12 Desember 2014

Hipotesis


Langkah menyusun landasan teori juga merupakan tahapan penelitian yang penting untuk membangun atau merumuskan suatu hipotesis. Landasan teori yang dipilih haruslah sesuai dengan ruang lingkup permasalahan. Landasan teoritis ini akan menjadi suatu asumsi dasar peneliti dan sangat berguna pada saat menentukan suatu hipotesis penelitian. Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian kuantitatif


Terdapat tiga alasan utama yang mendukung pandangan ini, di antaranya: Pertama, Hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis ini dapat dilihat dari teori yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti. Misalnya, sebab dan akibat dari konflik dapat dijelaskan melalui teori mengenai konflik. Kedua, Hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak benar atau difalsifikasi. Ketiga, hipotesis adalah alat yang besar dayanya untuk memajukan pengetahuan karena membuat ilmuwan dapat keluar dari dirinya sendiri. Artinya, hipotesis disusun dan diuji untuk menunjukkan benar atau salahnya dengan cara terbebas dari nilai dan pendapat peneliti yang menyusun dan mengujinya.
Secara prosedural hipotesis penelitian diajukan setelah peneliti melakukan kajian pustaka, karena hipotesis penelitian adalah rangkuman dari kesimpulan-kesimpulan teoritis yang diperoleh dari kajian pustaka. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang secara teoritis dianggap paling tinggi dan paling mungkin tingkat kebenarannya.
Untuk lebih memahami mengenai hipotesis berikut saya uraikan ringkasan dari beberapa sumber dan literature mengenai hipotesis.
Definisi Hipotesis
Hipotesis berasal dari bahasa Yunani: hypo= di bawah;thesis = pendirian, pendapat yang ditegakkan, kepastian. Artinya, hipotesa merupakan sebuah istilah ilmiah yang digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah yang mengikuti kaidah-kaidah berfikir biasa, secara sadar, teliti, dan terarah. Dalam penggunaannya sehari-hari hipotesa ini sering juga disebut dengan hipotesis, tidak ada perbedaan makna di dalamnya.
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.
Definisi hipotesis yang dikutip dari sumber dan literature
1.      Hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya (Wikipedia)
2.      Sutrisno Hadi, Menjelaskan bahwa Hipo berasal dari bahasa Yunani yang berarti di bawah, kurang, lemah. Thesa dalam bahasa Yunani mempunyai arti teori, proporsi yang diajukan sebagai bukti. Jadi hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah kebenarannya. (Sutrisno Hasi, 1976, Hal. 24).
3.      Winarno Surachmad, mengemukakan secara Etimologi, Hipotesis adalah sesuatu yang masih kurang dari Hypo, sebuah kesimpulan adalah pendapat (thesa). Dengan kata lain bahwa, hipotesa adalah sebuah kesimpulan pendapat tetap itu belkum final, masih harus dibuktikan kebenarannya. “Hipotesa adalah suatu jawaban dugaan, anggapan besar kemungkinan untuk menjadi jawaban yang benar” (Winarno Surachmad, 1983, hal. 38).
4.      Sedangkan ahli lain mengatakan bahwa, “Hipotesa tidak lain dari jawaban sementara terhadap masalah penelitia yang kebenaraanya harus diuji secara empiris”. (Moh. Nasir, Ph.D, 1983, hal.18).
5.      Menurut Erwan Agus Purwanto dan Dyah Ratih Sulistyastuti (2007:137), hipotesis adalah pernyataan atau dugaan yang bersifat sementara terhadap suatu masalah penelitian yang kebenarannya masih lemah (belum tentu kebenarannya) sehingga harus diuji secara empiris.
6.      Menurut Mundilarso (tanpa tahun dan halaman) mengatakan bahwa hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah tingkat kebenarannya sehingga masih harus diuji menggunakan teknik tertentu. Hipotesis dirumuskan berdasarakan teori, dugaan, pengalaman pribadi/orang lain, kesan umum, kesimpulan yang masih sangat sementara. Hipotesis adalah pernyataan keadaan populasi yang akan diuji kebenarannya menggunakan data/informasi yang dikumpulkan melalui sampel.
7.      Menurut Kerlinger (1973) mengatakan hipotesis adalah pernyataan yang bersifat terkaan dari hubungan antara dua atau lebih variabel.
8.      Menurut Gay, Mills, Airasian (2009:71), “a hypothesis is a researcher’s prediction of the research findings, statement of the research expectations about the relation among the variables in the research topic”. John W Creswell (2008) memberikan definisi, “hypothesis are statements in quantitative research in which the investigator makes a prediction or a conjecture about the outcome of a relationship among attributes or characteristics”.
9.      Menurut Bruce W. Tuckman (1972:75), “could be defines as an expectation about  the based on generalization of the assumed relationship between variables”. Best, John W, Kahn, James V (2003:11) memberikan definisi “The research or scientific hypothesis is a formal affirmative statement predicting a single research outcome, a tentative explanation  or the relationship between two or more variables”.
10.  Menurut Nanang Martono (2010:57), hipotesis dapat didefinisikan sebagai jawaban sementara yang kebenarannya harus diuji atau rangkuman kesimpulan secara teoritis yang diperoleh melalui tinjauan pustaka.
11.  James E Greighton dalam Nanang Martono (2010:57), hipotesis merupakan sebuah dukungan tentative atau sementara yang memprediksi situasi yang akan diamati.
12.  Lungberg dalam Nanang Martono (2010:57), mendefinisikan hipotesis sebagai sebuah generalisasi yang bersifat tentative, sebuah generalisasi tentative yang valid yang masih arus diuji.
13.  Menurut Goode dan Han dalam Nanang Martono (2010:58), hipotesis adalah sebuah proposisi yang harus dimasukan untuk menguji dan menentukan validitas, sebuah hipotesis menyatakan apa yang akan dicari.
14.  Nachmias dalam A Muri Yusuf (2005: 163), menyatakan bahwa hipotesis merupakan jawaban tentative terhadap masalah-masalah penelitian. Jawaban itu dinyatakan dalam hubungan dalam bentuk variabel bebas dan terikat.
15.  Fraenkel dan Wallen dalam A Muri yusuf (2005: 163), menyatakan hipotesis adalah :”a tentative, reasonable, testable assertion regarding the occurrence of certain behaviors, phenomena, or event: a prediction of study outcome”.
16.  Menurut Kerlinger hipotesis adalah pernyataan kira-kira atau dugaan sementara mengenai hubungan antara dua variabel atau lebih.
17.  Menurut A Muri Yusuf (2005: 163), hipotesis adalah kesimpulan sementara yang belum final; suatu jawaban sementara; suatu dugaan sementara; yang merupakan konstruk peneliti terhadap masalah penelitian, yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Kebenaran dugaan tersebut harus dibuktikan melalui penyelidikan ilmiah.
Fungsi Hipotesis
Kegunaan hipotesis secara garis besar yang dijelaskan pada Wikipedia sebagai berikut:
1.      Memberikan batasan dan memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
2.      Mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antar fakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
3.      Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai-berai tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
4.      Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antar fakta.
Oleh karena itu, kualitas manfaat dari hipotesis tersebut akan sangat tergantung pada:
1.      Pengamatan yang tajam dari si peneliti terhadap fakta-fakta yang ada.
2.      Imajinasi dan pemikiran kreatif dari si peneliti.
3.      Kerangka analisa yang digunakan oleh si peneliti.
4.      Metode dan desain penelitian yang dipilih oleh peneliti.
Ada beberapa pendapat tentang fungsi hipotesis berdasarkan ahli.  Menurut George J Mouley dalam Nanang Martono (2010:60), fungsinya antara lain:
1.      Hipotesis memberikan arahan dalam penelitian yang berguna untuk mencegah kajian literature dan pengumpulan data yang tidak relevan.
2.      Hipotesis menambah kepekaan peneliti mengenai aspek-aspek tertentu dari situasi yang tidak relevan dari sudut pandang masalah yang dihadapi.
3.      Hipotesis memungkinkan peneliti untuk memahami masalah yang diteliti dengan lebih jelas
4.      Hipotesis digunakan sebagai sebuah kerangka untuk meyakinkan peneliti.
Menurut Donald (1982:121) antara lain:
1.      Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.
2.      Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan yang langsung dapat diuji dalam penelitian
3.      Hipotesis memberikan arah kepada penelitian,secara sederhana hipotesis menunjukkan kepada peneliti apa yang harus dilakukannya berkaitan dengan fakta, sampel, dan analisis penelitian yang akan digunakan
4.      Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan.
Karakteristik Hipotesis
Ciri-ciri hipotesis yang baik menurut Donald (1982:124) antara lain:
1.      Hipotesis harus memiliki daya penjelas, yaitu hipotesis dikatakan baik jika didukung dengan penjelasan yang baik tentang masalah yang akan diteliti. Contoh: ketika spidol anda tidak bisa lagi digunakan untuk menulis anda memberikan hipotesis bahwa kursi anda patah. Penjelasan ini tidak tepat dan tidak menunjang hipotesis. Hipotesis yang menjelasan bahwa tinta spidol anda habis adalah benar dan perlu diuji.
2.      Hipotesis menjelaskan hubungan antar variabel-variabel. Maksudnya adalah meskipun ada pernyataan sebagai jawaban sementara akan tetapi tidak menunjukkan hubungan antar variabel maka hipotesis itu tidak dapat diuji. Contoh: “mesin mobil ini tidak akan hidup dan mesin ini memiliki jaringan kabel-kabel” pernyataan ini tidak menunjukkan hubungan antar variabel yang dapat diuji, namun jika pernyataan  berbunyi “akan terdapat hubungan positif antara motivasi belajar dan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam” maka hipotesis ini memenuhi syarat. Yaitu memiliki hubungan antar variabel yang dapat diuji
3.      Hipotesis harus dapat diuji, hipotesis yang baik harus dapat diuji. Peneliti dapat menarik kesimpulan dan perkiraan sedemikian rupa dari hipotesis yang dirumuskan. Contohnya “kerusakan mobil itu diakibatkan oleh dosa-dosa saya” merupakan hipotesis yang tidak dapat diuji didunia ini. Artinya adalah jika variabel tidak dapat diukur maka peneliti tidak mungkin dapat menguji validitas hipotesis tersebut atau tidak dapat menguji hipotesis.
4.      Hipotesis hendaknya konsisten dengan pengetahuan yang sudah ada, artinya tidak bertentangan dengan hipotesis, teori, dan hukum- hukum yang telah ada sebelumnya dan telah diakui validitasnya, contoh: “mesin mobil saya mati karena air akinya berubah menjadi emas” merupakan hipotesis yang tidak sesuai dengan apa yang telah diketahui orang tentang sifat-sifat benda, yaitu air aki yang berubah menjadi emas bertentangan dengan sifat benda. Sehingga hipotesis hendaknya dibuat sesuai dengan pengetahuan yang sudah mapan dibidang itu.
5.      Hipotesis hendaknya dibuat sesederhana dan seringkas mungkin, tujuannya adalah agar mudah diuji dan memudahkan dalam penyusuan laporan.
Jenis Hipotesis
Penetapan hipotesis tentu didasarkan pada luas dan dalamnya serta mempertimbangkan sifat dari masalah penelitian. Oleh karena itu, hipotesispun bermacam-macam, ada yang didekati dengan cara pandang: sifat, analisis, dan tingkat kesenjangan yang mungkin muncul pada saat penetapan hipotesis.
Jenis-jenis hipotesis berdasarkan hubungan antar variabel dalam Nanang Martono (2010:63), yaitu:
1.      Hipotesis deskriptif
Hipotesis deskriptif merupakan hipotesis yang menggambarkan  sebuah kelompok atau variabel tanpa menghubungkan dengan variabel lain. Hipotesis deskriptif juga mampu memberikan gambaran atau deksripsi tentang sampel penelitian. Contoh 70% peduduk di pedesaan bekerja sebagai petani.
2.      Hipotesis asosiasitf
Hipotesis asosiatif merupakan jenis hipotesis yang menjelaskan hubungan antar variabel. Hipotesis ini dalam sebuah penelitian selalu dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang menjelaskan hubungan antar dua variabel atau lebih. Contoh jenis kelamin mempengaruhi prestasi belajar.
Neuman dalam Nanang Martono (2010:63), menjelaskan karakteristik hipotesis asosiatif yang baik antara lain:
a.       Mempunyai minimal dua variabel yang dihubungkan
b.      Menunjukan hubungan sebab akibat atau pengaruh mempengaruhi di anatara dua variabel atau lebih
c.       Menunjukan perkiraan atau prediksi mengenai hasil yang diharapkan
d.      Menghubungkan secara logis antara masalah penelitian dengan teori
e.       Dapat diuji kembali dalam fakt-fakta empiris dan menunjukan kebenaran atau kesalahan.
3.      Hipotesis komparatif
Hipotesis komparatif merupakan hipotesis yang menyatakan perbandungan antara sampel atau variabel yang satu dengan variabel lain. Contoh terdapat perbedaan prestasi belajar anatara siswa laki-laki dan perempuan.
Selain hipotesis tersebut, ada jenis hipotesis yang dibedakan berdasaran keberadaan hubungan antar variabel:
1.      H1 (Baca: H satu)
Yaitu hipotesis yang menyatakan keberadaan hubungan di antara dua variable yang sedang dioperasionalkan. Menurut Suharsimi Arikunto (2009:47), hipotesis alternaitf adalah yang menyatakan adanya hubungan antar variabel. Contoh terdapat hubungan yang signifikan antara kepercayaa diri dengan prestasi belajar.
2.      H0 (Baca: H Nol)
Yaitu hipotesis yang menyatakan ketiadaan hubungan di antara dua variabel yang sedang dioperasionalkan. Pengertian tersebut sesuai dengan pendapat Suharsimi Arikunto (2009:47), hipotesis nol menyatakan ketidak adanya hubungan antara variabel. Dalam notasi, hipotesis ini dituliskan dengan Ho. Contoh tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsep diri dan motivasi berprestasi.
Berdasarkan ruang lingkup besar kecilnya variabel, hipotesis dapat dibagi menjadi hipotesis mayor dan minor.
1.      Hipotesis Mayor adalah hipotesis mengenai kaitan seluruh variabel dan seluruh subjek penelitian. Contohnya banyaknya makan berpengaruh pada tingkat kekenyangan
2.      Hipotesis minor adalah hipotesis mengenai kaitan sebagian dari variabel atau dengan kata lain pecahan dari hipotesis mayor. Contohnya:
a)      Banyaknya makan nasi berpengaruh terhadap tingkat kekenyangan
b)      Banyaknya makan kue berpengaruh pada tingkat kekenyangan.
Berdasarkan cara proses hipotesis itu diperoleh, hipotesis dibagi menjadi dua yakni:
1.      Hipotesis Induktif menurut Gay, Mills, Airasian (2009:73), yakni “the researcher’s observer that certain patterns or association among variables occur in a number of situation and uses these tentative observation to form and inductive hypothesis”. Dalam prosedur induktif, peneliti merumuskan hipotesis sebagai suatu generalisasi dari hubungan-hubungan yang yang diamati. Peneliti melakukan pengamatan terhadap tingkah laku, memperhatikan kecendrungan-kecenderungan atau kemungkinan adanya hubungan-hubungan, dan kemudian merumuskan penjelasan sementara tentang tingkah laku yang diamati itu (Donald, 1982:124).
2.      Hipotesis Deduktif menurut Gay, Mills, Airasian (2009:73) “derived from theory and provides evidence that supports, expand, or contradict the theory”. Hipotesis ini memiliki kelebihan dapat mengarah pada sistem pengetahuan yang lebih umum, karena kerangka untuk menempatkan secara berarti ke dalam bangunan pengetahuan yang telah ada dalam teori itu tersendiri. Hipotesis yang berasal dari teori dinamakan hipotesis deduktif (Donald, 1982:125).
Secara sederhana hipotesis jenis hipotesis dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      HIPOTESIS KERJA / ALTERNATIF (Ha)
- ada hubungan antara 2 variabel
- ada perbedaan antara 2 variabel
Rumusan Hipotesis kerja (Ha):
a. Jika ………. maka …….
b. Ada perbedaan antara …………. dan ………..
c. Ada pengaruh ………. terhadap ……..
2.      HIPOTESIS NOL (Ho) / HIPOTESIS STATISTIK:
- dipakai dalam penelitian yang bersifat statistik
- tidak ada perbedaan antara 2 variabel
- tidak adanya pengaruh variabel X terhadap var. Y
Rumusan Ho:
a. Tidak ada perbedaan antara …… dengan ……..
b. Tidak ada pengaruh …………terhadap …………..
3.      MACAM-MACAM KEKELIRUAN KETIKA MEMBUAT KESIMPULAN TENTANG HIPOTESIS
a.       GALAT JENIS I (TYPE I ERROR)
= α Hipotesis (Ho) benar ------------- Hipotesis ditolak * Rumusan hipotesis benar, hasil analisis data tidak terbukti ------ Ho ditolak
b.      GALAT JENIS II (TYPE II ERROR)
 = β Hipotesis (Ho) salah -------------- Ho diterima *Rumusan hipotesis salah, hasil analisis data terbukti ------ Ho diterima
Tahapan Menentukan Hipotesis Secara Umum
1.      Penentuan masalah. Dasar penalaran ilmiah ialah kekayaan pengetahuan ilmiah yang biasanya timbul karena sesuatu keadaan atau peristiwa yang terlihat tidak atau tidak dapat diterangkan berdasarkan hukum atau teori atau dalil-dalil ilmu yang sudah diketahui. Dasar penalaran pun sebaiknya dikerjakan dengan sadar dengan perumusan yang tepat. Dalam proses penalaran ilmiah tersebut, penentuan masalah mendapat bentuk perumusan masalah.
2.      Hipotesis pendahuluan atau hipotesis preliminer (preliminary hypothesis). Dugaan atau anggapan sementara yang menjadi pangkal bertolak dari semua kegiatan. Ini digunakan juga dalam penalaran ilmiah. Tanpa hipotesa preliminer, observasi tidak akan terarah. Fakta yang terkumpul mungkin tidak akan dapat digunakan untuk menyimpulkan suatu konklusi, karena tidak relevan dengan masalah yang dihadapi. Karena tidak dirumuskan secara eksplisit, dalam penelitian, hipotesis priliminer dianggap bukan hipotesis keseluruhan penelitian, namun merupakan sebuah hipotesis yang hanya digunakan untuk melakukan uji coba sebelum penelitian sebenarnya dilaksanakan.
3.      Pengumpulan fakta. Dalam penalaran ilmiah, diantara jumlah fakta yang besarnya tak terbatas itu hanya dipilih fakta-fakta yang relevan dengan hipotesa preliminer yang perumusannya didasarkan pada ketelitian dan ketepatan memilih fakta.
4.      Formulasi hipotes. Pembentukan hipotesa dapat melalui ilham atau intuisi, dimana logika tidak dapat berkata apa-apa tentang hal ini. Hipotesa diciptakan saat terdapat hubungan tertentu diantara sejumlah fakta. Sebagai contoh sebuah anekdot yang jelas menggambarkan sifat penemuan dari hipotesa, diceritakan bahwa sebuah apel jatuh dari pohon ketika Newton tidur di bawahnya dan teringat olehnya bahwa semua benda pasti jatuh dan seketika itu pula dilihat hipotesanya, yang dikenal dengan hukum gravitasi.
5.      Pengujian hipotesa, artinya mencocokkan hipotesa dengan keadaan yang dapat diobservasi dalam istilah ilmiah hal ini disebut verifikasi(pembenaran). Apabila hipotesa terbukti cocok dengan fakta maka disebut konfirmasi. Terjadi falsifikasi(penyalahan) jika usaha menemukan fakta dalam pengujian hipotesa tidak sesuai dengan hipotesa, dan bilamana usaha itu tidak berhasil, maka hipotesa tidak terbantah oleh fakta yang dinamakan koroborasi(corroboration). Hipotesa yang sering mendapat konfirmasi atau koroborasi dapat disebut teori.
6.      Aplikasi/penerapan. apabila hipotesa itu benar dan dapat diadakan menjadi ramalan (dalam istilah ilmiah disebut prediksi), dan ramalan itu harus terbukti cocok dengan fakta. Kemudian harus dapat diverifikasikan/koroborasikan dengan fakta.
Menguji Hipotesis
Hipotesis berfungsi untuk memberi suatu penyataan terkaan tentang hubungan tentative antara fenomena-fenomena dalam penelitian. Kemudian hubungan tersebut diuji validitas dan reliabilitasnya menurut teknik-teknik yang sesuai untuk keperluan pengujian.
Untuk menguji hipotesis diperlukan :
1.      Data atau fakta dan kerangka pengujian hipotesis harus ditetapkan dahulu sebelum si peneliti mengumpulkan data
2.      Pengetahuan yang luas tentang kerangka teori, penguasaan penggunaan teori secara logis, statistik dan teknik-teknik pengujian. Cara pengujian hipotesis tergantung pada metode desain penelitian yang digunakan.
Demikian sedikit ulasan mengenai hipotesis semoga dapat membantu.

Refrensi
Sutrisno Hadi, 1975, Metodologi Research Jilid I, Yayasan Penerbit : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada, Yogyakarat
M. Nashir , Ph.D, 1983, Metodologi Penelitian, Jakarta Gallia Indonesia.
A.    Muri Yusuf. 2005. Metodologi Penelitian. Padang. UNP Press.
Creswell, John W.  2008. Educational Research: Planning, conducting, and evaluating quantitative and qualitative research third edition. New Jersey: Pearson Education Inc.
Donald, Ary, dkk ( Penterjemah Arief Furchan). 1982. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Surabaya. Usaha Nasional.
Jogiyato HM. 2008. Metodologi Penelitian Sistem Informasi. Jogja. Andi.
John W. Best dan James V. Kahn. 2003. Research in Education. New Jersey. Pearson Education Inc.
L.R, Gay, Milla E, and Airasian, Peter W. 2009. Educational Research: Competencies for analysis and applications. New Jersey. Pearson Education Inc.
Lufri, 2007. Kiat Memahami Metodologi dan Melakukan Penelitian. Padang. UNP Press.
Nanang Martono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif: Analisa isi dan Analisis data sekunder. Jakarta. Raja Grafindo Persada.
Suharsimi Arikunto. 2009. Manajemen Penelitian. Jakarta. Rineka Cipta.
Tuckman, Bruce W. 1972. Conducting Educational Research. New York. Harcourt Brace Jovanovich, Inc.
http://ekosujadi-bintan.blogspot.com
http://mujahidinimeis.wordpress.com
http://diditnote.blogspot.com
http://vekey.blogspot.com



EmoticonEmoticon