Results for Hindu
Oṁ Swastyastu
Yatrā suhārdāṁ sukṛtam – agnihotrahutaṁ yatrā lokaḥ, taṁ lokaṁ yamniyabhisambhuva  sā no ma hiṁsit puruśān paśuṁūca – Di mana mereka yang hatinya mulia bertempat tinggal,  orang yang pikirannya damai dan mereka yang mempersembahkan Agnihotra, di sanalah majelis (pimpinan masyarakat) bekerja dengan baik, memelihara masyarakat, tidak menyakiti mereka dan binatang ternaknya.  Atharvaveda XXVIII.6
A. Hoṁa  Yajña/Agnihotra dalam kitab suci Veda dan susastra Sanskerta
Sumber tertua tentang ūpacāra Hoṁa  Yajña/Agnihotra dapat kita jumpai dalam kitab suci Veda khususnya kitab Ṛgveda X.66.8. Demikian pula kitab Atharvaveda VI.97.1 dan yang lain-lain yang secara tradisional oleh umat Hindu di India disebut Yajña atau Yaga. Jadi bila di India kita mendengar umat Hindu melakukan Yajña atau Yaga yang dimaksud tidak lain adalah Agnihotra walaupun secara leksikal pengertian Yajña atau Yaga jauh lebih luas dibandingkan dengan Agnihotra. Agnihotra dalam pengertian leksikal (masculinum, neutrum dan femininum) yang dimaksud persembahan suci kepada Sang Hyang Agni (api suci) teristimewa adalah persembahan susu, minyak susu dan susu asam. Ada dua macam Agnihotra yaitu yang dilakukan secara rutin (konstan) umumnya 2 kali sehari pagi dan sore (nitya atau nityakāla) dan Agnihotra yang dilakukan secara insidental (kāmya atau naimitikakāla/Monier, 1993: 6).
Istilah yang lain untuk Hoṁa  Yajña/Agnihotra adalah Huta (persembahan kepada Sang Hyang Agni) oleh karena itu kita mengenal pula istilah Hotṛi yang juga berarti api. Agnihotra juga disebut Havan dan kata Havani berarti sendok (yang dalam bahasa Sanskerta disebut Juhu) untuk menuangkan persembahan cair. Nama Hoṁa  mengandung arti persembahan berbentuk cairan yang dituangkan ke dalam api suci (Loc.Cit.). Sumber-sumber lainnya tentang ūpacāra Agnihotra adalah kitab-kitab Brāhmaṇa di antaranya Kauśītaki, Sathapatha, dan Aitareya Brāhmaṇa. Selanjutnya bila kita melihat-kitab-kitab Sūtra khususnya tentang Kalpasūtra, Gṛhyasūtra, Śrautasūtra dan lain-lain selalu kita menemukan informasi tentang betapa pentingnya ūpacāra Hoṁa  Yajña/Agnihotra ini. Kitab-kitab Śrautasūtra  (Aśvalāyana S.S.II.1.9, Saṇkhāyana S.S.II.1, Lāthyāyana S.S.IV.9.10., Kātyāyana S.S.IV.7-10., Mānava S.S.I.5.1., Vārāha S.S.I.4.1., Baudhayana S.S.II., Bhāradvāja S.S.V., Āpastamba S.S.V.1., Hiraṅyakeśi S.S.III.1-6, Vaikhānasa S.S.I, Vādhūa S.S.1.,Vaitāna S.S.5-6) menggambarkan bermacam-macam bentuk tentang persembahan Hoṁa  Yajña / Agnihotra yang secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut: Seorang pelaksana Agnyadhāna hendaknya setiap hari mempersembahkan persembahan kepada api suci Agnihotra pagi dan sore hari apakah dilakukan oleh perseorangan atau di bawah pimpinan seorang Adhvaryu. Bila tiada seorang Adhvaryu yang memimpin, kepala keluarga dapat melakukannya teristimewa pada waktu bulan purnama dan bulan baru terbit. Dari kitab-kitab Śrautasūtra  dan juga kitab Brāhmaṇa kita mendapat informasi tentang betapa pahala yang diperoleh bagi mereka yang mempersembahkan atau melaksanakan ūpacāra Agnihotra, dinyatakan bahwa segala keinginannya akan tercapai. Api suci hendaknya tetap menyala pada rumah-rumah para Gṛhastha. Mereka yang secara rutin melakukan Agnihotra, maka kemakmuran akan dapat terwujud. Agnihotra dengan mempersembahkan biji-bijian, minyak susu, susu, susu asam dan lain-lain yang kini di India disebut Samagri, diikuti dengan pengucapan mantram-mantram, terutama mantram Veda dan hendaknya dilakukan seseorang selama hidupnya atau sampai mencapai tingkatan hidup sebagai Saṁnyāsin (Ram Gopal, 1983: 535). Hoṁa  Yajña/Agnihotra merupakan persembahan wajib yang dilakukan oleh setiap Gṛhastha  karena hanya Gṛhastha secara sempurna dikatakan dapat melakukan Yajña dan Agni yang dimaksud dalam Agnihotra adalah Tuhan Yang Maha Esa yang bila dilaksanakan pada pagi hari maka persembahan itu ditujukan kepada Sūrya, mantram yang selalu diucapkan adalah:
Oṁ Bhūr Bhūvaḥ Svaḥ Oṁ Sūrya Jyotiḥ Jyotiḥ Sūrya Svaha  dan bila dilakukan sore hari (menjelang malam) ditujukan kepada Agni dengan mengucapkan mantram:
Oṁ Bhūr Bhūvaḥ Svaḥ Oṁ Sūrya Jyotiḥ Jyotiḥ Agni Svaha (Abhinash Chandra Das, 1979: 493).
Selanjutnya dalam kitab-kitab Itihāsa dan Purāṇa dan juga kitab-kitab Agama atau Tantra, ūpacāra Agnihotra senantiasa dilaksanakan dan tentu pula mantram yang digunakan, di samping mantram-mantram Veda adalah mantram-mantram yang bersifat Pauranic, Agamic atau Tantrik. Kini kita melihat umat Hindu di India, bahwa setiap kegiatan ūpacāra, maka ūpacāra Agnihotra senantiasa merupakan persembahan yang istimewa, artinya dalam perkawinan, ūpacāra kematian, ūpacāra Śarīra Saṁskara (yang di Indonesia disebut Manusa Yajña) dan pada hari-hari raya keagamaan, ūpacāra Agnihotra senantiasa dilaksanakan. Bagi Sampradaya Arya Samaj yang didirikan oleh Swami Dayananda Sarasvati (1875) maka ūpacāra ini merupakan kewajiban suci yang mesti dilaksanakan.
B. Hoṁa  Yajña/Agnihotra menurut sumber Jawa Kuno (Kawi)
Bila kita membuka sumber tertua Jawa Kuno, maka dalam bagian awal dari kakawin Rāmāyana, yakni ketika prabhu Daśaratha memohon kelahiran putra-putranya dipimpin oleh Maharsi Ṛṣyaśṛṅga keturunan Gadhi kita mendapatkan informasi tentang ūpacāra Agnihotra sebagai berikut:
  • Saji ning yajña ta humadang, śrī wṛkṣa samiddha puṣpa gandha phala,
    dadhi ghṛta kṛṣṇatila madhu. mwang kuśāgra wṛtti wetiḥ (24)
  • Lumekas ta sira mahoṁa , pretadi pisaca raksasa minantram, bhuta kabeh inilagaken, asing mamighna rikang Yajña (25)
  • Sakali karana ginawe, awahana len pratista sannidhya, Parameswara inangen-angen, umunggu ring kunda bahnimaya (26).
  • Sampun Bhatāra inenah, tinitisaken tang miñak sasomyamaya, lawan kṛṣṇatila madhu, śrī wṛkṣa samiddha rowang nya (27)
  • Sang Hyang Kunda pinuja, caru makulilingan samatsyamāngsadadhi, kalawan sekul niwedya. inames salwir nikang marasa (28)
  • Ri sedeng Sang Hyang dumilah, niniwedyaken ikanang niwedya kabeh, Ośadi len phala mūla, mwang kembang gandha dhūpādi (29)
  • Sampun pwa sira pinuja, bhinojanan sang mahārṣi paripūrna, kalawan sang wiku sāksi, winursita dinaksinān ta sira (30). Rāmāyana I. 24-30.
v  Sesajen ūpacāra korban telah siap, kayu cendana, kayu bakar, bunga, harum-haruman dan buah-buahan, susu kental, mentega, wijen hitam, madu, periuk, ujung alang-alang, bedak dan bertih (24).
v  Mulailah beliau melangsungkan ūpacāra korban api (Agnihotra), roh jahat dan sebagainya, pisaca dan raksasa dimentrai. Bhuta Kala semuanya diusir, segala yang akan menggangu ūpacāra korban itu (25).
v  Segala perlengkapan ūpacāra telah tersedia. Doa dan tempat peralatan hadirnya Devata. Bhatara Śiva yang dimohon kehadiran-Nya, hadir pada tunggu persembahan (26).
v  Sesudah Devata disthanakan, diperciki minyak “sOṁa”, wijen hitam dan kayu cendana beserta kayu bakar (27).
v  Api ditungku dipuja, di kelilingi dengan caru dan ikan, daging dan susu kental, bersama nasi sesaji persembahan, dicampur dengan segala yang mengandung rasa (28).
v  Pada waktu api di tungku itu menyala-nyala, dipersembahkan sesaji itu semua, tumbuh-tumbuhan bahan obat-obatan, buah-buahan dan akar-akaran, kembang harum-haruiman, dupa dan sebagainya (29).
v  Sesudah Beliau disembah (selesai acara pemujaan), disuguhkan suguhan kepada para maharsi, bersama para wiku (pandita) yang menjadi saksi, mereka dihormati dipersembahkan hadiah untuk beliau (30).
Sumber Jawa Kuna lainnya adalah Agastya parwa (355) yang menjelaskan berbagai macam Yajña (Pañca Maha Yajña) yang dalam uraiannya tentang Deva Yajña secara tegas menyatakan bahwa Deva Yajña adalah persembahan kepada Śivāgni yang dimaksud tidak lain adalah Agnihotra sedang Korawāsrama, menyatakan bahwa Deva Yajña adalah ūpacāra persembahan berupa makanan dan pengucapan mantram-mantram Stuti dan Stava (Hooykaas, 1975: 247) menunjukkan bahwa mantram Veda merupakan sarana dalam Deva Yajña yang tidak lain juga hampir sama dengan pelaksanaan Agnihotra. Di dalam kakawin Sutasoma 79.8, Tantri Kāmanîaka 142 dan Nāgarakṛtāgama 8.4 dinyatakan bahwa ūpacāra Agnihotra atau Hoṁa yajña tersebut merupakan pusat dari ūpacāra korban.
Sumber lainya dalam bahasa Jawa Kuno adalah kitab Ādiparwa (197) yang menyatakan: mangarpaṇaken udakañjali, magaway agnihortra, yang artinya memper-sembahkan air penyuci tangan dan melaksanakan Agnihotra (Mardiwarsito,1981: 13). Di samping sumber tersebut di atas, pelaksanaan Agnihotra atau Hoṁa yajña dijelaskan pula dalam kitab-kitab susastra Jawa Kuno seperti: Brahmanda Purāna 127 dan 178, Wirataparwa 12, Rāmāyana 5.9, SutasOṁa 1.11;109.4;110.6;119.12, Nāgarakṛtāgama 83.6, Nitiśāstra 8.1;1.114, Tantu Pagelaran 90, Kidung Harsawijaya 6.85; 6.93, Arjunawijaya 53.3; 53.4, Partayajña 11.10, Sasasamuccaya 64, Ślokātara 41, Tantri Kāmandaka 38, Tantri Kadiri 1.38, Calon Arang 122. Salah satu usaha untuk menyucikan diri bagi seorang Sadhaka adalah dengan melakukan Agnihotra atau Hoṁa yajña:
Śuddha ngaranya eñjing-eñjing madyus, aśuddha śarīra, masūrya sewana, mamuja,
majapa, mahoṁa
 - Bersihlah namanya, tiap hari membersihkan diri, sembahyang kepada Sang Hyang Sūrya , melakukan pemujaan, melakukan Japa dan melaksanakan Hoṁa yajña. Śīlakrama, lamp.41.
Berdasarkan kutipan tersebut di atas, bahwa Agnihotra atau Hoṁa Yajña dilaksanakan pula di Indonesia (Bali) dan sebagai pendukung data ini kita masih dapat mengkajinya melalui peninggalan purbakala (arkeologi) dan tradisi yang hidup dalam masyarakat. Salah satu peninggalan purbakala adalah adanya lobang api (Yajñaśala atau Vedi) tempat dilaksanakan-nya ūpacāra Agnihotra. Tempat atau lobang api ini dapat pula kita saksikan di salah satu Gua Pura Gunung Kawi yang diyakini oleh penduduk sebagai Geria Brahmana terdapat sebuah lobang dalam sebuah altar di tengah-tengah gua, yang rupanya dikelilingi duduk oleh pelaksana ūpacāra Agnihotra. Peninggalan berupa lobang tempat api unggun itu adalah Yajñakunda (Yajñaśala) dikuatkan pula dengan adanya lobang api di bagian atap sebagai ventilasi keluarnya asap dari tempat dilangsungkannya ūpacāra Agnihotra. Nama-nama seperti Keren, Kehen, Hyang Api Hyang Agni (Hyang geni) dan Śala menunjukkan tempat yang berkaitan dengan dilangsungkannya ūpacāra Agnihotra.
Sumber tradisi di antaranya adalah penggunaan pasepan oleh para pamangku, dedukun atau sedahan desa, menunjukkan pula pelaksanaan Agnihotra dalam bentuknya yang sederhana, sayang tradisi menggunakan pasepan dengan mempersembahkan darang asep atau kastanggi kini nampaknya semakin memudar, pada hal yang penting dalam mempersembahkan pasepan adalah mempersembahkan darang asep tersebut. Kami mendapatkan pula sebuah informasi lisan, yang perlu dikaji kembali lebih seksama, bahwa ūpacāra Agnihotra terakhir terjadi pada masa kerajaan Klungkung di bawah raja Dalem Dimade. Konon saat itu, ketika pelaksanaan ūpacāra Agnihotra berlangsung, panggung tempat ūpacāra terbakar, dan sejak itu raja memerintahkan untuk melaksanakan ūpacāra Agnihotra yang kecil dan sederhana dengan menggunakan pasepan (padupan) saja. Bila informasi tersebut benar, maka sejak itulah tradisi melaksanakan ūpacāra Agnihotra mulai memudar di Bali.
C. Hoṁa  Yajña/Agnihotra dalam stuti atau stava
Sayang sekali penelitian ke arah pūjā, stuti atau stava hampir tidak pernah lagi dilakukan setelah meninggalnya Prof.Dr.Hooykaas. Syukur dalam karya bersamanya dengan T.Goudriaan (dalam Stuti and Stava, Bauddha, Śaiva and Vaiṣṇava Balinesse Brahman Priests, 1970: 23) kita menemukan informasi tentang 8 buah lontar yang isinya adalah puja Hoṁa  atau Agnihotra. Empat di antaranya menggunakan judul Agni Janana, sedang sisanya menggunakan judul Hoṁa .
Memperhatikan stuti atau stava yang telah dikaji oleh T.Goudriaan dan C.Hooykaas maka jelaslah bagi kita bahwa mantram-mantram yang disebutkan dalam lontar-lontar tersebut di atas adalah mantram Agnihotra atau Hoṁa yajña, di antaranya memakai judul Sūrya stava, Saptapūjā, stuti Bhatāra Tripuruṣa, Rudra Gāyatrī Dhyāna, Brahmastava, Liṅgastava, Pṛthivīstava, Ātmakunda, Viṣṇu Gāyatrī, Rudra Gāyatrī, Viṣṇustava dan lain-lain menunjukkan karakter mantra-mantra tersebut bersifat Tantrik yang berbeda dengan Agnihotra seperti yang dikembangkan atau dilaksanakan oleh Arya Samaj di India yang menekankan penggunaan mantram-mantram Veda.
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka di masa yang lampau pelaksanaan Agnihotra menggunakan mantram-mantram yang bersifat Tantrik, seperti juga yang oleh sebagian digunakan oleh Sampradaya-Sampradaya di India Devasa ini. Sayang kita belum menemukan praktek pelaksanaan Agnihotra yang pernah dilaksanakan oleh para pandita Hindu di Bali di masa yang silam. Mengapa tradisi Agnihotra kini tidak lagi kita jumpai di kalangan para pandita atau di masyarakat ? Untuk menjawab permasalahan ini kiranya penelitian ke arah itu sangat perlu dilakukan.
D. Keutamaan ūpacāra Hoṁa  Yajña/Agnihotra
Segala sesuatu yang diketahui atau dirasakan manfaatnya tentu akan dicari atau dilaksanakan oleh umat manusia. Demikian pula halnya ūpacāra Hoṁa  Yajña/ Agnihotra. Berbagai penelitian ilmiah membuktikan bahwa Agnihotra demikian sangat penting artinya bagi kehidupan umat manusia. Salah satu buku yang menguraikan tentang manfaat Agnihotra adalah Hoṁa  Therapy, Or Last Chance diterbitkan oleh Fivefold Path, Inc. Parama Dham (House of Almighty Father), Madison, Virginia, USA,1989 yang menguraikan manfaatnya bagi kesehatan umat manusia.
Sebagai telah diuraikan pada bagian depan dari tulisan ini, Agnihotra atau persembahan kepada api suci adalah merupakan salah satu ūpacāra Veda yang dilakukan setiap hari. Kitab Aitareya Brāhmana (V.26) menghubungkan ūpacāra ini dengan seluruh Deva (Viśvedeva) yang diharapkan memberi perlindungan dan kesuburan ternak, sedang kitab Kauśītaki Brāhmana (II.1) mengidentifikasikan persembahan Agnihotra adalah persembahan kepada Deva Sūrya  dan menurut kitab suci Veda (Ṛgveda I.115.1) Sūrya adalah jiwa atau Ātma dari seluruh alam semesta, yang bergerak dan yang tidak bergerak (sūrya ātma jagatas tasthusaś ca).  Mantram-mantram yang digunakan dalam ūpacāra Agnihotra umumnya dipetik dari kitab suci Veda, Ṛgveda, Yajurveda (salah satu yang sangat terkenal adalah Agnir jyotir jyotir agnir svāhā, Sūrya  jyotir yotiḥ Sūrya  svaha, III.9), dan beberapa mantram dari Atharvaveda. mantram lainnya biasanya dari mantram sampradaya tertentu, misalnya Śaivisme menggunakan mantram pemujaan kepada Ganeśa, Durgāsaptasati, Śivamahimastotra dan lain-lain. Di dalam Śatapatha Brāhmana (II.3.1.1) dinyatakan bahwa Agnihotra diidentikkan dengan Sūrya : Agnihotra tidak lain adalah (pemujaan kepada) Sūrya . Karena ia muncul dari depan (agra) dari segala persembahan, oleh karena itu Agnihotra adalah Sūrya . Agnihotra adalah persembahan sehari-hari berupa cairan yang dituangkan ke dalam api, terdapat dua macam, yaitu ada yang dilakukan sebulan sekali dan yang dilakukan sepanjang aktivitas hidup. Persembahan Havana dilakukan pagi dan sore dan selanjutnya  orang yang mempersembahkannyapun ketika ia meninggal ia dibakar melalui ūpacāra Agnihotra. Persembahan Yajña ghṛta (minyak mentega yang dijernihkan) dan biji-bijian yang harum dituangkan di atas batang-batang kayu kering yang dibakar diikuti dengan pengucapan mantram-mantram Veda. Yajña dilakukan pula pada bulan mati (Amavasya) dan pada bulan purnama (Pūrṇamasi atau Pūrṇima). Agnihotra adalah ūpacāra yang sangat penting dari ūpacāra-uapacara Veda yang dilakukan pada pagi dan sore hari oleh para Gṛhastha  (keluarga). Kitab Mahābhārata menyatakan: Seperti seorang raja di antara umat manusia, seperti Gāyatrī mantram di antara seluruh mantram, demikian pula ūpacāra Agnihotra adalah ūpacāra yang sangat penting di antara semua ūpacāra-ūpacāra Veda ( Ganga Ram Garga, 1992: 217).
Mengingat peranan fungsi-fungsi mantram, khususnya mantram Gāyatrī dan Mahāmṛtyuñjaya serta ūpacāra ini dapat mengusir kekuatan-keuatan jahat sebagai digambarkan dalam kitab-kitab Itihāsa dan Purāṇa, maka ūpacāra Hoṁa  Yajña/ Agnihotra yang sering disebut sebagai The Jewel of all Yajñas sangat besar manfaatnya bila dilakukan dengan penuh kekhusukan sesuai dengan syarat pelaksanaan sebuah Yajña.
E. Pelaksanaan ūpacāra Hoṁa  Yajña / Agni Hotra dan Sarananya
Seperti telah diuraikan di atas, Hoṁa  Yajña/Agnihotra adalah ūpacāra Veda yang merupakan permata atau mutiara dari semua Yajña dalam agama Hindu. Seperti pengamatan kami di india, ūpacāra ini dilaksanakan dalam berbagai kegiatan ūpacāra Pañca Yajña, baik Deva Yajña, Pitra Yajña, Ṛṣi Yajña, Nṛ atau Manusa Yajña, demikian pula dalam pelaksanaan ūpacāra-ūpacāra besar di Bali di masa yang silam, dilaksanakan pula ūpacāra yang sangat utama ini.
Persembahan Hoṁa  Yajña/Agnihotra sebaiknya dipimpin oleh seorang Dvijati atau pandita (pūjāri), bila tidak memungkinkan dapat dilaksanakan oleh seorang pamangku atau pinandita yang hidupnya senantiasa Vegetarian. Para peserta mengiringi pemimpin ūpacāra dengan mengucapkan Svāha (untuk Deva Yajña dan Yajña yang lain) dan Svādha khusus untuk ūpacāra Hoṁa  Yajña yang dilakukan dalam rangka Pitra Yajña, pada akhir setiap mantra dengan sekaligus mempersembahkan persembahan yang telah disediakan dengan bahan persembahkan ditempatkan di atas telapak tangan dalam posisi tengadah yang disorongkan kedalam Kunda atau Vedi, tempat api persembahan berkobar. Hoṁa  Yajña yang dilakukan dalam rangka ūpacāra kematian, biasanya dilakukan setelah 12 hari selesai pembakaran jenasah (Antyesti atau Ngaben), sebelum hari tersebut dipandang masih dalam keadaan Cuntaka. Peserta yang mengikuti ūpacāra Hoṁa  Yajña/Agnihotra dilarang bercakap-cakap dengan sesama peserta, merokok, minum minuman keras dan melakukan penyucian diri (mandi besar) seandainya sebelumnya melakukan hubungan suami-istri.
Sebelum secara khusus membahas pelaksanaan ūpacāra Yajña ini, kiranya perlu diketengahkan tata-tertib untuk melaksanakan dan mengikuti ūpacāra yang sangat suci ini, antara lain: peserta telah datang 15 menit sebelum ūpacāra dimulai, diharapkan memakai pakaian sembahyang, yang dibenarkan duduk di sekeliling kunda, vedi atau lobang api hanyalah mereka yang telah didvijati (pandita) atau pamangku (pinandita), sedang peserta lainnya mengambil posisi dari para pandita atau pinandita tersebut. Sang Yajamana atau yang mempersembahkan ūpacāra dan seluruh peserta ūpacāra tidak diperkenankan meninggalkan ūpacāra sebelum ūpacāra selesai dilaksanakan. Posisi duduk peserta ūpacāra adalah: peserta wanita di sebelah kiri dan laki-laki di sebelah kanan kunda atau vedi. Dilarang keras mempersembahkan ke dalam api suci bahan-bahan kimia berupa plastik, lilin, dupa atau bahan-bahan yang telah jatuh ke tanah, karena telah cemar atau lungsuran. Pelaksanaan Hoṁa  Yajña/Agnihotra dimulai dengan menyiapkan air suci (sedapat mungkin Tirtha Gangga), dan sangat baik bila seorang atau beberapa Dvijati (pandita) terlebih dahulu “ngarga” atau memohon Tīrtha dengan menghadirkan dewi Gangga (dengan sarana Ganggastava) di dalam Kumbha (di atas Tripada) sebagai sarana dalam acara Hoṁa  Yajña/Agnihotra. Selanjutnya dilakukan penyucian diri (acamana) dan Praṇāyama. Setelah penyucian diri dan praṇāyama dilanjutkan dengan pemujaan kepada Agni (menggunakan mantra Agni Sūkta/Ṛgveda I.1-9), Gāyatri mantram 108 atau 21 kali, Mahamṛtyuñjaya 21 kali dan dalam pemujaan tertentu untuk kesejahtraan nusa dan bangsa menggunakan mantram-mantram seperti berikut: Pṛthivī Sūkta, Puruśa Sūkta, Nasadiya Sūkta, Śāntiprakaraṇa dan ditutup dengan Śānti mantra (Paramaśānti). Sarana ūpacāra persembahan adalah kayu bakar, sedapat mungkin kayu mangga, intaran, beringin, cempaka, sandat, tulasi, majagau, batang kelapa kering atau cendana yang telah kering dengan panjang + 10 -30 Cm dengan diameter 1-2 Cm, supaya mudah terbakar. Gahvya (gobhar) diambil dari kotoran sapi-sapi yang dipelihara dan disayangi oleh pemiliknya dan bukan berasal dari tempat/rumah pemotongan hewan. Sarana lainnya adalah daun, batang, bunga, akar dan ranting kayu tulasi (disebut Pañcāngga) dan juga daun mangga, di samping juga susu segar, yoghurt, gula merah, ghee (susu asam), madhu (kelima materi tersebut dinamakan Pañcāmṛta), kapulaga, biji kacang hijau, cengkeh, beras merah, putih dan hitam serta wijen.
Sangat baik bila sebelum mempersembahkan Hoṁa  Yajña didahului dengan mempersembahkan pejati dan pesaksi kepada Devata yang bersthana di sebuah pura bila ūpacāra itu dilaksanakan di dalam pura. Bila dikaitkan dengan ūpacāra besar, sangat baik dilengkapi dengan Pañcadhatu (emas, perak, tembaga, kuningan dan besi). Adapun bentuk kunda atau vedi umunya berbentuk piramid terbalik, dapat dibuat dari tembaga atau besi, disamping juga dari batu bata atau sebuah paso (belanga yang agak datar di Bali juga disebut dengan nama cobek dan semuanya harus baru (payuk anyar). Bila ūpacāra Hoṁa  Yajña/Agnihotra dilaksanakan pada pagi hari sangat baik bila menghadap ke Timur, sore hari menghadap ke Barat. Bila didepan altar atau pelinggih, sebaiknya menghadap altar atau pelinggih tersebut. Demikian pula bila dilaksanakan di tepi pantai hendaknya menghadap ke laut, di pegunungan diarahkan ke puncak gunung dan di tepi sungai atau mata air, di arahkan ke sungai atau mata air.
F. Mantra yang digunakan dan terjemahan
Mantram-mantra yang digunakan pada umumnya diambil dari mantram-mantram kitab suci Veda, dan banyaknya Sūkta yang dirapalkan tergantung kepada tujuan ūpacāra Hoṁa  Yajña tersebut, demikian pula pilihan Sūkta umumnya disesuaikan dengan situasi pada saat ūpacāra dilaksanakan, misalnya untuk ūpacāra Deva Yajña dan lain-lain. Berikut kami sampaikan susunan mantram yang digunakan serta terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia:
  1. 1.     Asana: Oṁ Prasadha Sthiti Śarīra Śiva suci nirmalāya namaḥ svāha.
  2. 2.     Acamana (penyucian diri) Penyucian tangan Kanan : Oṁ Śuddhamām svāha Kiri : Oṁ Ati Śuddhamām svāha
  3. Penyucian Pikiran: Oṁ tejo’asi tejo mayi dhehi, vīryamasi vīrya mayi dhehi,
    balamasi balam mayi dhehi, ojo’as ojo mayi dhehi, matyurasi matyum mayi dhehi, saho’asi saho mayi dhehi
    – Oṁ Tuhan Yang Maha Esa, Engkau adalah sumber dari cahaya anugrahkanlah
    cahaya itu kepada kami, Engkau adalah pahlawan kami, anugrahkanlah sifat  kepahlawanan itu kepada kami, Engkaui adalah sumber kekuatan, anugrahkan lah kekuatan itu kepada kami. Engkau memancarkan cahaya, anugrahkanlah  pancaran cahaya itu kepada kami. Engkau menaklukkan keagungan dan cinta kasih, anugrahkanlah hal itu kepada kami. Semogalah kami menjadi pusat, dan sumber dari kebajikan yang suci. Yajurveda XVI.6
  4. Pengucapan Oṁkara 21 kali masing-masing 5 kali untuk Pañca Jñānendriya,
    Karmendriya, Pañca Prāṇa, Pañca Mayakośa dan 1 kali untuk Ātman.
  5. Praṇāyama (mengatur nafas sehingga aliran nafas sangat lembut): Oṁ Bhūr, Oṁ bhuvaḥ, Oṁ Svaḥ, Oṁ Mahaḥ, Oṁ Janaḥ, Oṁ Tapaḥ, Oṁ Satyam Oṁ Tat savitur vareṇyam bhargo devasya dhīmahi dhiyoyonaḥ pracodayat. Oṁ āpo jyotī raso amṛtam brahma Bhūr Bhuvas Suvar Oṁ.- (Oṁ adalah Tuhan yang Maha Esa penguasa sapta Loka.
    Oṁ Tuhan Yang Maha Agung, kami bermeditasi kepada kemaha muliaan-
    Mu, Tuhan Maha Pencipta yangmenciptakan segalanya, anugrahkanlah  kecerdasan dan budhi pekerti yang luhur kepada kami. Oṁ adalah air, cahaya, dan bumi yang menganugrahkan makanan yang lezat, udara segar mendukung kehidupan, yang meresapi angkasa dan pikiran, intelek dan kami senantiasa ditandai oleh kebesaran dari Bhūr, Bhuvaḥ dan Svaḥ)
  6. Ganeśa pūjā Ganeśa adalah putra Sang Hyang Śiva sebagai Vighneśvara, penangkal dan penolak segala rintangan dan bencana. Pemujaan kepada Sang Hyang Ganeśa   dimaksudkan  untuk memohon keselamatan setiap ūpacāra Yajña dan aktivitas kehidupan.
    Oṁ Vaktratunda mahākaya Sūrya koti sāma prabha Nirvighnam kurume deva sarva karyesu sarvada. (Oṁ Hyang Vidhi, kami memuja dalam wujud-Mu sebagai Ganeśa   yang belalai
    nya panjang dan badannya besar, yang cahayanya bagaikan ribuan matahari, yang
    melenyapkan segala bencana, semua karya dalam kesuksesan).
  7. Agni Sūkta Ṛgveda I.1-9:(Agni sebagai purohita para Devata yang mewakili semua Devata untuk menerima  bhakti persembahan dari umat-Nya):
    1. Oṁ Agnim īle purohitaṁ/ yajñasya devam ṛtvijam/ hotāraṁ ratnadhātamam// (Kami memuja Agni, Pandita Utama, Deva penyelenggara ūpacāra Yajña, kami  memuja (Engkau), pemberi anugrah (kekayaan) utama.)
    2. Agniḥ pūrvebhir ṛṣibhir/ īíio nutanair uta/ sa devām eha vakṣati// (Agni, Engkau dipuja oleh para mahāṛṣi di masa yang silam dan kini, semoga  Engkau mendatangkan para Deva hadir di sini).
    3. Agniḥ rayim aśnavat/ poṣam eva dive-dive/ yaśasaṁ vīravattamam// (Melalui Agni, umat manusia memperoleh harta benda (dan) kebahagiaan setiap hari, sangat mulia (dan)  pahlawan yang agung).
    4. Agne yaṁ yajñam adhvaraṁ/ viśvātaḥ paribhūr asi/ sa id deveṣu gacchati//  (Oh Agni, pemujaan dan persembahan yang ditujukan kepada-Mu dari setiap sisi,  (semuanya) itu sampai kepada para Deva).
    5. Agnir hotā kavikratuḥ/ satyas citraśravastamaḥ/ devo devebhir ā gamat// (Semoga Agni, Pandita yang bijaksana, sangat cerdas, kebenaran dan  kebijaksanaannya yang maha agung datang bersama para Deva).
    6. Yad aṛga dāśuṣe tvam/ Agne bhadraṁ kariṣyasi/ tavet tat satyam Aṅgiraḥ// (Rakhmat apapun wahai Hyang Agni yang Engkau karuniakan kepada pemuja- Mu, wahai Aṅgira, itulah kebenaran-Mu.
    7. Upa tvāgne dive-dive/ dosāvastar dhiyḥ vayam/ namo bharanta emasi// (Kepada, wahai Hyang Agni siang dan malam, yang menerangi kegelapan, kami  datang menghadap-Mu dengan kebaktian (yang mantap).
    8. Rājantam adhvarānam/ gopam ṛtasya dīdivim/ vardhamānam sve dame// (Hyang Agni pengatur persembahan,  pengendali hukum abadi yang senantiasa  bercahaya, berkilauan di rumah kami).
    9. Sa naḥ pīteva sunave/ Agne sūpāyano bhava/ sacasva nah svastaye// (Wahai Hyang Agni, mudahkanlah mendekati kami, seperti seorang ayah kepada  anaknya. Tinggallah bersama kami untuk kebahagiaan kami).
VI. Gāyatri 108 kali
Gāyatri mantram disebut mantram disebut Vedamātā, ibu dari semua mantram Veda. Mantram ini disebut juga dengan nama Savitrī atau Savitā mantram, merupakan Samanya yang dapat diucapkan oleh siapa saja bila dilakukan dengan kesungguhan, akan tercapai permohonannya.
Oṁ Bhur Bhuvaḥ Svaḥ Tat savitur vareṇyam bhargo devasya dhīmahi dhīyoyonaḥ pracodayat. (Oṁ Tuhan Yang Maha Agung, kami bermeditasi kepada kemaha muliaan- Mu, Tuhan Maha Pencipta yangmenciptakan segalanya, anugrahkanlah  kecerdasan dan budhi pekerti yang luhur kepada kami).
VII. Mahāmṛtyuñjaya (21 kali)
Mantram ini memohon kemahakuasaan Sang Hyang Śiva sebagai Sang Hyang Rudra yang melindungi dari berbagai bahaya dan menjauhkannya dari penderitaan: Oṁ Tryaṁbhakaṁ yajamahe sugandhim puṣti vardhanam, urvārukam iva bandhanān mṛtyor mukśīya māmṛtāt (Ya Tuhan Yang Maha Esa, kami memuja sebagai Sang Hyang Śiva Rudra yang menyebarkan keharuman dan menganugrahkan makanan. Semoga Engkau  melepaskan kami dari penderitaan seperti buah mentimun (yang masak) dari batangnya, dari kematian dan bukan dari kekekalan). Ṛgveda VII.59.12
VIII. Guru Pūjā
Dengan Guru Pūjā dimaksudkan kita memohon karunia dan rakhmat Tuhan Yang Maha Esa sebagai guru agung alam semesta, termasuk juga pemujaan kepada para guru atau maharsi yang suci yang telah mencapai alam kedevataan, yang membimbing umat manusia; Oṁ Gurur Brahma gurur Viṣṇu gurur devo maheśara gurur sakṣat paraṁ Brahma Tasmai śrī gurave namah. (Kami memuja Tuhan Yang Maha Esa sebagai guru agung alam semesta, sebagai Brahma, Visnu dan Śiva, hamba bersujud mohon karunia-Mu).
IX. Pṛthivī Sūkta
Pṛthivī adalah wujud Tuhan yang Maha Esa sebagai penguasa bumi. Ia digambarkan sebagai seorang ibu yang penuh cinta kasih yang sejati memelihara semua mahluk di bumi ini dengan menjadikan bumi seperti seorang ibu yang memberikan segalanya kepada putra-putinya yang baik.
  1. Oṁ tvamasyāvapanā janānāmaditiḥ  kāmadughā parathāna. Yat ta śnam tat ta ā pūrayati
    prajāpatiḥ prathamajā ṛtasya -
    Wahai Ibu pertiwi Engkaulah yang memberikan kesuburan dan selalu memenuhi keinginan umat manusia. Deva Prajāpati akan melengkapi bilamana ada yang kurang untuk ibu pertiwi. Atharvaveda XII.1.61.
  2. Upasthāste anamīvā ayaksmā  asmabhayaṁ santu pṛthivī prasūtāḥ. Dīrghaṁ na āyaḥḥ pratibudhyamānā vayaṁ tubhyaṁ balihṛtaḥ syāma – Ya Tuhan Yang Maha Esa! Kami tidur (istirahat) dipelukan ibu pertiwi dan berikanlah karunia supaya kami hidup tanpa penyakit apapun, dan mendapatkan kehidupan yang panjang, kami akan selalu memuja-Mu dengan sepenuh hati. Atharvaveda XII.1.62.
  3. Bhūme mātarnidhehi mā  bhadrayā supratiṣthitam. Samvi dānā divā kave śrīyāṁ
    mā dhehi bhūtaum -
    Wahai Ibu Pertiwi lindungilah kami dan berikanlah karunia-Mu supaya kita hidup dalam kedamaian. Oh Ibu Pertiwi, tetapkanlah kami dalam kekayaan dan kebahagiaan. Atharvaveda XII.1.63
XI. Puruṣa Sūkta (Yajña Tuhan Yang Maha Esa )
Tuhan Yang Maha Esa ketika menciptakan alam semesta beserta segala isinya  menjadikan Diri-Nya sendiri sebagai Yajña, oleh karena itu umat manusia masti  ikut memutar Cakra Yajña dengan jalan melaksanakan Yajña tiada hentinya dalam  rangka Tri Ṛṇa, hutang jasa kepada-Nya dan ciptaan-Nya.
  1. Oṁ Sahasraśīrṣā puruṣaḥ sahasrākṣaḥ sahasrapāt, sa bhūmim viśvāto vṛtvaty atiṣthad daśāṅgulam.(Puruṣa berkepala seribu, bermata seribu, berkaki seribu, memenuhi dunia, pada semua arah, mengisi angkasa selebar sepuluh jari).
  2. Puruṣa evedaṁ sarvaṁ yad bhūtam yac ca bhavyamutāmritatvasyeśano yad annenātirohati.(Sesungguhnya Puruṣa adalah semua ini semua yang ada sekarang dan yang akan datang, ia adalah raja keabadian yang terus membesar dengan makanan).
  3. Etāvān asya mahimāto jyāyāmas ca puruṣa āpado’sya viśvā bhūtāni tripād asyamṛtaṁ divi.(Demikian hebat kebenarannya. Dan Puruṣa bahkan lebih besar dari ini. Semua wujud ini adalah seperempat dari dirinya. Tiga perempat lagi adalah keabadian ada di sorga).
  4. Tripād ūrdhva ud ait Puruṣaḥ pādo syehabhavat punaḥ,tato viṣan vya krāmat sāśanānaśane abhi.(Tiga perempat sari Puruṣa pergi membubung jauh.Seperempat lagi lagi berada di dunia ini yang berproses terus menerus berselang-seling dalam berbagai wujud yang bernyawa dan yang tidak bernyawa).
  5. Tasmād virāj ajāyata virājo adhi puruṣaḥ, sa jāto aty aricyata paścad bhūmiṁ atho puraḥ.(Dari dia Virāj kahir dan dari Viraj kembali. Segera setelah ia lahir ia mengembang ke timur mengembang kebarat mengatasi dunia).
  6. Yat puruśeṅa haviṣā devāyajñam atanvata, vasanto asyāsid ājyam grīṣma idhmaḥ śarad dhaviḥ.(Ketika para sewa mengadakan ūpacāra kurban dengan Purusa sebagai persembahan, maka minyaknya adalah musim semi, kayu bakarnya adalah musim panas dan sajian persembahannya adalam musim gugur).
  7. Taṁ yajñam barhiṣi prauksan puruṣaṁ jātam agrataḥ, tena devā ayajanta sādhya ṛṣayas ca ye. (Mereka mengorbankan sebagian korban pada rumput Purusa yang lahir pada awal penjadian. Pada dia para Deva dan semua sadhyas dan para ṛṣi mempersembahkan kurban).
  8. Tasmād yajñāt sarvahutaḥ sambhṛtaṁ pṛsadājyampasūn tāmś cakre vāyavyān aranyān grāmyāś ca ye.(Dari korban itu , yang padanya universal di persembahkan keluarlah dadih dan mentega yang sudah bercampur.Kemudian ia jadikan binatang-binatang yang padanya Vāyu berbeda. Baik binatang buas maupun binatang jinak).
  9. Tasmād yajñāt sarvahuta ṛcaḥ sāmāni jajñire, chandānsi jajñire tasmād yajus tasmād ajāyata.(Dari korban itu, yang padanya universal dipersembahkan, ṛca dan nyanyian Sāma lahir. Dari dia lahirnya metrik. Dari dia lahirnya Yajus).
  10. Tasmād aśva ajāyanta yeke chobayadataḥ, gavo ha yajñire tasmāt tasmāj jāta ajāvayaḥ.(Dari dia lahirlah kuda dan binatang apa saja yang mempunyai gigi dua baris. Sapi lahir dari dia. Dari dialah lahirnya kambing dan biri-biri).
  11. Yat puruṣaṁ vyadadhuḥ katidhā vyakalpayan mukhaṁ kim asya kau bāhū kā ūrū pādā ucyete.(Ketika meraka menjadikan Purusa korban,menjadi berapa bagiankah mereka bagi dia ? Dan apakah mereka sebut paha kakinya ?)
  12. Brāhmano’sya mukham āsīd bāhū rājanyah kṛtaḥ, ūrū tad asya yad vaiśyaḥ pādbhyam śūdro ajāyata.(Mulutnya menjadi Brāhmana, lengannya menjadi Rājanya,pahanya menjadi Vaiśya, Sudra lahir dari kakinya.
  13. Candramā manaso jātās cakṣoḥ sūryo ajāyata, mukhād Indraścāgniśca prānād vāyur ajāyata.(Bulan lahir dari pikirannya, matahari dari matanya,Indra dan Agni lahir dari mulutnya, Vāyu dari nafasnya).
  14. Nābhyā āsīd antarikṣaṁ śirṣo dyauḥ sam avartata, pādbhyām bhūmir disahśrotrat tathā lokān akalpayan.(Dari pusarnya cakrawala ini lahir, dari kepalanya lahir langit, dari kakinya lahir dari bumi, dari telinganya lahir keempat penjuru mata angin, demikianlah mereka membentuk dunia ini).
  15. Saptāsyāsan paridhayas triḥ sapta samidhaḥ kṛtāḥ devā yad yajñaṁ tanvānā abadhnam puruṣaṁ paśum.(Tujuh pagar kelilingnya ūpacāra korban itu, tiga kali enam potong kayu bakar sisiapkan, ketika para Deva mempersembahkan ūpacāra itu yang mengikut Purusa sebagai kurban).
  16. Yajñena yajñam ajāyanta devās tāni dharmāni prathamāmy āsan,te ha nākam mahimānaḥ sacanta yatra pūrve sādhyaḥ śānti devāḥ.(Deva-Deva dengan mengandalkan ūpacāra korban memuja (dia yang juga) ūpacāra korban. Mereka yang agung mencapai sorga yang mulia tempat para Sadhyas, Deva-Deva jaman dahulu). Rgveda X.90.1-16
XII. Nasadiya Sukta ( proses kejadian alam semesta )
  1. Nasad āsīn no sad āsīt tadanīṁ nāsīd rājo no vyoṁā paro yat, kim avarīvaḥ kuha kasya śarman nambhaḥ kim āsīd gahanaṁ gabhīram.(Pada waktu itu dia tidak ada yang bukan ada maupun yangh ada. Waktu itu tidak ada dunia,tidak ada langit pun pula tidak ada yang di atas itu. Apakah yang menutupi dan dimana ? Airkah di sana, air yang tak terduga dalamnya).
  2. Na mṛtyur āsīd amṛtaṁ na na tarhi na rātrya ahna āsīt praketaḥ, anīd avātaṁ svadhayā tad ekaṁ tasmād dhānyan na paraḥ kiṁ canāsa.(Waktu itu tidak ada kematian, pun pula tidak ada kehidupan. Tidak ada tanda yang menandakan siang dan malam. Yang Esa bernafas tanpa nafas menurut kekuatannya sendiri. Bernafas menurut kekuatanya sendiri. Di luar Dia tidak apapun juga).
  3. Tama āsīt tamasā gūlham agre praketaṁ salilaṁsarvam ā idaṁ tuchyenābhv apihitaṁ yad āsīd tapasas tan mahina jāyataikam.(Pada mula pertama kegelapan di tutupi oleh kegelapan. Semua yang ada ini adalah keterbatasan yang tak dapat dibedakan. Yang ada waktu itu adalah kekosongan dan yang tanpa bentuk. Dengan tenaga panad yang luar biasa lahirlah kesatuan yang kosong).
  4. Kāmas tad agre sam avartatadhi manaso retaḥ prathamaṁyad āsīt sato bandhum asātī nir avindan hṛdi pratīṣyā kavayo maniṣā.(Pada awal mulanya, setelah itu, timbullah keinginan. Yang merupakan benih awal dan benih semangat.Para Rsi setelah meditasi dalam hatinyamenemukan dengan kearifannya hubungan antara yang ada dan yang bukan ada).
  5. Tiraścīno vitato raśmir eṣām adhaḥ svid āsīd upari svid āsīt, rethodā āsan mahimāna āsan svadhā avastat prayatiḥ parastāt.(Sinarnya terentang ke luar, apakah ia melintang, apakah ia di bawah atau diatas. Beberapa menjadi pencurah benih, yang lain amt hebat. Makanan adalah benih rendah, pemakan adalah benih unggul).
  6. Ko addhā veda ka iha pra vocat kuta ājātā kuta iyaṁ viśṛṣtiḥ,arvāg devā asya viṣarjanenāthā ko veda yata ābabhūva.(Siapakah yang sungguh-sungguh mengetahui ?Siapakah di dunia ini dapat menerangkannya ?Dari manakah penjadian ini, dari manakah timbulnya ?Deva-Deva ada setelah penjadian ini, kemudian siapakah yang tahu, dari manakah ia muncul).
  7. Iyaṁ viśrṣtir yata ābabhuva yadi vādadhe yadi vā na, yo asyādhyakṣaḥ parame vyOṁan so āṅga veda yadi vā na veda. (Dia, yang dari padanya penjadian timbul yang membentuknya atau mungkin pula tidak. Dia yang mengawasi alam ini berada di langit yang tertinggi, sesungguhnya ia mengetahui atau barang kali tidak.mengetahui). Ṛgveda X.129.1-7
XIII. Śāntiprakaranam
Mantram untuk memohon kerahayuan jagat beserta semua mahluk hidup di
dalamnya.
  1. Oṁ saṁnaḥ soṁo bhavatu bahma sam nah saṁ no gravanaḥ samu santu yajñah.Saṁ naḥ svarunam mitayo bhavantu saṁ naḥ prasvah saṁvastu vedih. (Soṁa rasa (amṛta) yang digunakan dalam Yajña memberikan damai kepada kami, mantra-mantra dari veda memberikan damai kepada kami, alat-alat untuk mendapatkan soṁarasa memberikan damai, Yajña memberikan kedamaian kepada kami, stupa untuk Yajña memberikan damai kepada kami. Usada memberikan damai kepada kami, dan tempat Yajña (vedi) memberikan damai kepada kami. Ṛgveda VII.35.7
  2. Oṁ saṁ no vātaḥ pavataṁ saṁ nastapatu Sūryaḥ. Saṁ naḥ kanikradad devaḥ parjanyoabhi vārsatu. (Ya Tuhan Yang Maha Esa, semogalah udara yang berhembus memberikan kedamaian kepada kami, surya bersinar untuk kedamaian kami, awan dengan suaranya menurunkan hujan menimbulkan kesuburan pada tumbuh-tumbuhan untuk kedamaian kami). Yajurveda XXXVI.1.10
  3. Oṁ agne naya supathā raye asmān viśvāni deva vayunāni vidvan.Yuyodhy asmaj juhurānam eno bhuyistham te nama uktim vidhema. (Ya Tuhan Yang Maha Esa dalam wujud-Mu sebagai Agni ! Yang maha bijaksana, tunjukkanlah jalan yang benar dan untuk mencari kebahagiaan dan kekayaan, kita akan menjalani utama karma agar supaya kita dijauhi dari papakarma (perbuatan yang penuh dengan papa). Untuk itu kita dengan penuh sujud dan selalu memuja dan mendapatkan ananda). Ṛgveda I.189.1.
  4. Oṁ prajāpate na nadetanyanyo viśvā jatani parita babhuva.Yatkāmaste juhumastanno astu vāyam syāma patayo patayo rayinam. (Ya Tuhan Yang Maha Esa sebagai Prajāpati ! Tiada selain-Mu yang berada dimana-mana di dunia ini. Apapun keinginan kami dan untuk memenuhi keinginan tersebut, kami datang kepada-Mu. Penuhilah semua keinginan kami supaya semua terwujud dan kami menjadi kaya raya di dunia ini). Ṛgveda X.121.10
  5. Oṁ svasti na indro vṛddhaśravaḥ svasti naḥ puśa viśvāvedaḥ.Svasti nastar kṣyo aristanemiḥ svasti no bṛhaspati ṛdadhatu. Deva indra ! Maha besar tersebar dimana-mana berikanlah kebahagiaan kepada kami, Wahai Deva yang maha tahu, peliharalah dunia, berikanlah kebahagiaan kepada kami. Jalinkanlah tali rasa-mu yang tidak pernah putus dan melalui karunia-mu seseorang bisa melewati dunia ini dan mencapai tujuan akhir, berikanlah kebahagiaan. He pelindung yang maha besar berikanlah kebahagiaan kami. Ṛgveda I.89.6
  6. Oṁ taccakṣur devahitaṁ purastacchukramuccarat.Paśyema śaradaḥ śataṁ jīvema śaradaḥ śataṁ śranuyāma śaradaḥ śataṁ pra bravama śaradaḥ śatamadinah syāma śaradaḥ śataṁ bhūyaśca śaradaḥ śatāt.(Tuhan Yang Maha Esa adalah saksi seluruh u,at manusia dan maha karunianya bagi para sarjana. Beliaulah yang pertama sebagai cahaya (teja). Untuk itu agar kami dapat melihat beliau seratus tahun, kami dapat hidup seratus tahun, mendengar seratus tahun, untuk itu keagungan tuhan dapat kami ceritakan seratus tahun dan kami bisa hidup seratus tahun dengan kebebasan, dan kemudian kita hidup lebih dari seratus tahun).
  7. Oṁ bhadraṁ karnebhiḥ śṛnuyāma deva bhadraṁ paśyemākṣabhir yajatraḥ.Sthirair angaiṣtustuvāmsas tanūbhirvyasemahidevahitam yad āyuh. (Ya Tuhan Yang Maha Esa! Anugrahkanlah karunia-Mu supaya kami mendengar yang baik dari telinga kami, melihat selalu yang baik dari mata kami, berikanlah kekuatan badan yang sehat supaya kami selalu memujamu dan sesuai dengan karma kami mendapatkan hidup yang lengkap dan tidak meninggal sebelum waktunya). Ṛgveda I.89.10
  8. Oṁ saṁ no dyavapṛthivī pūrvahutau sam antarikṣam dṛśaye no astu.Saṁ na osadhirvanino bhavantu saṁ no rājaspatirastu jiśnuḥ.(Ya Tuhan Yang Maha Esa! Pagi-pagi setelah bangun kami selalu memohon supaya Dyuloka dan Prithiviloka memberikan kedamaian kepada kami, demikian juga pada waktu setelah bangun, kita mlihat antariksaloka, dan memohon supaya antariksaloka memberikan damai kepada kami. Usada memberikan damai kepada kami. Ya Tuhan Yang Maha Besar rajanya dunia yang selalu jaya anugrahkanlah kebahagiaan kepada kami). Ṛgveda VII.35.5
XIV. Abhaya dan Śivasaṁkalpa
Mantram ini mendorong umat-Nya senantiasa tegar dalam menghadapi berbagai
cobaan, tidak ada rasa takut atau khawatir dan hidup dalam ketenangan.
  1. Oṁ Abhayaṁ mitrād abhayam amitrād abhayam jñātād ajñātād abhayaṁ puroyaḥ. abhayaṁ naktaṁ abhayam divanaḥ sarva āsā mama mitram bhavatu (Ya Tuhan Yang Mahakuasa ! Semoga saya tidak takut kepada kawan-lawan, dan tidak takut kepada yang tidak dikenal, semoga malam dan siang hari kami tanpa takut. Semoga semua arah memberikan sahabat kepada kami). Ṛgveda IX.15.6
  2. Oṁ yajjāgrato dūramudaiti  daivaṁ tadu suptasya tathaivaiti. Dūraṁ gamaṁ jyotisām jyotirekaṁ  tanme manaḥ śivasaṁkalpamastu. Pikiran yang dengan kekuatan dengan kesadaran pada saat sedang bergadang (Jagratah) pergi jauh kemana-mana (Duramdaiti), demikian juga pada waktu tidur (Tatu Suptasya) pergi (berjalan) kemana-mana (Tatha Eva Eti). Pikiran yang demikian (Tat) yang pergi kemana-mana (Duram Gamam) dan paling bercahaya atau bersinar dalam semua cahaya (Jyotisam Jyoti) adalah hanya satu, yaitu pikiran (Ekam), dengan demikian “He Tuhan pikiran seperti itu (Tat Memana) menjadi baik, damai dan memiliki pikiran yang baik (Śivasṁkalpamastu)”. Yajurveda XXXIV.1
XV. Śānti mantra
Setiap mengakhiri suatu kegiatan keagamaan hendaknya ditutup dengan
permohonan kedamaian seperti diamanatkan dalam Śānti mantram berikut:
  1. Oṁ Dyauḥ śāntir antarikṣaṁ śāntiḥ pṛthivī śāntir āpaḥ śāntir oṣadhayaḥ śāntiḥ vanaspatayaḥ śāntir viśve devaḥ śāntir brahma śāntiḥ sarvaṁ śāntiḥ śāntir eva śāntiḥ sā mā śāntir edhi (Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, anugerahkamlah kedamain di langit, damai di angkasa, damai di bumi, damai di air, dami pada tumbuh-tumbuhan, damai pada pepohonan, dami bagi par Devata, damilah Brahma, damilah alam semesta. Semogalah kedamian senantiasadatang pada kami). Yayurveda XXXVI.17.
  2. Oṁ sarve bhavantu sukhinaḥ sarve śāntu niramayaḥ sarve bhadrāni paśyantu mā kaścid duḥkha bhāg bhavet (Ya Hyang Widhi, semoga semuanya memperleh kebahagiaan, semoga semuanya memperoleh kedamaian, semoga semuanya memperoleh  kebajikan dan saling pengertian dan semoga semuanya terbatas  dari penderitaan).
G. Penutup
Demikian keutamaan ūpacāra Hoṁa  Yajña/Agnihotra menurut kitab suci Veda, sudah tentu banyak hal yang mesti perlu dilakukan penelitian dan pengkajian kembali terhadap sumber-sumber yang ada baik dalam bahasa Sanskerta maupun Jawa Kuno. Semoga kata pengantar ini bermanfaat dalam rangka penyempurnaan tulisan ini dan semua pikiran yang baik dari segala penjuru.

Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Oṁ

Oleh : Shri Danu Dharma P. (I Wayan Sudarma)
putu suardiana July 18, 2014
Read more ...
Nyepi Dalam Hening Temukan Kedamaian

Nyepi merupakan Hari Raya Umat Hindu untuk memperingati perayaan Tahun Baru Caka. Bagi masyarakat Bali Nyepi identik dengan hari dimana kita tidak keluar rumah seharian,  Sehari setelah Ngerupuk dengan ogoh-ogoh buta kalanya, dimana malam harinya sepi dan gelap gulita karena tidak boleh menyalakan lampu, hari yang memberi kesempatan untuk “mulat sarira” (introspeksi/kembali ke jati diri) dengan merenung atau meditasi, pelaksanaan Catur Brata Penyepian atau malah ada juga yang mengidentikan dengan hari bebas untuk meceki seharian?
Tapi apakah sebenarnya Hari Nyepi itu, bagaimana sejarahnya perayaan Nyepi bisa seperti saat ini? Apa tujuan dan makna dari pelaksanaan Hari Raya Nyepi? Bagaimana cara pelaksanaannya? Itulah berbagai pertanyaan yang ada di pikiran saya, dan dengan bekal bertanya pada berbagai sumber baik dari buku dan internet akhirnya jadilah artikel ini. Semoga bermanfaat menambah pengetahuan kita tentang Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1936 ini yang jatuh pada hari Jumat 31 Maret 2014. Selamat Membaca..

Sejarah Nyepi
Kondisi India sebelum Masehi, diwarnai dengan pertikaian yang panjang antara suku bangsa yang memperebutkan kekuasaan sehingga penguasa (Raja) yang menguasai India silih berganti dari berbagai suku, yaitu: Pahlawa, Yuehchi, Yuwana, Malawa, dan Saka. Diantara suku-suku itu yang paling tinggi tingkat kebudayaanya adalah suku Saka. Ketika suku Yuehchi di bawah Raja Kaniska berhasil mempersatukan India maka secara resmi kerajaan menggunakan sistem kalender suku Saka. Keputusan penting ini terjadi pada tahun 78 Masehi. Pada tahun 456 M (atau Tahun 378 S), datang ke Indonesia seorang Pendeta penyebar Agama Hindu yang bernama Aji Saka asal dari Gujarat, India. Beliau mendarat di pantai Rembang (Jawa Tengah) dan mengembangkan Agama Hindu di Jawa. Ketika Majapahit berkuasa, (abad ke-13 M) sistem kalender Tahun Saka dicantumkan dalam Kitab Nagara Kartagama. Sejak itu Tahun Saka resmi digunakan di Indonesia. Masuknya Agama Hindu ke Bali kemudian disusul oleh penaklukan Bali oleh Majapahit pada abad ke-14 dengan sendirinya membakukan sistem Tahun Saka di Bali hingga sekarang. Perpaduan budaya (akulturasi) Hindu India dengan kearifan lokal budaya Hindu Indonesia (Bali) dalam perayaan Tahun Baru Caka inilah yang menjadi pelaksanaan Hari Raya Nyepi unik seperti saat ini.

Pengertian Nyepi
Nyepi berasal dari kata “sepi”, “sipeng” yang berarti sepi, hening, sunyi,  senyap. Seperti namanya perayaan tahun baru caka bagi umat hindu di Indonesia ini dirayakan sangat berbeda dengan perayaan Tahun Baru lainnya, dimana perayaan umumnya identik dengan gemerlapnya pesta dan kemeriahan, dan euforia dan hura-hura tetapi umat Hindu dalam merayakan Nyepi malah dilaksanakan dengan Menyepi, “Sepi”, “Hening”,”Sunyi”,”Senyap”.
Mungkin pertanyaan muncul dibenak kita, Mengapa perayaan Tahun Baru Caka tidak dilaksanakan dengan ramai dan pesra seperti perayan tahun baru pada umumnya? Menurut saya ini merupakan cermin kebijaksanaan dan kejeniusan lehuhur kita, dimana seperti pada perayaan Hari Raya Siwarari, leluhur kita selalu menekankan kita tentang konsep “mulat sarira”Perayaan dalam hening dan sepi agar kita belajar (instrospeksi/kembali ke jatidiri) dengan merenung, meditasi, evaluasi diri dan bertanya  tentang diri kita, siapa kita? Mengapa kita ada disini? Akan kemanakah kita nanti? Selama setahun ini apakah yang kesalahan kita yang perlu diperbaiki? Dan bukankah dalam sepi dan hening kedamaian dan kejernihan pikiran lebih mudah tercapai ?
Pelaksanaan Nyepi di Bal (Indonesia) memang unik dan istimewa,  konsep “mulat sarira” dengan “Catur Brata Penyepian” nya memang sangat relevan dengan kondisi dunia sekarang ini. Saat ini bumi kita sedang menghadapi berbagai masalah seperti global warming, alam yang rusak karena polusi dan eksploitasi besar-besaran, krisis energi dan permasalahan lainnya yang disebabkan oleh kemerosotan moral.
Perayaan Nyepi dengan Catur Brata Penyepiannya membuat Bali sebagai satu-satunya pulau di dunia yang mampu mengistirahatkan seisi pulau secara total sehari penuh dari berbagai aktivitas. Setahun sekali memberi kesempatan untuk kepada alam semesta untuk bebas menghirup  segarnya udara tanpa asap dan polusi kendaraan dan mesin. Penghematan di saat krisis energi seperti saat ini terutama energi listrik karena pada hari ini Bali mampu mengurangi sebagian besar penggunaan listrik dengan mematikan lampu-lampu dan mesin, Nyepi sehari ini ternyata bisa melakukan penghematan penggunaan listrik hingga mencapai 8 Milyar. Dengan Nyepi kita diberi kesempatan memperoleh ketenangan dan kedamaian mendengarkan kicauan burung dan nyanyian alam yang sedang tersenyum sumringah karena bisa beristirahat sejenak pada hari ini setelah setahun bekerja keras memenuhi keinginan manusia yang tidak ada habisnya.
Pelaksanaan Nyepi di Bali bisa seperti saat ini di dukung oleh Pemerintah dan Dunia Internasional dengan penutupan semua pintu masuk ke Bali mulai dari bandara dan pelabuhan-pelabuhan. Penghentian siaran radio dan TV di Bali selama 1 hari 24 jam untuk menghormati Umat Hindu yang merayakan, bahkan dunia internasional pun mengakui keluhuran dan keistimewaan pelaksanaan Nyepi di Bali dengan ramainya wacana merayakan untuk menyediakan waktu Nyepi sehari untuk dunia “World Silence Day”, ya walaupun saat ini baru  berupa wacana saja :) .

Rangkaian Pelaksanaan Nyepi
Perayaan Nyepi terdiri dari beberapa rangkaian upacara yaitu :

  1. Melasti berasal dari kata  Mala = kotoran/ leteh, dan Asti = membuang/memusnahkan, Melasti merupakan rangkaian upacara Nyepi yang bertujuan untuk membersihkan segala kotoran badan dan pikiran (buana alit), dan juga alat upacara (buana agung) serta memohon air suci kehidupan (tirta amertha) bagi kesejahteraan manusia.  Pelaksanaan melasti ini biasanya dilakukan dengan membawa arca,pretima, barong yang merupakan simbolis untuk memuja manifestasi Tuhan Ida Sang Hyang Widi Wasa diarak oleh umat menuju laut atau sumber air untuk memohon permbersihan dan tirta amertha (air suci kehidupan).  Seperti dinyatakan dalam Rg Weda II. 35.3 “Apam napatam paritasthur apah” yang artinya “Air yang berasal dari mata air dan laut mempunyai kekuatan untuk menyucikan. Selesai melasti Pretima,arca dan sesuhunan barong biasanya dilinggihkan di Bale Agung (Pura Desa) untuk memberkati umat dan pelaksanaan Tawur Kesanga.
    Melasti Mekiis Memohon Air Suci Sebelum Melaksanakan Nyepi
    Melasti Mekiis Memohon Air Suci ke Laut Sebelum Melaksanakan Nyepi
  2. Tawur Agung/Tawur Kesanga atau Pengerupukan dilaksanakan sehari menjelang Nyepi yang jatuh tepat pada Tilem Sasih Sesanga. Pecaruan atau Tawur dilaksanakan di catuspata pada waktu tepat tengah hari. Filosofi Tawur adalah sebagai berikut tawur artinya membayar atau mengembalikan. Apa yang dibayar dan dikembalikan? Adalah sari-sari alam yang telah dihisap atau digunakan manusia. Sehingga terjadi keseimbangan maka sari-sari alam itu dikembalikan dengan upacara Tawur/Pecaruan yang dipersembahkan kepada Bhuta sehingga tidak menggangu manusia melainkan bisa hidup secara harmonis (butha somya). Filosofi tawur dilaksanakan di catuspata menurut Perande Made Gunung agar kita selalu menempatkan diri ditengah alias selalu ingat akan posisi kita, jati diri kita, dan  perempatan merupakan lambang tapak dara, lambang keseimbangan, agar kita selalu menjaga keseimbangan dengan atas (Tuhan), bawah (Alam lingkungan), kiri kanan (sesama manusia).  Setelah tawur pada catus pata diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Pada malam pengerupukan ini, di bali biasanya tiap desa dimeriahkan dengan adanya ogoh-ogoh yang diarak keliling desa disertai dengan berbagai suara mulai dari kulkul, petasan dan juga “keplug-keplugan” yaitu sebuah bom khas bali yang mengeluarkan suara keras dan menggelagar seperti suara bom, yang dihasilkan dari proses gas dari karbit dan air yang dibakar mengeluarkan suara ledakan yang mengelegar. Ogoh-ogoh umumnya dengan rupa seram, mata melotot, susu menggelantung yang melambangkan buta kala dalam berbagai rupa, juga menunjukkan kreativitas dari orang Bali yang luar biasa yang terkenal akan seni dan budayanya
  1. Nyepi jatuh pada Penanggal Apisan Sasih Kedasa (tanggal 1 bulan ke 10 Tahun Caka). Umat Hindu merayakan Nyepi selama 24 jam, dari matahari terbit (jam 6 pagi) sampai jam 6 pagi besoknya. Umat diharapkan bisa melaksanakan “Catur Brata Penyepian” yaitu : Amati Geni artinya tidak boleh berapi-api baik api secara fisik maupun api didalam diri (nafsu). Amati Karya  artinya tidak boleh beraktivitas/bekerja. Amati Lelungan, dari kata lelunga yang artinya bepergian, artinya tidak boleh bepergian keluar rumah. Amati Lelanguan artinya tidak boleh bersenang-senang/ menyalakan TV/radio yang bersifat hiburan. Dengan adanya Catur Brata Penyepian ini, mengingatkan kita agar belajar pendalian diri dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian sehingga kita bisa fokus dan berkonsentrasi dengan baik untuk mulat sarira (kembali ke jati diri) melalui perenungan dan meditasi. Tetapi dalam kenyataannya di masyarakat, masih banyak umat pada saat Nyepi malah menyalahgunakannya untuk berjudi “meceki” seharian.  Selain Catur Brata Penyepian, bagi yang umat yang mampu akan sangat bagus jika pada Nyepi bisa melaksanakan tapa, brata, yoga, samadi misalnya dengan puasa selama 24 jam, dan juga monobrata yaitu tidak ngomong alias puasa berbicara sambil selalu memfokuskan pikiran kepada Tuhan Ida Sang Hyang Widi Wasa.
  2. Ngembak Geni berasal dari kata ngembak yang berarti mengalir dan geni yang berarti api yang merupakan symbol dari Brahma (Dewa Pencipta) maknanya pada hari ini tapa brata yang kita laksanakan selama 24 Jam (Nyepi) hari ini bisa diakhiri  dan kembali bisa beraktivitas seperti biasa, memulai hari yang baru untuk berkarya dan mencipta alias berkreativitas kembali sesuai swadharma/kewajiban masing-masing. Ngembak geni biasanya diisi dengan kegiatan mengunjungi kerabat dan saudara untuk mesima krama, bertegur sapa sambil mengucapkan selamat hari raya dan bermaaf-maafan. Dharma Santi juga biasanya diselenggarakan setelah Nyepi yaitu dengan mengadakan dialog keagamaan sekaligus tempat untuk mesimakrama alias bersilaturahmi dengan sesama.
Makna Nyepi
Jika kita renungi secara mendalam perayaan Nyepi mengandung makna dan tujuan yang sangat dalam dan mulia. Seluruh rangkaian Nyepi merupakan sebuah dialog spiritual yang dilakukan umat Hindu agar kehidupan ini selalu seimbang dan harmonis sehingga ketenangan dan kedamaian hidup bisa terwujud. Mulai dari Melasti/mekiis dan nyejer/ngaturang bakti di Balai Agung adalah dialog spiritual manusia dengan Alam dan Tuhan Yang Maha Esa, dengan segala manifetasi-Nya serta para leluhur yang telah disucikan. Tawur Agung dengan segala rangkaiannya adalah dialog spiritual manusia dengan alam sekitar dan ciptaan Tuhan yang lain yaitu para bhuta demi keseimbangan bhuana agung bhuana alit. Pelaksanaan catur brata penyepian merupakan dialog spiritual antara diri sejati (Sang Atma) umat dengan sang pendipta (Paramatma) Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam diri manusia ada atman (si Dia) yang bersumber dan sang Pencipta Paramatma (Beliau Tuhan Yang Maha Esa). Dan Ngembak Geni dengan Dharma Shantinya merupakan dialog spiritual antara kita dengan sesama.
Sehingga melalui Perayaan Nyepi, dalam hening sepi kita kembai ke jati diri (mulat sarira) dan menjaga keseimbangan/keharmonisan hubungan antara kita dengan Tuhan, Alam lingkungan (Butha) dan sesama sehingga Ketenangan dan Kedamaian hidup bisa terwujud.
Hari Raya Nyepi merupakan hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Saka. Dimana pada hari ini umat hindu melakukan amati geni yaitu mengadakan Samadhi pembersihan diri lahir batin. Pembersihan atas segala dosa yang sudah diperbuat selama hidup di dunia dan memohon pada yang Maha Kuasa agar diberikan kekuatan untuk bisa menjalankan kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang.
Hari Raya Nyepi jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang diyakini saat baik untuk mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa dan dipercayai merupakan hari penyucian para dewa yang berada dipusat samudra yang akan datang kedunia dengan membawa air kehidupan (amarta) untuk kesejahteraan manusia dan umat hindu di dunia.
Makna Hari Raya Nyepi
Nyepi asal dari kata sepi (sunyi, senyap). yang merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan kalender Saka, kira kira dimulai sejak tahun 78 Masehi. Pada Hari Raya Nyepi ini, seluruh umat Hindu di Bali melakukan perenungan diri untuk kembali menjadi manusia manusia yang bersih , suci lahir batin. Oleh karena itu semua aktifitas di Bali ditiadakan, fasilitas umum hanya rumah sakit saja yang buka.
Upacara sebelum hari Nyepi
Ada beberapa upacara yang diadakan sebelum dan sesudah Hari Raya Nyepi , yaitu:
Upacara Melasti
Selang waktu dua tiga hari sebelum Hari Raya Nyepi, diadakan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis, dihari ini, seluruh perlengkapan persembahyang yang ada di Pura di arak ke tempat tempat yang mengalirkan dan mengandung air seperti laut, danau dan sungai, karena laut, danau dan sungai adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa membersihkan dan menyucikan dari segala kotoran yang ada di dalam diri manusia dan alam.
Upacara Bhuta Yajna
Sebelum hari Raya Nyepi diadakan upacara Bhuta Yajna yaitu upacara yang mempunyai makna pengusiran terhadap roh roh jahat dengan membuat hiasan atau patung yang berbentuk atau menggambarkan buta kala ( Raksasa Jahat ) dalam bahasa bali nya sebut ogoh ogoh, Upacara ini dilakukan di setiap rumah, Banjar, Desa, Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi. Upacara ini dilakukan di depan pekarangan , perempatan jalan, alun-alun maupun lapangan,lalu ogoh ogoh yang menggambarakan buta kala ini yang diusung dan di arak secara beramai ramai oleh masyarakat dengan membawa obor di iringi tetabuhan dari kampung kekampung, upacara ini kira kira mulai di laksanakan dari petang hari jam enam sore sampai paling lambat jam dua belas malam, setelah upacara ini selesai ogoh ogoh tersebut di bakar, ini semua bermakna bahwa seluruh roh roh jahat yang ada sudah diusir dan dimusnahkan Saat hari raya Nyepi, seluruh umat Hindu yang ada di bali wajibkan melakukan catur brata penyepian.
Ada empat catur brata yang menjadi larangan dan harus di jalankan :
Amati Geni: Tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu.
Amati Karya: Tidak melakukan kegiatan kerja jasmani, melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani.
Amati Lelungan: Tidak berpergian melainkan mawas diri,sejenak merenung diri tentang segala sesuatu yang kita lakukan saat kemarin , hari ini dan akan datang.
Amati Lelanguan: Tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusat.
Pikiran terhadap Sang Hyang Widhi Brata ini mulai dilakukan pada saat matahari “Prabata” saat fajar menyingsing sampai fajar menyingsing kembali keesokan harinya, selama (24) jam.
Upacara setelah Nyepi
Upacara Hari Ngembak Geni berlangsung setelah Hari Raya Nyepi berakhirnya ( brata Nyepi ). Pada esok harinya dipergunakan melaksanakan Dharma Shanty, saling berkunjung dan maaf memaafkan sehingga umat hindu khususnya bisa memulai tahun baru Caka dengan hal hal baru yang fositif,baik di lingkungan keluarga maupun di masyarakat, sehingga terbinanya kerukunan dan perdamaian yang abadi Menurut tradisi, pada hari Nyepi ini semua orang tinggal dirumah untuk melakukan puasa, meditasi dan bersembahyang, serta menyimpulkan menilai kualitas pribadi diri sendiri.
Di hari ini pula umat Hindu khususnya mengevaluasi dirinya, seberapa jauhkah tingkat pendekatan rohani yang telah dicapai, dan sudahkah lebih mengerti pada hakekat tujuan kehidupan di dunia ini. Seluruh kegiatan upacara upacara tersebut di atas masih terus dilaksanakan, diadakan dan dilestarikan secara turun menurun di seluruh kabupaten kota Bali hingga saat ini dan menjadi salah satu daya tarik adat budaya yang tidak ternilai harganya baik di mata wisatawan domestik maupun manca negara.
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa makna Nyepi itu sendiri adalah manusia diajarkan untuk mawas diri, merenung sejenak dengan apa yang telah kita perbuat. Dimasa lalu, saat ini dan merencanakan yang lebih baik dimasa yang akan datang dengan tidak lupa selalu bersykur dengan apa yang telah diberikan oleh sang Pencipta Bagi anda yang sibuk dengan pekerjaan dan rutinitas yang begitu padat ada baik nya anda meluangkan waktu sejenak keluar dari hiruk pikuk tersebut dan datang ke Bali sekedar introspeksi diri bahwa dalam kehidupan ini mempunyai terkaitan antara satu dan lain nya dan tidak lupa menyaksikan keadaan di Bali saat hari raya Nyepi akan terasa bedanya.

Sumber : http://alfredoeblog.wordpress.com
putu suardiana March 15, 2014
Read more ...
google.com, pub-2435098089246002, DIRECT, f08c47fec0942fa0
User-agent: Mediapartners-Google Disallow: User-agent: * Disallow: /search Allow: / Sitemap: https://putusuardiana.blogspot.com/sitemap.xml