrtha dengan menghadirkan dewi Gangga (dengan sarana Ganggastava) di dalam Kumbha (di atas Tripada) sebagai sarana dalam acara Hoṁa  Yajña/Agnihotra. Selanjutnya dilakukan penyucian diri (acamana) dan Praṇāyama. Setelah penyucian diri dan praṇāyama dilanjutkan dengan pemujaan kepada Agni (menggunakan mantra Agni Sūkta/Ṛgveda I.1-9), Gāyatri mantram 108 atau 21 kali, Mahamṛtyuñjaya 21 kali dan dalam pemujaan tertentu untuk kesejahtraan nusa dan bangsa menggunakan mantram-mantram seperti berikut: Pṛthivī Sūkta, Puruśa Sūkta, Nasadiya Sūkta, Śāntiprakaraṇa dan ditutup dengan Śānti mantra (Paramaśānti). Sarana ūpacāra persembahan adalah kayu bakar, sedapat mungkin kayu mangga, intaran, beringin, cempaka, sandat, tulasi, majagau, batang kelapa kering atau cendana yang telah kering dengan panjang + 10 -30 Cm dengan diameter 1-2 Cm, supaya mudah terbakar. Gahvya (gobhar) diambil dari kotoran sapi-sapi yang dipelihara dan disayangi oleh pemiliknya dan bukan berasal dari tempat/rumah pemotongan hewan. Sarana lainnya adalah daun, batang, bunga, akar dan ranting kayu tulasi (disebut Pañcāngga) dan juga daun mangga, di samping juga susu segar, yoghurt, gula merah, ghee (susu asam), madhu (kelima materi tersebut dinamakan Pañcāmṛta), kapulaga, biji kacang hijau, cengkeh, beras merah, putih dan hitam serta wijen.
Sangat baik bila sebelum mempersembahkan Hoṁa  Yajña didahului dengan mempersembahkan pejati dan pesaksi kepada Devata yang bersthana di sebuah pura bila ūpacāra itu dilaksanakan di dalam pura. Bila dikaitkan dengan ūpacāra besar, sangat baik dilengkapi dengan Pañcadhatu (emas, perak, tembaga, kuningan dan besi). Adapun bentuk kunda atau vedi umunya berbentuk piramid terbalik, dapat dibuat dari tembaga atau besi, disamping juga dari batu bata atau sebuah paso (belanga yang agak datar di Bali juga disebut dengan nama cobek dan semuanya harus baru (payuk anyar). Bila ūpacāra Hoṁa  Yajña/Agnihotra dilaksanakan pada pagi hari sangat baik bila menghadap ke Timur, sore hari menghadap ke Barat. Bila didepan altar atau pelinggih, sebaiknya menghadap altar atau pelinggih tersebut. Demikian pula bila dilaksanakan di tepi pantai hendaknya menghadap ke laut, di pegunungan diarahkan ke puncak gunung dan di tepi sungai atau mata air, di arahkan ke sungai atau mata air.
F. Mantra yang digunakan dan terjemahan
Mantram-mantra yang digunakan pada umumnya diambil dari mantram-mantram kitab suci Veda, dan banyaknya Sūkta yang dirapalkan tergantung kepada tujuan ūpacāra Hoṁa  Yajña tersebut, demikian pula pilihan Sūkta umumnya disesuaikan dengan situasi pada saat ūpacāra dilaksanakan, misalnya untuk ūpacāra Deva Yajña dan lain-lain. Berikut kami sampaikan susunan mantram yang digunakan serta terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia:
  1. 1.     Asana: Oṁ Prasadha Sthiti Śarīra Śiva suci nirmalāya namaḥ svāha.
  2. 2.     Acamana (penyucian diri) Penyucian tangan Kanan : Oṁ Śuddhamām svāha Kiri : Oṁ Ati Śuddhamām svāha
  3. Penyucian Pikiran: Oṁ tejo’asi tejo mayi dhehi, vīryamasi vīrya mayi dhehi,
    balamasi balam mayi dhehi, ojo’as ojo mayi dhehi, matyurasi matyum mayi dhehi, saho’asi saho mayi dhehi
    – Oṁ Tuhan Yang Maha Esa, Engkau adalah sumber dari cahaya anugrahkanlah
    cahaya itu kepada kami, Engkau adalah pahlawan kami, anugrahkanlah sifat  kepahlawanan itu kepada kami, Engkaui adalah sumber kekuatan, anugrahkan lah kekuatan itu kepada kami. Engkau memancarkan cahaya, anugrahkanlah  pancaran cahaya itu kepada kami. Engkau menaklukkan keagungan dan cinta kasih, anugrahkanlah hal itu kepada kami. Semogalah kami menjadi pusat, dan sumber dari kebajikan yang suci. Yajurveda XVI.6
  4. Pengucapan Oṁkara 21 kali masing-masing 5 kali untuk Pañca Jñānendriya,
    Karmendriya, Pañca Prāṇa, Pañca Mayakośa dan 1 kali untuk Ātman.
  5. Praṇāyama (mengatur nafas sehingga aliran nafas sangat lembut): Oṁ Bhūr, Oṁ bhuvaḥ, Oṁ Svaḥ, Oṁ Mahaḥ, Oṁ Janaḥ, Oṁ Tapaḥ, Oṁ Satyam Oṁ Tat savitur vareṇyam bhargo devasya dhīmahi dhiyoyonaḥ pracodayat. Oṁ āpo jyotī raso amṛtam brahma Bhūr Bhuvas Suvar Oṁ.- (Oṁ adalah Tuhan yang Maha Esa penguasa sapta Loka.
    Oṁ Tuhan Yang Maha Agung, kami bermeditasi kepada kemaha muliaan-
    Mu, Tuhan Maha Pencipta yangmenciptakan segalanya, anugrahkanlah  kecerdasan dan budhi pekerti yang luhur kepada kami. Oṁ adalah air, cahaya, dan bumi yang menganugrahkan makanan yang lezat, udara segar mendukung kehidupan, yang meresapi angkasa dan pikiran, intelek dan kami senantiasa ditandai oleh kebesaran dari Bhūr, Bhuvaḥ dan Svaḥ)
  6. Ganeśa pūjā Ganeśa adalah putra Sang Hyang Śiva sebagai Vighneśvara, penangkal dan penolak segala rintangan dan bencana. Pemujaan kepada Sang Hyang Ganeśa   dimaksudkan  untuk memohon keselamatan setiap ūpacāra Yajña dan aktivitas kehidupan.
    Oṁ Vaktratunda mahākaya Sūrya koti sāma prabha Nirvighnam kurume deva sarva karyesu sarvada. (Oṁ Hyang Vidhi, kami memuja dalam wujud-Mu sebagai Ganeśa   yang belalai
    nya panjang dan badannya besar, yang cahayanya bagaikan ribuan matahari, yang
    melenyapkan segala bencana, semua karya dalam kesuksesan).
  7. Agni Sūkta Ṛgveda I.1-9:(Agni sebagai purohita para Devata yang mewakili semua Devata untuk menerima  bhakti persembahan dari umat-Nya):
    1. Oṁ Agnim īle purohitaṁ/ yajñasya devam ṛtvijam/ hotāraṁ ratnadhātamam// (Kami memuja Agni, Pandita Utama, Deva penyelenggara ūpacāra Yajña, kami  memuja (Engkau), pemberi anugrah (kekayaan) utama.)
    2. Agniḥ pūrvebhir ṛṣibhir/ īíio nutanair uta/ sa devām eha vakṣati// (Agni, Engkau dipuja oleh para mahāṛṣi di masa yang silam dan kini, semoga  Engkau mendatangkan para Deva hadir di sini).
    3. Agniḥ rayim aśnavat/ poṣam eva dive-dive/ yaśasaṁ vīravattamam// (Melalui Agni, umat manusia memperoleh harta benda (dan) kebahagiaan setiap hari, sangat mulia (dan)  pahlawan yang agung).
    4. Agne yaṁ yajñam adhvaraṁ/ viśvātaḥ paribhūr asi/ sa id deveṣu gacchati//  (Oh Agni, pemujaan dan persembahan yang ditujukan kepada-Mu dari setiap sisi,  (semuanya) itu sampai kepada para Deva).
    5. Agnir hotā kavikratuḥ/ satyas citraśravastamaḥ/ devo devebhir ā gamat// (Semoga Agni, Pandita yang bijaksana, sangat cerdas, kebenaran dan  kebijaksanaannya yang maha agung datang bersama para Deva).
    6. Yad aṛga dāśuṣe tvam/ Agne bhadraṁ kariṣyasi/ tavet tat satyam Aṅgiraḥ// (Rakhmat apapun wahai Hyang Agni yang Engkau karuniakan kepada pemuja- Mu, wahai Aṅgira, itulah kebenaran-Mu.
    7. Upa tvāgne dive-dive/ dosāvastar dhiyḥ vayam/ namo bharanta emasi// (Kepada, wahai Hyang Agni siang dan malam, yang menerangi kegelapan, kami  datang menghadap-Mu dengan kebaktian (yang mantap).
    8. Rājantam adhvarānam/ gopam ṛtasya dīdivim/ vardhamānam sve dame// (Hyang Agni pengatur persembahan,  pengendali hukum abadi yang senantiasa  bercahaya, berkilauan di rumah kami).
    9. Sa naḥ pīteva sunave/ Agne sūpāyano bhava/ sacasva nah svastaye// (Wahai Hyang Agni, mudahkanlah mendekati kami, seperti seorang ayah kepada  anaknya. Tinggallah bersama kami untuk kebahagiaan kami).
VI. Gāyatri 108 kali
Gāyatri mantram disebut mantram disebut Vedamātā, ibu dari semua mantram Veda. Mantram ini disebut juga dengan nama Savitrī atau Savitā mantram, merupakan Samanya yang dapat diucapkan oleh siapa saja bila dilakukan dengan kesungguhan, akan tercapai permohonannya.
Oṁ Bhur Bhuvaḥ Svaḥ Tat savitur vareṇyam bhargo devasya dhīmahi dhīyoyonaḥ pracodayat. (Oṁ Tuhan Yang Maha Agung, kami bermeditasi kepada kemaha muliaan- Mu, Tuhan Maha Pencipta yangmenciptakan segalanya, anugrahkanlah  kecerdasan dan budhi pekerti yang luhur kepada kami).
VII. Mahāmṛtyuñjaya (21 kali)
Mantram ini memohon kemahakuasaan Sang Hyang Śiva sebagai Sang Hyang Rudra yang melindungi dari berbagai bahaya dan menjauhkannya dari penderitaan: Oṁ Tryaṁbhakaṁ yajamahe sugandhim puṣti vardhanam, urvārukam iva bandhanān mṛtyor mukśīya māmṛtāt (Ya Tuhan Yang Maha Esa, kami memuja sebagai Sang Hyang Śiva Rudra yang menyebarkan keharuman dan menganugrahkan makanan. Semoga Engkau  melepaskan kami dari penderitaan seperti buah mentimun (yang masak) dari batangnya, dari kematian dan bukan dari kekekalan). Ṛgveda VII.59.12
VIII. Guru Pūjā
Dengan Guru Pūjā dimaksudkan kita memohon karunia dan rakhmat Tuhan Yang Maha Esa sebagai guru agung alam semesta, termasuk juga pemujaan kepada para guru atau maharsi yang suci yang telah mencapai alam kedevataan, yang membimbing umat manusia; Oṁ Gurur Brahma gurur Viṣṇu gurur devo maheśara gurur sakṣat paraṁ Brahma Tasmai śrī gurave namah. (Kami memuja Tuhan Yang Maha Esa sebagai guru agung alam semesta, sebagai Brahma, Visnu dan Śiva, hamba bersujud mohon karunia-Mu).
IX. Pṛthivī Sūkta
Pṛthivī adalah wujud Tuhan yang Maha Esa sebagai penguasa bumi. Ia digambarkan sebagai seorang ibu yang penuh cinta kasih yang sejati memelihara semua mahluk di bumi ini dengan menjadikan bumi seperti seorang ibu yang memberikan segalanya kepada putra-putinya yang baik.
  1. Oṁ tvamasyāvapanā janānāmaditiḥ  kāmadughā parathāna. Yat ta śnam tat ta ā pūrayati
    prajāpatiḥ prathamajā ṛtasya -
    Wahai Ibu pertiwi Engkaulah yang memberikan kesuburan dan selalu memenuhi keinginan umat manusia. Deva Prajāpati akan melengkapi bilamana ada yang kurang untuk ibu pertiwi. Atharvaveda XII.1.61.
  2. Upasthāste anamīvā ayaksmā  asmabhayaṁ santu pṛthivī prasūtāḥ. Dīrghaṁ na āyaḥḥ pratibudhyamānā vayaṁ tubhyaṁ balihṛtaḥ syāma – Ya Tuhan Yang Maha Esa! Kami tidur (istirahat) dipelukan ibu pertiwi dan berikanlah karunia supaya kami hidup tanpa penyakit apapun, dan mendapatkan kehidupan yang panjang, kami akan selalu memuja-Mu dengan sepenuh hati. Atharvaveda XII.1.62.
  3. Bhūme mātarnidhehi mā  bhadrayā supratiṣthitam. Samvi dānā divā kave śrīyāṁ
    mā dhehi bhūtaum -
    Wahai Ibu Pertiwi lindungilah kami dan berikanlah karunia-Mu supaya kita hidup dalam kedamaian. Oh Ibu Pertiwi, tetapkanlah kami dalam kekayaan dan kebahagiaan. Atharvaveda XII.1.63
XI. Puruṣa Sūkta (Yajña Tuhan Yang Maha Esa )
Tuhan Yang Maha Esa ketika menciptakan alam semesta beserta segala isinya  menjadikan Diri-Nya sendiri sebagai Yajña, oleh karena itu umat manusia masti  ikut memutar Cakra Yajña dengan jalan melaksanakan Yajña tiada hentinya dalam  rangka Tri Ṛṇa, hutang jasa kepada-Nya dan ciptaan-Nya.
  1. Oṁ Sahasraśīrṣā puruṣaḥ sahasrākṣaḥ sahasrapāt, sa bhūmim viśvāto vṛtvaty atiṣthad daśāṅgulam.(Puruṣa berkepala seribu, bermata seribu, berkaki seribu, memenuhi dunia, pada semua arah, mengisi angkasa selebar sepuluh jari).
  2. Puruṣa evedaṁ sarvaṁ yad bhūtam yac ca bhavyamutāmritatvasyeśano yad annenātirohati.(Sesungguhnya Puruṣa adalah semua ini semua yang ada sekarang dan yang akan datang, ia adalah raja keabadian yang terus membesar dengan makanan).
  3. Etāvān asya mahimāto jyāyāmas ca puruṣa āpado’sya viśvā bhūtāni tripād asyamṛtaṁ divi.(Demikian hebat kebenarannya. Dan Puruṣa bahkan lebih besar dari ini. Semua wujud ini adalah seperempat dari dirinya. Tiga perempat lagi adalah keabadian ada di sorga).
  4. Tripād ūrdhva ud ait Puruṣaḥ pādo syehabhavat punaḥ,tato viṣan vya krāmat sāśanānaśane abhi.(Tiga perempat sari Puruṣa pergi membubung jauh.Seperempat lagi lagi berada di dunia ini yang berproses terus menerus berselang-seling dalam berbagai wujud yang bernyawa dan yang tidak bernyawa).
  5. Tasmād virāj ajāyata virājo adhi puruṣaḥ, sa jāto aty aricyata paścad bhūmiṁ atho puraḥ.(Dari dia Virāj kahir dan dari Viraj kembali. Segera setelah ia lahir ia mengembang ke timur mengembang kebarat mengatasi dunia).
  6. Yat puruśeṅa haviṣā devāyajñam atanvata, vasanto asyāsid ājyam grīṣma idhmaḥ śarad dhaviḥ.(Ketika para sewa mengadakan ūpacāra kurban dengan Purusa sebagai persembahan, maka minyaknya adalah musim semi, kayu bakarnya adalah musim panas dan sajian persembahannya adalam musim gugur).
  7. Taṁ yajñam barhiṣi prauksan puruṣaṁ jātam agrataḥ, tena devā ayajanta sādhya ṛṣayas ca ye. (Mereka mengorbankan sebagian korban pada rumput Purusa yang lahir pada awal penjadian. Pada dia para Deva dan semua sadhyas dan para ṛṣi mempersembahkan kurban).
  8. Tasmād yajñāt sarvahutaḥ sambhṛtaṁ pṛsadājyampasūn tāmś cakre vāyavyān aranyān grāmyāś ca ye.(Dari korban itu , yang padanya universal di persembahkan keluarlah dadih dan mentega yang sudah bercampur.Kemudian ia jadikan binatang-binatang yang padanya Vāyu berbeda. Baik binatang buas maupun binatang jinak).
  9. Tasmād yajñāt sarvahuta ṛcaḥ sāmāni jajñire, chandānsi jajñire tasmād yajus tasmād ajāyata.(Dari korban itu, yang padanya universal dipersembahkan, ṛca dan nyanyian Sāma lahir. Dari dia lahirnya metrik. Dari dia lahirnya Yajus).
  10. Tasmād aśva ajāyanta yeke chobayadataḥ, gavo ha yajñire tasmāt tasmāj jāta ajāvayaḥ.(Dari dia lahirlah kuda dan binatang apa saja yang mempunyai gigi dua baris. Sapi lahir dari dia. Dari dialah lahirnya kambing dan biri-biri).
  11. Yat puruṣaṁ vyadadhuḥ katidhā vyakalpayan mukhaṁ kim asya kau bāhū kā ūrū pādā ucyete.(Ketika meraka menjadikan Purusa korban,menjadi berapa bagiankah mereka bagi dia ? Dan apakah mereka sebut paha kakinya ?)
  12. Brāhmano’sya mukham āsīd bāhū rājanyah kṛtaḥ, ūrū tad asya yad vaiśyaḥ pādbhyam śūdro ajāyata.(Mulutnya menjadi Brāhmana, lengannya menjadi Rājanya,pahanya menjadi Vaiśya, Sudra lahir dari kakinya.
  13. Candramā manaso jātās cakṣoḥ sūryo ajāyata, mukhād Indraścāgniśca prānād vāyur ajāyata.(Bulan lahir dari pikirannya, matahari dari matanya,Indra dan Agni lahir dari mulutnya, Vāyu dari nafasnya).
  14. Nābhyā āsīd antarikṣaṁ śirṣo dyauḥ sam avartata, pādbhyām bhūmir disahśrotrat tathā lokān akalpayan.(Dari pusarnya cakrawala ini lahir, dari kepalanya lahir langit, dari kakinya lahir dari bumi, dari telinganya lahir keempat penjuru mata angin, demikianlah mereka membentuk dunia ini).
  15. Saptāsyāsan paridhayas triḥ sapta samidhaḥ kṛtāḥ devā yad yajñaṁ tanvānā abadhnam puruṣaṁ paśum.(Tujuh pagar kelilingnya ūpacāra korban itu, tiga kali enam potong kayu bakar sisiapkan, ketika para Deva mempersembahkan ūpacāra itu yang mengikut Purusa sebagai kurban).
  16. Yajñena yajñam ajāyanta devās tāni dharmāni prathamāmy āsan,te ha nākam mahimānaḥ sacanta yatra pūrve sādhyaḥ śānti devāḥ.(Deva-Deva dengan mengandalkan ūpacāra korban memuja (dia yang juga) ūpacāra korban. Mereka yang agung mencapai sorga yang mulia tempat para Sadhyas, Deva-Deva jaman dahulu). Rgveda X.90.1-16
XII. Nasadiya Sukta ( proses kejadian alam semesta )
  1. Nasad āsīn no sad āsīt tadanīṁ nāsīd rājo no vyoṁā paro yat, kim avarīvaḥ kuha kasya śarman nambhaḥ kim āsīd gahanaṁ gabhīram.(Pada waktu itu dia tidak ada yang bukan ada maupun yangh ada. Waktu itu tidak ada dunia,tidak ada langit pun pula tidak ada yang di atas itu. Apakah yang menutupi dan dimana ? Airkah di sana, air yang tak terduga dalamnya).
  2. Na mṛtyur āsīd amṛtaṁ na na tarhi na rātrya ahna āsīt praketaḥ, anīd avātaṁ svadhayā tad ekaṁ tasmād dhānyan na paraḥ kiṁ canāsa.(Waktu itu tidak ada kematian, pun pula tidak ada kehidupan. Tidak ada tanda yang menandakan siang dan malam. Yang Esa bernafas tanpa nafas menurut kekuatannya sendiri. Bernafas menurut kekuatanya sendiri. Di luar Dia tidak apapun juga).
  3. Tama āsīt tamasā gūlham agre praketaṁ salilaṁsarvam ā idaṁ tuchyenābhv apihitaṁ yad āsīd tapasas tan mahina jāyataikam.(Pada mula pertama kegelapan di tutupi oleh kegelapan. Semua yang ada ini adalah keterbatasan yang tak dapat dibedakan. Yang ada waktu itu adalah kekosongan dan yang tanpa bentuk. Dengan tenaga panad yang luar biasa lahirlah kesatuan yang kosong).
  4. Kāmas tad agre sam avartatadhi manaso retaḥ prathamaṁyad āsīt sato bandhum asātī nir avindan hṛdi pratīṣyā kavayo maniṣā.(Pada awal mulanya, setelah itu, timbullah keinginan. Yang merupakan benih awal dan benih semangat.Para Rsi setelah meditasi dalam hatinyamenemukan dengan kearifannya hubungan antara yang ada dan yang bukan ada).
  5. Tiraścīno vitato raśmir eṣām adhaḥ svid āsīd upari svid āsīt, rethodā āsan mahimāna āsan svadhā avastat prayatiḥ parastāt.(Sinarnya terentang ke luar, apakah ia melintang, apakah ia di bawah atau diatas. Beberapa menjadi pencurah benih, yang lain amt hebat. Makanan adalah benih rendah, pemakan adalah benih unggul).
  6. Ko addhā veda ka iha pra vocat kuta ājātā kuta iyaṁ viśṛṣtiḥ,arvāg devā asya viṣarjanenāthā ko veda yata ābabhūva.(Siapakah yang sungguh-sungguh mengetahui ?Siapakah di dunia ini dapat menerangkannya ?Dari manakah penjadian ini, dari manakah timbulnya ?Deva-Deva ada setelah penjadian ini, kemudian siapakah yang tahu, dari manakah ia muncul).
  7. Iyaṁ viśrṣtir yata ābabhuva yadi vādadhe yadi vā na, yo asyādhyakṣaḥ parame vyOṁan so āṅga veda yadi vā na veda. (Dia, yang dari padanya penjadian timbul yang membentuknya atau mungkin pula tidak. Dia yang mengawasi alam ini berada di langit yang tertinggi, sesungguhnya ia mengetahui atau barang kali tidak.mengetahui). Ṛgveda X.129.1-7
XIII. Śāntiprakaranam
Mantram untuk memohon kerahayuan jagat beserta semua mahluk hidup di
dalamnya.
  1. Oṁ saṁnaḥ soṁo bhavatu bahma sam nah saṁ no gravanaḥ samu santu yajñah.Saṁ naḥ svarunam mitayo bhavantu saṁ naḥ prasvah saṁvastu vedih. (Soṁa rasa (amṛta) yang digunakan dalam Yajña memberikan damai kepada kami, mantra-mantra dari veda memberikan damai kepada kami, alat-alat untuk mendapatkan soṁarasa memberikan damai, Yajña memberikan kedamaian kepada kami, stupa untuk Yajña memberikan damai kepada kami. Usada memberikan damai kepada kami, dan tempat Yajña (vedi) memberikan damai kepada kami. Ṛgveda VII.35.7
  2. Oṁ saṁ no vātaḥ pavataṁ saṁ nastapatu Sūryaḥ. Saṁ naḥ kanikradad devaḥ parjanyoabhi vārsatu. (Ya Tuhan Yang Maha Esa, semogalah udara yang berhembus memberikan kedamaian kepada kami, surya bersinar untuk kedamaian kami, awan dengan suaranya menurunkan hujan menimbulkan kesuburan pada tumbuh-tumbuhan untuk kedamaian kami). Yajurveda XXXVI.1.10
  3. Oṁ agne naya supathā raye asmān viśvāni deva vayunāni vidvan.Yuyodhy asmaj juhurānam eno bhuyistham te nama uktim vidhema. (Ya Tuhan Yang Maha Esa dalam wujud-Mu sebagai Agni ! Yang maha bijaksana, tunjukkanlah jalan yang benar dan untuk mencari kebahagiaan dan kekayaan, kita akan menjalani utama karma agar supaya kita dijauhi dari papakarma (perbuatan yang penuh dengan papa). Untuk itu kita dengan penuh sujud dan selalu memuja dan mendapatkan ananda). Ṛgveda I.189.1.
  4. Oṁ prajāpate na nadetanyanyo viśvā jatani parita babhuva.Yatkāmaste juhumastanno astu vāyam syāma patayo patayo rayinam. (Ya Tuhan Yang Maha Esa sebagai Prajāpati ! Tiada selain-Mu yang berada dimana-mana di dunia ini. Apapun keinginan kami dan untuk memenuhi keinginan tersebut, kami datang kepada-Mu. Penuhilah semua keinginan kami supaya semua terwujud dan kami menjadi kaya raya di dunia ini). Ṛgveda X.121.10
  5. Oṁ svasti na indro vṛddhaśravaḥ svasti naḥ puśa viśvāvedaḥ.Svasti nastar kṣyo aristanemiḥ svasti no bṛhaspati ṛdadhatu. Deva indra ! Maha besar tersebar dimana-mana berikanlah kebahagiaan kepada kami, Wahai Deva yang maha tahu, peliharalah dunia, berikanlah kebahagiaan kepada kami. Jalinkanlah tali rasa-mu yang tidak pernah putus dan melalui karunia-mu seseorang bisa melewati dunia ini dan mencapai tujuan akhir, berikanlah kebahagiaan. He pelindung yang maha besar berikanlah kebahagiaan kami. Ṛgveda I.89.6
  6. Oṁ taccakṣur devahitaṁ purastacchukramuccarat.Paśyema śaradaḥ śataṁ jīvema śaradaḥ śataṁ śranuyāma śaradaḥ śataṁ pra bravama śaradaḥ śatamadinah syāma śaradaḥ śataṁ bhūyaśca śaradaḥ śatāt.(Tuhan Yang Maha Esa adalah saksi seluruh u,at manusia dan maha karunianya bagi para sarjana. Beliaulah yang pertama sebagai cahaya (teja). Untuk itu agar kami dapat melihat beliau seratus tahun, kami dapat hidup seratus tahun, mendengar seratus tahun, untuk itu keagungan tuhan dapat kami ceritakan seratus tahun dan kami bisa hidup seratus tahun dengan kebebasan, dan kemudian kita hidup lebih dari seratus tahun).
  7. Oṁ bhadraṁ karnebhiḥ śṛnuyāma deva bhadraṁ paśyemākṣabhir yajatraḥ.Sthirair angaiṣtustuvāmsas tanūbhirvyasemahidevahitam yad āyuh. (Ya Tuhan Yang Maha Esa! Anugrahkanlah karunia-Mu supaya kami mendengar yang baik dari telinga kami, melihat selalu yang baik dari mata kami, berikanlah kekuatan badan yang sehat supaya kami selalu memujamu dan sesuai dengan karma kami mendapatkan hidup yang lengkap dan tidak meninggal sebelum waktunya). Ṛgveda I.89.10
  8. Oṁ saṁ no dyavapṛthivī pūrvahutau sam antarikṣam dṛśaye no astu.Saṁ na osadhirvanino bhavantu saṁ no rājaspatirastu jiśnuḥ.(Ya Tuhan Yang Maha Esa! Pagi-pagi setelah bangun kami selalu memohon supaya Dyuloka dan Prithiviloka memberikan kedamaian kepada kami, demikian juga pada waktu setelah bangun, kita mlihat antariksaloka, dan memohon supaya antariksaloka memberikan damai kepada kami. Usada memberikan damai kepada kami. Ya Tuhan Yang Maha Besar rajanya dunia yang selalu jaya anugrahkanlah kebahagiaan kepada kami). Ṛgveda VII.35.5
XIV. Abhaya dan Śivasaṁkalpa
Mantram ini mendorong umat-Nya senantiasa tegar dalam menghadapi berbagai
cobaan, tidak ada rasa takut atau khawatir dan hidup dalam ketenangan.
  1. Oṁ Abhayaṁ mitrād abhayam amitrād abhayam jñātād ajñātād abhayaṁ puroyaḥ. abhayaṁ naktaṁ abhayam divanaḥ sarva āsā mama mitram bhavatu (Ya Tuhan Yang Mahakuasa ! Semoga saya tidak takut kepada kawan-lawan, dan tidak takut kepada yang tidak dikenal, semoga malam dan siang hari kami tanpa takut. Semoga semua arah memberikan sahabat kepada kami). Ṛgveda IX.15.6
  2. Oṁ yajjāgrato dūramudaiti  daivaṁ tadu suptasya tathaivaiti. Dūraṁ gamaṁ jyotisām jyotirekaṁ  tanme manaḥ śivasaṁkalpamastu. Pikiran yang dengan kekuatan dengan kesadaran pada saat sedang bergadang (Jagratah) pergi jauh kemana-mana (Duramdaiti), demikian juga pada waktu tidur (Tatu Suptasya) pergi (berjalan) kemana-mana (Tatha Eva Eti). Pikiran yang demikian (Tat) yang pergi kemana-mana (Duram Gamam) dan paling bercahaya atau bersinar dalam semua cahaya (Jyotisam Jyoti) adalah hanya satu, yaitu pikiran (Ekam), dengan demikian “He Tuhan pikiran seperti itu (Tat Memana) menjadi baik, damai dan memiliki pikiran yang baik (Śivasṁkalpamastu)”. Yajurveda XXXIV.1
XV. Śānti mantra
Setiap mengakhiri suatu kegiatan keagamaan hendaknya ditutup dengan
permohonan kedamaian seperti diamanatkan dalam Śānti mantram berikut:
  1. Oṁ Dyauḥ śāntir antarikṣaṁ śāntiḥ pṛthivī śāntir āpaḥ śāntir oṣadhayaḥ śāntiḥ vanaspatayaḥ śāntir viśve devaḥ śāntir brahma śāntiḥ sarvaṁ śāntiḥ śāntir eva śāntiḥ sā mā śāntir edhi (Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, anugerahkamlah kedamain di langit, damai di angkasa, damai di bumi, damai di air, dami pada tumbuh-tumbuhan, damai pada pepohonan, dami bagi par Devata, damilah Brahma, damilah alam semesta. Semogalah kedamian senantiasadatang pada kami). Yayurveda XXXVI.17.
  2. Oṁ sarve bhavantu sukhinaḥ sarve śāntu niramayaḥ sarve bhadrāni paśyantu mā kaścid duḥkha bhāg bhavet (Ya Hyang Widhi, semoga semuanya memperleh kebahagiaan, semoga semuanya memperoleh kedamaian, semoga semuanya memperoleh  kebajikan dan saling pengertian dan semoga semuanya terbatas  dari penderitaan).
G. Penutup
Demikian keutamaan ūpacāra Hoṁa  Yajña/Agnihotra menurut kitab suci Veda, sudah tentu banyak hal yang mesti perlu dilakukan penelitian dan pengkajian kembali terhadap sumber-sumber yang ada baik dalam bahasa Sanskerta maupun Jawa Kuno. Semoga kata pengantar ini bermanfaat dalam rangka penyempurnaan tulisan ini dan semua pikiran yang baik dari segala penjuru.

Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Oṁ

Oleh : Shri Danu Dharma P. (I Wayan Sudarma)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes