Sabdapalon adalah pandita dan penasehat
Brawijaya V, penguasa kuat terakhir yang beragama Hindhu dari kerajaan
Majapahit di Jawa. Bagian mitologi Jawa keberadaan Sabda Palon dipercaya mbaureksa kekuasaan di Jawa (Nusantara).
Sabda Palon diyakini merupakan penjelmaan derivatif Hyang Ismaya (Semar) yang memiliki kewajiban menjadi pamomong semua penguasa (manusia) di Jawa (Nusantara).
Sabdo
Palon atau Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar yaitu; Batara
Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad
Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, Sanghyang Suryakanta.
Sedangkan dalam filosofi Jawa Semar disebut juga Badra
yang kira-kira bila diterjemahkan berarti “Mengembani sifat membangun
dan melaksanakan perintah Tuhan demi kesejahteraan manusia”.
Sabdo Palon diyakini sebagai penjelmaan Ismaya (Semar)
Mitologi
ini sebenarnya memiliki makna bahwa para penguasa yang diasuh (dimong)
Sabda Palon itu merupakan penguasa yang memiliki “kedaulatan spiritual”,
yaitu penguasa yang Agung Binathara. Penguasa yang dipatuhi oleh seluruh rakyatnya dan disegani oleh penguasa-penguasa negara lain.
Cerita yang banyak diyakini oleh para ahli kebatinan, tugas Sabda Palon terakhir adalah momong Prabu Brawijaya di Majapahit. Sabda
Palon memilih berpisah dengan momongannya, karena Prabu Brawijaya
pindah agama, dari Agama Siwa-Buddha (campuran Jawa-Hindu-Buddha)
menjadi Islam yang datang dari Arab.
Dengan begitu, Prabu Brawijaya dianggap telah kehilangan kedaulatan spiritual-nya. Sabda
Palon memilih mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai pamong raja
kemudian bertapa tidur di pusat kawah Gunung Merapi selama 500 tahun.
Selama Sabda Palon bertapa itu, tanah Jawa tidak akan memiliki kedaulatan lagi, serta tidak dihormati oleh bangsa-bangsa lain.
Terbukti, bahwa sejak jaman Demak hingga Mataram Islam, para Sultan-nya
perlu memohon legitimasi kekuasaannya kepada ulama Mekah, sedang para
Sultan dari wilayah Sumatera dan Banten serta banyak lagi dari Indonesia
Timur, memohon legitimasinya dari Daulah Ottoman Turki.
Kesultanan Aceh, s
ebelum
perang melawan Belanda, sebenarnya adalah salah satu wilayah Kesultanan
Turki itu. Setelah itu Jawa dan Nusantara dijajah Belanda, Inggris dan Jepang. itu berarti Jawa dan Nusantara tidak lagi memiliki kedaulatan Spiritual?Meskipun
dapat dikaji seperti itu, tetapi sebaiknya cerita mitologi Jawa tentang
Sabda Palon itu jangan diartikan sebagai penolakan Jawa terhadap Islam.
Karena
tidak ada ceritanya peradaban dan kebudayaan Jawa itu menolak masuknya
paham agama macam apa pun. Malah Jawa biasanya dapat mendukung sehingga
agama-agama yang masuk itu mencapai keemasannya di tanah Jawa. Tutunan
Jawa tentang penyembahan pribadi kepada Yang Maha Kuasa dibebaskan,
terserah kepada pilihan masing-masing.
Mau menyembah dengan cara
agama apa saja tidak akan pernah disalahkan. Pokoknya, paham dasar yang
harus dilaksanakan setiap manusia adalah ketika hidup bermasyarakat
bergaul dengan sesama makhluk Tuhan Yang Maha Agung, jenis apa pun.
Kewajibannya, setiap orang diharuskan ikut memperindah keindahan jagad
dengan cara memelihara dan melestarikan keselarasan (keharmonisan) antar
sesama makhluk, dan mejauhkan diri dari perselisihan. Sekali lagi: Melu
Memayu Hayuning Bawana!
Cerita
Sabda Palon itu apa bila benar-benar di dalami sungguh-sungguh, malah
jelas menggambarkan kesalahan Prabu Brawijaya dalam mengelola kedaulatan
yang digenggamnya. Sebab Prabu Brawijaya yang kaya-raya dan
berkedudukan sebagai maharaja (diugung raja brana lan kuwasa) lupa
melaksanakan amanah kedaulatannya dengan benar.
Ceritanya, Prabu
Brawijaya terakhir memiliki selir yang banyak sekali, maka anaknya juga
sangat banyak. Semua anak-anak itu lalu diberi “kedudukan” mengurus
pemerintahan negara Majapahit. Oleh sebab itu, raja Majapahit lalu
hilang kewibawaannya. Negara besar itu menjadi ringkih. Akhirnya ketika
para Bupati Pesisir membantu Demak berperang dengan Majapahit, rakyat
Majapahit tidak mau membela atau tidak ikut mempertahankannya.
Sabda Palon, sebenarnya merupakan simbul atau personifikasi kesetiaan rakyat kepada rajanya,
kepada pemimpin negaranya atau kepada pemerintahnya. Sabda Palon
memilih pisah dari Prabu Brawijaya, berarti rakyat sudah kehilangan
kesetiaannya kepada raja Majapahit itu.
Istilahnya terjadi
pembangkangan publik terhadap kepemimpinan Brawijaya, tidak mau membela
kerajaan ketika berperang melawan Demak dan Bupati-bupati Pesisir.
Cerita itu disamarkan dengan pernyataan, bahwa Sabda
Palon akan bertapa tidur selama 500 tahun. Cerita itu juga memuat
pengertian, bahwa 500 tahun setelah runtuhnya Majapahit, rakyat Jawa
(Nusantara) akan tumbuh kembali kesadarannya sebagai bangsa terjajah dan
akan memiliki kesetiaan kembali kepada pemimpin bangsanya.
Munculnya rasa kebangsaan dan kesetiaan terhadap tanah air itu
digambarkan tidak dapat dibendung seperti meletusnya Gunung Merapi
Namanya
disebutkan dalam Serat Darmanganhul, suatu tembang macapat Kesusastraan
Jawa Baru berbahasa Jawa ngoko. Disebutkan bahwa Sabdapalon tidak bisa
menerima sewaktu Brawijaya digulingkan pada tahun 1478 oleh tentara
Demak dengan bantuan dari Walisongo (umumnya dalam sejarah dinyatakan
bahwa Brawijaya digulingkan oleh Girindrawardhana.
Ia lalu
bersumpah akan kembali setelah 500 tahun, saat korupsi merajalela dan
bencana melanda, untuk mengembalikan kejayaan agama dan kebudayaan Hindu
(dalam Darmagandhul, agama orang Jawa disebut agama Buda). Serat
Darmawulan juga berkisah tentang tokoh ini. Pada tahun 1978, Gunung
Semeru meletus dan membuat sebagian orang percaya atas ramalan
Sabdapalon tersebut.
Tokoh
Sabdapalon dihormati di kalangan revivalis Hindu di Jawa serta di
kalangan aliran tertentu penghayat Kejawen. Patung untuk menghormatinya
dapat dijumpai di Candi Ceto, Jawa Tengah. Sabdapalon seringkali
dikaitkan dengan satu tokoh lain, Nayagenggong, sesama penasehat
Brawijaya V. Sebenarnya tidak jelas apakah kedua tokoh ini orang yang
sama atau berbeda.
Sabdo
Palon Noyo Genggong sebagai penasehat spiritual Prabu Brawijaya V (
memerintah tahun 1453 – 1478 ) tidak hanya dapat ditemui di dalam Serat
Darmagandhul saja, namun di dalam bait-bait terakhir ramalan Joyoboyo
(1135 – 1157) juga telah disebut-sebut, yaitu bait 164 dan 173 yang
menggambarkan tentang sosok Putra Betara Indra sbb :
mumpuni
sakabehing laku; nugel tanah Jawa kaping pindho; ngerahake jin setan;
kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen
ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda; landhepe triniji
suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong
Terjemahannya
(menguasai
seluruh ajaran , memotong tanah Jawa kedua kali; mengerahkan jin dan
setan; seluruh makhluk halus berada di bawah perintahnya bersatu padu
membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda; tajamnya tritunggal
nan suci; benar, lurus, jujur; didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong)
nglurug
tanpa bala; yen menang tan ngasorake liyan; para kawula padha
suka-suka; marga adiling pangeran wus teka; ratune nyembah kawula;
angagem trisula wedha; para pandhita hiya padha muja; hiya iku momongane
kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; genaha kacetha
kanthi njingglang; nora ana wong ngresula kurang; hiya iku tandane
kalabendu wis minger; centi wektu jejering kalamukti; andayani indering
jagad raya; padha asung bhekti.
Terjemahannya
(menyerang
tanpa pasukan; bila menang tak menghina yang lain; rakyat bersuka ria;
karena keadilan Yang Kuasa telah tiba; raja menyembah rakyat;
bersenjatakan trisula wedha; para pendeta juga pada memuja; itulah
asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur;
segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh kekurangan;
itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman penuh kemuliaan;
memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa hormat yang
tinggi)
Sabdapalon
ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa.
Sintên ingkang jumênêng Nata, dados momongan kula. Wiwit saking lêluhur
paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrêm lan Bambang Sakri,
run-tumurun ngantos dumugi sapriki, kula momong pikukuh lajêr Jawi,
…..….., dumugi sapriki umur-kula sampun 2.000 langkung 3 taun, momong
lajêr Jawi, botên wontên ingkang ewah agamanipun, …..”
Terjemahannya
(Sabdo
Palon berkata sedih: “Hamba ini Ratu Dhang Hyang yang menjaga tanah
Jawa. Siapa yang bertahta, menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur
paduka dahulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun
temurun sampai sekarang, hamba mengasuh keturunan raja-raja Jawa,
…..….., sampai sekarang ini usia hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam
mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, …..”)
Ungkapan
di atas menyatakan bahwa Sabdo Palon (Semar) telah ada di bumi
Nusantara ini bahkan 525 tahun sebelum masehi jika dihitung dari
berakhirnya kekuasaan Prabu Brawijaya pada tahun 1478. Saat ini di tahun
2007, berarti usia Sabdo Palon telah mencapai 2.532 tahun.
Setidaknya
perhitungan usia tersebut dapat memberikan gambaran kepada kita,
walaupun angka-angka yang menunjuk masa di dalam wasiat leluhur sangat
toleransif sifatnya. Di kalangan spiritualis Jawa pada umumnya, keberadaan Semar diyakini berupa “suara tanpa rupa”.
Namun secara khusus bagi yang memahami lebih dalam lagi, keberadaan
Semar diyakini dengan istilah “mencolo putro, mencolo putri”, artinya
dapat mewujud dan menyamar sebagai manusia biasa dalam wujud berlainan
di setiap masa. Namun dalam perwujudannya sebagai manusia tetap
mencirikan karakter Semar sebagai sosok “Begawan atau Pandhita”. Hal ini
dapat dipahami karena dalam kawruh Jawa dikenal adanya konsep “menitis”
dan “Cokro Manggilingan”.
Dari apa yang telah disinggung di
atas, kita telah sedikit memahami bahwa Sabdo Palon sebagai pembimbing
spiritual Prabu Brawijaya merupakan sosok Semar yang nyata. Menurut
Sabdo Palon dalam ungkapannya dikatakan :
“…,
paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun
pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya têgêsipun ulat, Genggong:
langgêng botên ewah. Dados wicantên-kula punika, kenging kangge pikêkah
ulat pasêmoning tanah Jawi, langgêng salaminipun.
”Terjemahannya(“…,
apakah paduka lupa terhadap nama saya Sabdo Palon? Sabda artinya
kata-kata, Palon adalah kayu pengancing kandang, Naya artinya pandangan,
Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi ucapan hamba itu berlaku
sebagai pedoman hidup di tanah Jawa, langgeng selamanya.”)
Seperti
halnya Semar telah banyak dikenal sebagai pamomong sejati yang selalu
mengingatkan bilamana yang di”emong”nya salah jalan, salah berpikir atau
salah dalam perbuatan, terlebih apabila melanggar ketentuan-ketentuan
Tuhan Yang Maha Esa.
Semar selalu memberikan piwulangnya untuk
bagaimana berbudi pekerti luhur selagi hidup di dunia fana ini sebagai
bekal untuk perjalanan panjang berikutnya nanti. Jadi Semar
merupakan pamomong yang “tut wuri handayani”, menjadi tempat bertanya
karena pengetahuan dan kemampuannya sangat luas, serta memiliki sifat
yang bijaksana dan rendah hati juga waskitho (ngerti sakdurunge
winarah).
Semua yang disabdakan Semar tidak pernah berupa
“perintah untuk melakukan” tetapi lebih kepada “bagaimana sebaiknya
melakukan”. Semua keputusan yang akan diambil diserahkan semuanya kepada
“tuan”nya. Semar atau Kaki Semar sendiri memiliki 110 nama, diantaranya
adalah Ki Sabdopalon, Sang Hyang Ismoyo, Ki Bodronoyo, dan lain-lain.
Di
dalam Serat Darmogandhul diceritakan episode perpisahan antara Sabdo
Palon dengan Prabu Brawijaya karena perbedaan prinsip. Sebelum berpisah
Sabdo Palon menyatakan kekecewaannya dengan sabda-sabda yang mengandung
prediksi tentang sosok masa depan yang diharapkannya. Berikut
ungkapan-ungkapan itu :
“…..
Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha,
turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut
bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang
mangrêti.”
Terjemahannya
(“…..
Paduka perlu faham, jika sudah berganti agama Islam, meninggalkan agama
Budha, keturunan Paduka akan celaka, Jawi (orang Jawa yang memahami
kawruh Jawa) tinggal Jawan (kehilangan jati diri jawa-nya), Jawi-nya
hilang, suka ikut-ikutan bangsa lain. Suatu saat tentu akan dipimpin
oleh orang Jawa (Jawi) yang mengerti.”
“….. Sang Prabu diaturi
ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa, agêgaman kawruh,
iya iku sing diêmong Sabdapalon, wong jawan arêp diwulang wêruha marang
bênêr luput.”
Terjemahannya
(“…..
Sang Prabu diminta memahami, suatu saat nanti kalau ada orang Jawa
menggunakan nama tua (sepuh), berpegang pada kawruh Jawa, yaitulah yang
diasuh oleh Sabda Palon, orang Jawan (yang telah kehilangan Jawa-nya)
akan diajarkan agar bisa melihat benar salahnya.”)
Dari dua
ungkapan di atas Sabdo Palon mengingatkan Prabu Brawijaya bahwa suatu
ketika nanti akan ada orang Jawa yang memahami kawruh Jawa (tiyang Jawi)
yang akan memimpin bumi nusantara ini.
Juga dikatakan bahwa ada
saat nanti datang orang Jawa asuhan Sabdo Palon yang memakai nama
sepuh/tua (bisa jadi “mbah”, “aki”, ataupun “eyang”) yang memegang teguh
kawruh Jawa akan mengajarkan dan memaparkan kebenaran dan kesalahan
dari peristiwa yang terjadi saat itu dan akibat-akibatnya dalam waktu
berjalan. Hal ini menyiratkan adanya dua sosok di dalam ungkapan Sabdo
Palon tersebut yang merupakan sabda prediksi di masa mendatang, yaitu
pemimpin yang diharapkan dan pembimbing spiritual (seorang pandhita).
Ibarat Arjuna dan Semar atau juga Prabu Parikesit dan Begawan Abhiyasa. Lebih lanjut diceritakan :
“Sang
Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong
loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa, wusana
banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan
salina jênêng nagara Banyuwangi, dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali
marang tanah Jawa anggawa momongane. Dene samêngko Sabdapalon isih
nglimput aneng tanah sabrang.”
Terjemahannya
(“Sang
Prabu berkeinginan merangkul Sabdo Palon dan Nayagenggong, namun orang
dua itu kemudian raib. Sang Prabu heran dan bingung kemudian berkata
kepada Sunan Kalijaga : “Gantilah nama Blambangan menjadi Banyuwangi, jadikan ini sebagai tanda kembalinya Sabda Palon di tanah Jawa membawa asuhannya.
Dari
kalimat ini jelas menandakan bahwa Sabdo Palon dan Prabu Brawijaya
berpisah di tempat yang sekarang bernama Banyuwangi. Tanah seberang yang
dimaksud tidak lain tidak bukan adalah Pulau Bali. Untuk mengetahui
lebih lanjut guna menguak misteri ini, ada baiknya kita kaji sedikit
tentang Ramalan Sabdo Palon berikut ini.Ramalan Sabdo Palon
( Terjemahan bebas bahasa Indonesia )
- Ingatlah
kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara
Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan
Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon
Naya Genggong.
- Prabu
Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda Palon
sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut
Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.”
- Sabda
Palon menjawab “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini
raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu
anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus
berpisah.
- Berpisah
dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami
mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha
lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.
- Bila
ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin
setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur
leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini.
Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.
- Lahar
tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda
kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi).
Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa
segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.
- Kelak
waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta
Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di
tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan
manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.
- Bahaya
yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan
tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal
tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.
- Bermacam-macam
bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak
mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu
menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun
demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.
- Bumi
sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak
yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan.
Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tapi
siang hari banyak begal.
- Manusia
bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak
mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut.
Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar
biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit
sorenya telah meninggal dunia.
- Bahaya
penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat
waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya.
Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang.
- Seperti
lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu
banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut.
Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.
- Gunung-gunung
besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri
sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal
sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang
tertinggal sedikitpun.
- Gempa
bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun
menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah.
Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun
rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal
dunia.
- Demikianlah
kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak tampak lagi
diriya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama
sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah.
Namun bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin
diubahnya lagi.
Dari
bait-bait di atas dapatlah kita memahami bahwa Sabdo Palon menyatakan
berpisah dengan Prabu Brawijaya kembali ke asal mulanya. Perlu kita tahu
bahwa Semar adalah wujud manusia biasa titisan dewa Sang Hyang Ismoyo.
Jadi ketika itu Sabdo Palon berencana untuk kembali ke asal mulanya
adalah alam kahyangan (alam dewa-dewa), kembali sebagai wujud dewa, Sang
Hyang Ismoyo.
Lamanya pergi selama 500 tahun. Dan kemudian Sabdo
Palon menyatakan janjinya akan datang kembali di bumi tanah Jawa
(tataran nusantara) dengan tanda-tanda tertentu. Diungkapkannya tanda
utama itu adalah muntahnya lahar gunung Merapi ke arah barat daya.
Baunya tidak sedap.
Dan juga kemudian diikuti bencana-bencana
lainnya. Itulah tanda Sabdo Palon telah datang. Dalam dunia pewayangan
keadaan ini dilambangkan dengan judul: “Semar Ngejawantah”.
Mari
kita renungkan sesaat tentang kejadian muntahnya lahar gunung Merapi
tahun lalu dimana untuk pertama kalinya ditetapkan tingkat statusnya
menjadi yang tertinggi : “Awas Merapi”. Saat kejadian malam itu lahar
merapi keluar bergerak ke arah “Barat Daya”. Pada
hari itu tanggal 13 Mei 2006 adalah malam bulan purnama bertepatan
dengan Hari Raya Waisyak (Budha) dan Hari Raya Kuningan (Hindu). Secara hakekat nama “Sabdo Palon Noyo Genggong” adalah simbol dua satuan yang menyatu, yaitu : Hindu – Budha (Syiwa Budha).
Di
dalam Islam dua satuan ini dilambangkan dengan dua kalimat Syahadat.
Apabila angka tanggal, bulan dan tahun dijumlahkan maka : 1 + 3 + 5 + 2 +
6 = 17 (1+7 = 8 ). Angka 17 kita kenal merupakan angka keramat. 17
merupakan jumlah raka’at sholat lima waktu di dalam syari’at Islam. 17
juga merupakan lambang hakekat dari “bumi sap pitu” dan “langit sap
pitu” yang berasal dari Tuhan YME. Sedangkan angka 8 merupakan lambang
delapan penjuru mata angin.
Di Bali hal ini dilambangkan dengan
apa yang kita kenal dengan “Sad Kahyangan Jagad”. Artinya dalam kejadian
ini delapan kekuatan dewa-dewa menyatu, menyambut dan menghantarkan
Sang Hyang Ismoyo (Sabdo Palon) untuk turun ke bumi. Di dalam kawruh
Jawa, Sang Hyang Ismoyo adalah sosok dewa yang dihormati oleh seluruh
dewa-dewa. Dan gunung Merapi di sini melambangkan hakekat tempat atau
sarana turunnya dewa ke bumi (menitis).
SIAPA SEJATINYA “SABDO PALON NOYO GENGGONG” ?
Setelah
kita membaca dan memahami secara keseluruhan wasiat-wasiat leluhur
Nusantara, maka telah sampai saatnya kita mengulas sesuai dengan
pemahaman kita tentang siapa sejatinya Sabdo Palon Noyo Genggong itu.
“Sabdo
Palon adalah seorang ponokawan Prabu Brawijaya, penasehat spiritual dan
pandhita sakti kerajaan Majapahit. Dari penelusuran secara spiritual,
Sabdo Palon itu sejatinya adalah beliau : Dang Hyang Nirartha/ Mpu
Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan Semeru yang akhirnya moksa di
Pura Uluwatu.”
Dari referensi yang saya dapatkan, Dang
Hyang Nirartha adalah anak dari Dang Hyang Asmaranatha, dan cucu dari
Mpu Tantular atau Dang Hyang Angsokanatha (penyusun Kakawin Sutasoma
dimana di dalamnya tercantum “Bhinneka Tunggal Ika”). Danghyang Nirartha adalah seorang pendeta Budha yang kemudian beralih menjadi pendeta Syiwa. Beliau juga diberi nama Mpu Dwijendra dan dijuluki Pedanda Sakti Wawu Rawuh, beliau juga dikenal sebagai seorang sastrawan.
Dalam Dwijendra Tattwa dikisahkan sebagai berikut :
“Pada
Masa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, tersebutlah seorang Bhagawan
yang bernama Dang Hyang Dwi Jendra. Beliau dihormati atas pengabdian
yang sangat tinggi terhadap raja dan rakyat melalui ajaran-ajaran
spiritual, peningkatan kemakmuran dan menanggulangi masalah-masalah
kehidupan. Beliau dikenal dalam menyebarkan ajaran Agama Hindu dengan
nama “Dharma Yatra”. Di Lombok Beliau disebut “Tuan Semeru” atau guru dari Semeru, nama sebuah gunung di Jawa Timur.”
Dengan
kemampuan supranatural dan mata bathinnya, beliau melihat benih-benih
keruntuhan kerajaan Hindu di tanah Jawa. Maksud hati hendak melerai
pihak-pihak yang bertikai, akan tetapi tidak mampu melawan kehendak Sang
Pencipta, ditandai dengan berbagai bencana alam yang ditengarai turut
ambil kontribusi dalam runtuhnya kerajaan Majapahit (salah satunya
adalah bencana alam “Pagunungan Anyar”). Akhirnya beliau mendapat
petunjuk untuk hijrah ke sebuah pulau yang masih di bawah kekuasaan
Majapahit, yaitu Pulau Bali. Sebelum pergi ke Pulau Bali, Dang Hyang
Nirartha hijrah ke Daha (Kediri), lalu ke Pasuruan dan kemudian ke
Blambangan.
Beliau pertama
kali tiba di Pulau Bali dari Blambangan sekitar tahun caka 1411 atau
1489 M ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Beliau
mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan
paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai
Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa.
Dang Hyang Nirarta dijuluki
pula Pedanda Sakti Wawu Rawuh karena beliau mempunyai kemampuan supra
natural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum sehingga beliau
diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan). Ketika itu Bali Dwipa
mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata
dengan baik.
Hak dan kewajiban para bangsawan diatur,
hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat
silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat
pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan
keagamaan ditingkatkan. Selain itu beliau juga mendorong penciptaan
karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar,
kidung atau kekawin.
Pura-pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim membimbing umat adalah : Purancak,
Rambut siwi, Pakendungan, Ulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan,
Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok),
Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki,
Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dan lain-lain. Akhirnya
Dang Hyang Nirartha menghilang gaib (moksa) di Pura Uluwatu. (Moksa =
bersatunya atman dengan Brahman/Sang Hyang Widhi Wasa, meninggal dunia
tanpa meninggalkan jasad).
10 (sepuluh) pesan dari beliau Dang Hyang Nirartha sbb:
- Tuwi
ada ucaping haji, utama ngwangun tlaga, satus reka saliunnya, kasor
ento utamannya, ring sang ngangun yadnya pisan, kasor buin yadnyane
satus, baan suputra satunggal. ( bait 5 )
- Terjemahan
Ada sebenarnya ucapan ilmu pengetahuan, utama orang yang membangun
telaga, banyaknya seratus, kalah keutamaannya itu, oleh orang yang
melakukan korban suci sekali, korban suci yang seratus ini, kalah oleh
anak baik seorang.
- Bapa
mituduhin cening, tingkahe menadi pyanak, eda bani ring kawitan, sang
sampun kaucap garwa, telu ne maadan garwa, guru reka, guru prabhu, guru
tapak tui timpalnya. ( bait 6 )
- Terjemahan
Ayahnda memberitahumu anakku, tata cara menjadi anak, jangan durhaka
pada leluhur, orang yang disebut guru, tiga banyaknya yang disebut guru,
guru reka, guru prabhu, dan guru tapak (yang mengajar) itu.
- Melah
pelapanin mamunyi, ring ida dane samian, wangsane tong kaletehan, tong
ada ngupet manemah, melah alepe majalan, batise twara katanjung, bacin
tuara bakat ingsak. ( bait 8 )
- Terjemahan
Lebih baik hati-hati dalam berbicara, kepada semua orang, tak akan
ternoda keturunannya, tak ada yang akan mencaci maki, lebih baik
hati-hati dalam berjalan, sebab kaki tak akan tersandung, dan tidak akan
menginjak kotoran.
- Uli
jani jwa kardinin, ajak dadwa nah gawenang, patut tingkahe buatang,
tingkahe mangelah mata, gunannya anggon malihat, mamedasin ane patut, da
jua ulah malihat. ( bait 10 )
- Terjemahan Mulai sekarang
lakukan, lakukanlah berdua, patut utamakan tingkah laku yang benar,
seperti menggunakan mata, gunanya untuk melihat, memperhatikan tingkah
laku yang benar, jangan hanya sekedar melihat.
- Tingkahe
mangelah kuping, tuah anggon maningehang, ningehang raose melah,
resepang pejang di manah, da pati dingeh-dingehang, kranannya mangelah
cunguh, anggon ngadek twah gunanya. ( bait 11 )
- Terjemahan
Kegunaan punya telinga, sebenarnya untuk mendengar, mendengar kata-kata
yang benar, camkan dan simpan dalam hati, jangan semua hal didengarkan.
- Nanging
da pati adekin, mangulah maan madiman, patutang jua agrasayang, apang
bisa jwa ningkahang, gunan bibih twah mangucap, de mangucap pati kacuh,
ne patut jwa ucapang. ( bait 12 )
- Terjemahan
Jangan segalanya dicium, sok baru dapat mencium, baik-baiklah caranya
merasakan, agar bisa melaksanakannya, kegunaan mulut untuk berbicara,
jangan berbicara sembarangan, hal yang benar hendaknya diucapkan.
- Ngelah
lima da ja gudip, apikin jua nyemakang, apang patute bakatang, wyadin
batise tindakang, yatnain twah nyalanang, eda jwa mangulah laku,
katanjung bena nahanang. ( bait 13 )
- Terjemahan
Memiliki tangan jangan usil, hati-hati menggunakan, agar selalu
mendapat kebenaran, begitu pula dalam melangkahkan kaki, hati-hatilah
melangkahkannya, bila kesandung pasti kita yang menahan (menderita) nya.
- Awake
patut gawenin, apang manggih karahaywan, da maren ngertiang awak,
waluya matetanduran, tingkahe ngardinin awak, yen anteng twi manandur,
joh pare twara mupuang. ( bait 14 )
- Terjemahan
Kebenaran hendaknya diperbuat, agar menemukan keselamatan, jangan
henti-hentinya berbuat baik, ibaratnya bagai bercocok tanam, tata cara
dalam bertingkah laku, kalau rajin menanam, tak mungkin tidak akan
berhasil.
- Tingkah
ne melah pilihin, buka anake ka pasar, maidep matetumbasan, masih ya nu
mamilihin, twara nyak meli ne rusak, twah ne melah tumbas ipun, patuh
ring ma mwatang tingkah. ( bait 15 )
- Terjemahan
Pilihlah perbuatan yang baik, seperti orang ke pasar, bermaksud hendak
berbelanja, juga masih memilih, tidak mau membeli yang rusak, pasti yang
baik dibelinya, sama halnya dengan memilih tingkah laku.
- Tingkah
ne melah pilihin, da manganggoang tingkah rusak, saluire kaucap rusak,
wantah nista ya ajinnya, buine tong kanggoang anak, kija aba tuara laku,
keto cening sujatinnya. ( bait 16 )
- Terjemahan
Pilihlah tingkah laku yang baik, jangan mau memakai tingkah laku yang
jahat, betul-betul hina nilainya, ditambah lagi tiada disukai
masyarakat, kemanapun di bawa tak akan laku, begitulah sebenarnya
anakku.
Akhirnya dengan penelusuran secara spiritual dapatlah disimpulkan : “Jadi
yang dikatakan “Putra Betara Indra” oleh Joyoboyo, “Budak Angon” oleh
Prabu Siliwangi, dan “Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu” oleh
Ronggowarsito itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Sabdo Palon, yang
sejatinya adalah Dan Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti
Wawu Rawuh/ Tuan Semeru
sumber : http://sejarah-puri-pemecutan.blogspot.com
Berikut menurut sumber lain yang saya dapatkan namun mohon maaf apabila saya lupa dari mana saya mendapatkannya, setelah bongkar-bongkar file lama dan menggabungkan menjadi satu, semoga dapat memperkaya refrensi pustaka para pembaca dan peminat sejarah nusantara.
Misteri Sabda Palon Dalam upaya
menelisik misteri siapa sejatinya Sabdo Palon, saya mengawali dengan mengkaji
Serat Darmagandhul dan ramalan Sabdo Palon. Di sini tidak akan dipersoalkan
siapa yang membuat karya-karya tersebut untuk tidak menimbulkan banyak
perdebatan. Karena penjelasan secara akal penalaran amatlah rumit, namun dengan
pendekatan spiritual dapatlah ditarik benang merahnya yang akan membawa kepada
satu titik terang. Dan ini akhirnya dapat dirunut secara logika historis.
Menarik memang di dalam mencari
jawab tentang siapakah Sabdo Palon ? Karena kata Sabdo Palon Noyo Genggong
sebagai penasehat spiritual Prabu Brawijaya V (memerintah tahun 1453 – 1478)
tidak hanya dapat ditemui di dalam Serat Darmagandhul saja, namun di dalam
bait-bait terakhir ramalan Joyoboyo (1135 – 1157) juga telah disebut-sebut,
yaitu bait 164 dan 173 yang menggambarkan tentang sosok Putra Betara Indra sbb
:
164. …; mumpuni sakabehing laku;
nugel tanah Jawa kaping pindho; ngerahake jin setan; kumara prewangan, para
lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen ambantu manungso Jawa padha
asesanti trisula weda; landhepe triniji suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake Sabdopalon
lan Noyogenggong. (…; menguasai seluruh ajaran (ngelmu); memotong tanah
Jawa kedua kali; mengerahkan jin dan setan; seluruh makhluk halus berada di
bawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula
weda; tajamnya tritunggal nan suci; benar, lurus, jujur; didampingi Sabdopalon
dan Noyogenggong)
173. nglurug tanpa bala; yen
menang tan ngasorake liyan; para kawula padha suka-suka; marga adiling pangeran
wus teka; ratune nyembah kawula; angagem trisula wedha; para pandhita hiya
padha muja; hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang
nanging kondhang; genaha kacetha kanthi njingglang; nora ana wong ngresula
kurang; hiya iku tandane kalabendu wis minger; centi wektu jejering kalamukti;
andayani indering jagad raya; padha asung bhekti. (menyerang tanpa pasukan;
bila menang tak menghina yang lain; rakyat bersuka ria; karena keadilan Yang
Kuasa telah tiba; raja menyembah rakyat; bersenjatakan trisula wedha; para
pendeta juga pada memuja; itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah
menanggung malu tetapi termasyhur; segalanya tampak terang benderang; tak ada yang
mengeluh kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman
penuh kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa hormat
yang tinggi)
Serat Darmagandhul Memahami Serat Darmagandhul dan karya-karya leluhur kita
dibutuhkan kearifan dan netralitas yang tinggi, karena mengandung nilai kawruh
Jawa yang sangat tinggi. Jika belum matang beragama maka akan muncul sentimen
terhadap agama lain. Tentu ini tidak kita kehendaki. Tiada maksud lain dari
saya kecuali hanya ingin mengungkap fakta dan membedah warisan leluhur dari
pendekatan spiritual dan historis.
Dalam serat Dharmagandhul ini saya
hanya ingin menyoroti ucapan-ucapan penting pada pertemuan antara Sunan
Kalijaga, Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon di Blambangan. Pertemuan ini terjadi
ketika Sunan Kalijaga mencari dan menemukan Prabu Brawijaya yang tengah lari ke
Blambangan untuk meminta bantuan bala tentara dari kerajaan di Bali dan Cina
untuk memukul balik serangan putranya, Raden Patah yang telah menghancurkan
Majapahit. Namun hal ini bisa dicegah oleh Sunan Kalijaga dan akhirnya Prabu
Brawijaya masuk agama Islam. Karena Sabdo Palon tidak bersedia masuk agama
Islam atas ajakan Prabu Brawijaya, maka mereka berpisah. Sebelum perpisahan
terjadi ada baiknya kita cermati ucapan-ucapan berikut ini :
Sabdo Palon : “Paduka sampun
kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut,
tanpa guna kula êmong, kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang
cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong
paduka. … Manawi paduka botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah Jawi, nama
Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi
Mahmeru punika sadaya kula, …” (“Paduka sudah terlanjur terperosok, mau jadi
orang jawan (kehilangan jawa-nya), kearab-araban, hanya ikut-ikutan, tidak ada
gunanya saya asuh, saya malu kepada bumi dan langit, malu mengasuh orang tolol,
saya mau mencari asuhan yang bermata satu (memiliki prinsip/aqidah yang
kuat), tidak senang mengasuh paduka. … Kalau paduka tidak percaya, yang
disebut dalam ajaran Jawa, nama Manik Maya (Semar) itu saya, yang
membuat kawah air panas di atas gunung itu semua adalah saya, …”)
Ucapan Sabdo Palon ini menyatakan
bahwa dia sangat malu kepada bumi dan langit dengan keputusan Prabu Brawijaya
masuk agama Islam. Gambaran ini telah diungkapkan Joyoboyo pada bait 173 yang
berbunyi : “…, hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang
nanging kondhang; …” (“…, itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung
malu tetapi termasyhur; …”). Dalam ucapan ini pula Sabdo Palon menegaskan bahwa
dirinyalah sebenarnya yang dikatakan dalam kawruh Jawa dengan apa yang dikenal
sebagai “Manik Maya” atau “Semar”.
“Sabdapalon matur yen arêp misah,
barêng didangu lungane mênyang ngêndi, ature ora lunga, nanging ora manggon ing
kono, mung nêtêpi jênênge Sêmar, nglimputi salire wujud, anglela kalingan
padhang. …..” (“ Sabdo Palon menyatakan akan
berpisah, begitu ditanya perginya kemana, jawabnya tidak pergi, akan tetapi
tidak bertempat di situ, hanya menetapkan namanya Semar, yang meliputi segala
wujud, membuatnya samar. …..”)
Sekali lagi dalam ucapan ini Sabdo
Palon menegaskan bahwa dirinyalah yang bernama Semar. Bagi orang Jawa yang
berpegang pada kawruh Jawa pastilah memahami tentang apa dan bagaimana Semar.
Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa Semar adalah merupakan utusan gaib Gusti
Kang Murbeng Dumadi (Tuhan Yang Maha Kuasa) untuk melaksanakan tugas agar
manusia selalu menyembah dan bertaqwa kepada Tuhan, selalu bersyukur dan eling
serta berjalan pada jalan kebaikan. Sebelum manusia mengenal agama, keberadaan
Semar telah ada di muka bumi. Beliau mendapat tugas khusus dari Gusti Kang
Murbeng Dumadi untuk menjaga dan memelihara bumi Nusantara khususnya, dan jagad
raya pada umumnya. Perhatikan ungkapan Sabdo Palon berikut ini :
Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki
Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa. Sintên ingkang jumênêng Nata, dados
momongan kula. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrêm
lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos dumugi sapriki, kula momong pikukuh
lajêr Jawi, ….. ….., dumugi sapriki umur-kula sampun 2.000 langkung 3 taun,
momong lajêr Jawi, botên wontên ingkang ewah agamanipun, …..” (Sabdo Palon berkata sedih: “Hamba ini Ratu Dhang Hyang yang
menjaga tanah Jawa. Siapa yang bertahta, menjadi asuhan hamba. Mulai dari
leluhur paduka dahulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun
temurun sampai sekarang, hamba mengasuh keturunan raja-raja Jawa, ….. ….., sampai
sekarang ini usia hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja
Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, …..”)
Ungkapan di atas menyatakan bahwa
Sabdo Palon (Semar) telah ada di bumi Nusantara ini bahkan 525 tahun sebelum
masehi jika dihitung dari berakhirnya kekuasaan Prabu Brawijaya pada tahun
1478. Saat ini di tahun 2007, berarti usia Sabdo Palon telah mencapai 2.532
tahun. Setidaknya perhitungan usia tersebut dapat memberikan gambaran kepada
kita, walaupun angka-angka yang menunjuk masa di dalam wasiat leluhur sangat
toleransif sifatnya. Di kalangan spiritualis Jawa pada umumnya, keberadaan
Semar diyakini berupa “suara tanpa rupa”. Namun secara khusus bagi yang
memahami lebih dalam lagi, keberadaan Semar diyakini dengan istilah “mencolo
putro, mencolo putri”, artinya dapat mewujud dan menyamar sebagai manusia
biasa dalam wujud berlainan di setiap masa. Namun dalam perwujudannya sebagai
manusia tetap mencirikan karakter Semar sebagai sosok “Begawan atau Pandhita”.
Hal ini dapat dipahami karena dalam kawruh Jawa dikenal adanya konsep “menitis”
dan “Cokro Manggilingan”.
Dari apa yang telah disinggung di
atas, kita telah sedikit memahami bahwa Sabdo Palon sebagai pembimbing
spiritual Prabu Brawijaya merupakan sosok Semar yang nyata. Menurut Sabdo Palon
dalam ungkapannya dikatakan :
“…, paduka punapa kêkilapan dhatêng
nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya
têgêsipun ulat, Genggong: langgêng botên ewah. Dados wicantên-kula punika,
kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi, langgêng salaminipun.” (“…, apakah paduka lupa terhadap nama saya Sabdo Palon? Sabda
artinya kata-kata, Palon adalah kayu pengancing kandang, Naya
artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi ucapan
hamba itu berlaku sebagai pedoman hidup di tanah Jawa, langgeng selamanya.”)
Seperti halnya Semar telah banyak
dikenal sebagai pamomong sejati yang selalu mengingatkan bilamana yang
di”emong”nya salah jalan, salah berpikir atau salah dalam perbuatan, terlebih
apabila melanggar ketentuan-ketentuan Tuhan Yang Maha Esa. Semar selalu
memberikan piwulangnya untuk bagaimana berbudi pekerti luhur selagi hidup di
dunia fana ini sebagai bekal untuk perjalanan panjang berikutnya nanti. Jadi
Semar merupakan pamomong yang “tut wuri handayani”, menjadi tempat
bertanya karena pengetahuan dan kemampuannya sangat luas, serta memiliki sifat
yang bijaksana dan rendah hati juga waskitho (ngerti sakdurunge winarah).
Semua yang disabdakan Semar tidak pernah berupa “perintah untuk melakukan”
tetapi lebih kepada “bagaimana sebaiknya melakukan”. Semua keputusan yang akan
diambil diserahkan semuanya kepada “tuan”nya. Semar atau Kaki Semar sendiri
memiliki 110 nama, diantaranya adalah Ki Sabdopalon, Sang Hyang Ismoyo, Ki
Bodronoyo, dan lain-lain.
Di dalam Serat Darmogandhul
diceritakan episode perpisahan antara Sabdo Palon dengan Prabu Brawijaya karena
perbedaan prinsip. Sebelum berpisah Sabdo Palon menyatakan kekecewaannya dengan
sabda-sabda yang mengandung prediksi tentang sosok masa depan yang
diharapkannya. Berikut ungkapan-ungkapan itu :
“….. Paduka yêktos, manawi sampun
santun agami Islam, nilar agami Buddha, turun paduka tamtu apês, Jawi kantun
jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah
dening tiyang Jawi ingkang mangrêti.” (“…..
Paduka perlu faham, jika sudah berganti agama Islam, meninggalkan agama Budha,
keturunan Paduka akan celaka, Jawi (orang Jawa yang memahami kawruh Jawa)
tinggal Jawan (kehilangan jati diri jawa-nya), Jawi-nya hilang, suka ikut-ikutan
bangsa lain. Suatu saat tentu akan dipimpin oleh orang Jawa (Jawi) yang
mengerti.”
“….. Sang Prabu diaturi ngyêktosi,
ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong
Sabdapalon, wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput.” (“….. Sang Prabu diminta memahami, suatu saat nanti kalau
ada orang Jawa menggunakan nama tua (sepuh), berpegang pada kawruh Jawa,
yaitulah yang diasuh oleh Sabda Palon, orang Jawan (yang telah kehilangan
Jawa-nya) akan diajarkan agar bisa melihat benar salahnya.”)
Dari dua ungkapan di atas Sabdo
Palon mengingatkan Prabu Brawijaya bahwa suatu ketika nanti akan ada orang Jawa
yang memahami kawruh Jawa (tiyang Jawi) yang akan memimpin bumi nusantara ini.
Juga dikatakan bahwa ada saat nanti datang orang Jawa asuhan Sabdo Palon yang
memakai nama sepuh/tua (bisa jadi “mbah”, “aki”, ataupun “eyang”) yang memegang
teguh kawruh Jawa akan mengajarkan dan memaparkan kebenaran dan kesalahan dari
peristiwa yang terjadi saat itu dan akibat-akibatnya dalam waktu berjalan. Hal
ini menyiratkan adanya dua sosok di dalam ungkapan Sabdo Palon tersebut yang
merupakan sabda prediksi di masa mendatang, yaitu pemimpin yang diharapkan dan
pembimbing spiritual (seorang pandhita). Ibarat Arjuna dan Semar atau juga Prabu
Parikesit dan Begawan Abhiyasa. Lebih lanjut diceritakan :
“Sang Prabu karsane arêp ngrangkul
Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu
ngungun sarta nênggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing
besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi, dadiya têngêr
Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. Dene samêngko
Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang.” (“Sang Prabu berkeinginan merangkul Sabdo Palon dan
Nayagenggong, namun orang dua itu kemudian raib. Sang Prabu heran dan bingung
kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga : “Gantilah nama Blambangan menjadi
Banyuwangi, jadikan ini sebagai tanda kembalinya Sabda Palon di tanah Jawa
membawa asuhannya. Sekarang ini Sabdo Palon masih berkelana di tanah
seberang.”)
Dari kalimat ini jelas menandakan
bahwa Sabdo Palon dan Prabu Brawijaya berpisah di tempat yang sekarang bernama
Banyuwangi. Tanah seberang yang dimaksud tidak lain tidak bukan adalah Pulau
Bali. Untuk mengetahui lebih lanjut guna menguak misteri ini, ada baiknya kita
kaji sedikit tentang Ramalan Sabdo Palon berikut ini.
Ramalan Sabdo Palon Karena Sabdo Palon tidak berkenan berganti agama Islam, maka
dalam naskah Ramalan Sabdo Palon ini diungkapkan sabdanya sbb :
3. Sabda Palon matur sugal, “Yen
kawula boten arsi, Ngrasuka agama Islam, Wit kula puniki yekti, Ratuning Dang
Hyang Jawi, Momong marang anak putu, Sagung kang para Nata, Kang jurneneng
Tanah Jawi, Wus pinasthi sayekti kula pisahan. (Sabda Palon menjawab kasar:
“Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang
Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah
jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.)
4. Klawan Paduka sang Nata,
Wangsul maring sunya ruri, Mung kula matur petungna, Ing benjang sakpungkur
mami, Yen wus prapta kang wanci, Jangkep gangsal atus tahun, Wit ing dinten
punika, Kula gantos kang agami, Gama Buda kula sebar tanah Jawa. (Berpisah
dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon
dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi
(maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.)
5. Sinten tan purun nganggeya,
Yekti kula rusak sami, Sun sajekken putu kula, Berkasakan rupi-rupi, Dereng
lega kang ati, Yen durung lebur atempur, Kula damel pratandha, Pratandha
tembayan mami, Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar. (Bila ada yang
tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan
lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya
akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi
meletus dan memuntahkan laharnya.)
6. Ngidul ngilen purugira,
Ngganda banger ingkang warih, Nggih punika medal kula, Wus nyebar agama budi,
Merapi janji mami, Anggereng jagad satuhu, Karsanireng Jawata, Sadaya gilir
gumanti, Boten kenging kalamunta kaowahan. (Lahar tersebut mengalir ke
Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai
menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah
menjadi takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila
diubah lagi.)
7. Sanget-sangeting sangsara,
Kang tuwuh ing tanah Jawi, Sinengkalan tahunira, Lawon Sapta Ngesthi Aji, Upami
nyabrang kali, Prapteng tengah-tengahipun, Kaline banjir bandhang, Jerone
ngelebne jalmi, Kathah sirna manungsa prapteng pralaya. (Kelak waktunya
paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama
seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya
banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal
dunia.)
8. Bebaya ingkang tumeka, Warata
sa Tanah Jawi, Ginawe kang paring gesang, Tan kenging dipun singgahi, Wit ing
donya puniki, Wonten ing sakwasanipun, Sedaya pra Jawata, Kinarya amertandhani,
Jagad iki yekti ana kang akarya. (Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh
tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia
ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada
yang membuatnya.)
Dari bait-bait di atas dapatlah kita
memahami bahwa Sabdo Palon menyatakan berpisah dengan Prabu Brawijaya kembali
ke asal mulanya. Perlu kita tahu bahwa Semar adalah wujud manusia biasa titisan
dewa Sang Hyang Ismoyo. Jadi ketika itu Sabdo Palon berencana untuk kembali ke
asal mulanya adalah alam kahyangan (alam dewa-dewa), kembali sebagai wujud
dewa, Sang Hyang Ismoyo. Lamanya pergi selama 500 tahun. Dan kemudian Sabdo
Palon menyatakan janjinya akan datang kembali di bumi tanah Jawa (tataran
nusantara) dengan tanda-tanda tertentu. Diungkapkannya tanda utama itu adalah
muntahnya lahar gunung Merapi ke arah barat daya. Baunya tidak sedap. Dan juga
kemudian diikuti bencana-bencana lainnya. Itulah tanda Sabdo Palon telah
datang. Dalam dunia pewayangan keadaan ini dilambangkan dengan judul: “Semar
Ngejawantah”.
Mari kita renungkan sesaat tentang
kejadian muntahnya lahar gunung Merapi tahun lalu dimana untuk pertama kalinya
ditetapkan tingkat statusnya menjadi yang tertinggi : “Awas Merapi”. Saat
kejadian malam itu lahar merapi keluar bergerak ke arah “Barat Daya”. Pada hari
itu tanggal 13 Mei 2006 adalah malam bulan purnama bertepatan dengan Hari Raya
Waisyak (Budha) dan Hari Raya Kuningan (Hindu). Secara hakekat nama “Sabdo
Palon Noyo Genggong” adalah simbol dua satuan yang menyatu, yaitu : Hindu –
Budha (Syiwa Budha). Di dalam Islam dua satuan ini dilambangkan dengan dua
kalimat Syahadat. Apabila angka tanggal, bulan dan tahun dijumlahkan, maka : 1
+ 3 + 5 + 2 + 6 = 17 ( 1 + 7 = 8 ). Angka 17 kita kenal merupakan angka
keramat. 17 merupakan jumlah raka’at sholat lima waktu di dalam syari’at Islam.
17 juga merupakan lambang hakekat dari “bumi sap pitu” dan “langit sap pitu”
yang berasal dari Yang Satu, Allah SWT. Sedangkan angka 8 merupakan lambang
delapan penjuru mata angin. Di Bali hal ini dilambangkan dengan apa yang kita
kenal dengan “Sad Kahyangan Jagad”. Artinya dalam kejadian ini delapan kekuatan
dewa-dewa menyatu, menyambut dan menghantarkan Sang Hyang Ismoyo (Sabdo Palon)
untuk turun ke bumi. Di dalam kawruh Jawa, Sang Hyang Ismoyo adalah sosok dewa
yang dihormati oleh seluruh dewa-dewa. Dan gunung Merapi di sini melambangkan
hakekat tempat atau sarana turunnya dewa ke bumi (menitis).
SIAPA SEJATINYA “SABDO PALON NOYO
GENGGONG” ?
Setelah kita membaca dan memahami
secara keseluruhan wasiat-wasiat leluhur Nusantara yang ada di blog ini, maka
telah sampai saatnya saya akan mengulas sesuai dengan pemahaman saya tentang
siapa sejatinya Sabdo Palon Noyo Genggong itu. Dari penuturan bapak Tri Budi
Marhaen Darmawan, saya mendapatkan jawaban : “Sabdo Palon adalah seorang
ponokawan Prabu Brawijaya, penasehat spiritual dan pandhita sakti kerajaan
Majapahit. Dari penelusuran secara spiritual, Sabdo Palon itu sejatinya adalah
beliau : Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan
Semeru yang akhirnya moksa di Pura Uluwatu.” (merinding juga saya
mendengar nama ini)
Dari referensi yang saya dapatkan,
Dang Hyang Nirartha adalah anak dari Dang Hyang Asmaranatha, dan cucu dari Mpu
Tantular atau Dang Hyang Angsokanatha (penyusun Kakawin Sutasoma dimana di
dalamnya tercantum “Bhinneka Tunggal Ika”). Danghyang Nirartha adalah seorang
pendeta Budha yang kemudian beralih menjadi pendeta Syiwa. Beliau juga diberi
nama Mpu Dwijendra dan dijuluki Pedanda Sakti Wawu Rawuh, beliau juga dikenal
sebagai seorang sastrawan. Dalam Dwijendra Tattwa dikisahkan sebagai berikut :
“Pada Masa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, tersebutlah seorang Bhagawan yang
bernama Dang Hyang Dwi Jendra. Beliau dihormati atas pengabdian yang sangat
tinggi terhadap raja dan rakyat melalui ajaran-ajaran spiritual, peningkatan
kemakmuran dan menanggulangi masalah-masalah kehidupan. Beliau dikenal dalam
menyebarkan ajaran Agama Hindu dengan nama “Dharma Yatra”. Di Lombok Beliau
disebut “Tuan Semeru” atau guru dari Semeru, nama sebuah gunung di Jawa Timur.”
Dengan kemampuan supranatural dan
mata bathinnya, beliau melihat benih-benih keruntuhan kerajaan Hindu di tanah
Jawa. Maksud hati hendak melerai pihak-pihak yang bertikai, akan tetapi tidak
mampu melawan kehendak Sang Pencipta, ditandai dengan berbagai bencana alam
yang ditengarai turut ambil kontribusi dalam runtuhnya kerajaan Majapahit
(salah satunya adalah bencana alam “Pagunungan Anyar”). Akhirnya beliau
mendapat petunjuk untuk hijrah ke sebuah pulau yang masih di bawah kekuasaan
Majapahit, yaitu Pulau Bali. Sebelum pergi ke Pulau Bali, Dang Hyang Nirartha
hijrah ke Daha (Kediri), lalu ke Pasuruan dan kemudian ke Blambangan.
Beliau pertama kali tiba di Pulau
Bali dari Blambangan sekitar tahun caka 1411 atau 1489 M ketika Kerajaan Bali
Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Beliau mendapat wahyu di Purancak,
Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang
Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Dang
Hyang Nirarta dijuluki pula Pedanda Sakti Wawu Rawuh karena beliau mempunyai
kemampuan supra natural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum sehingga
beliau diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan). Ketika itu Bali Dwipa
mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan
baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama
ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan
disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak
ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan. Selain itu beliau juga
mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk
tulisan lontar, kidung atau kekawin. Pura-pura untuk memuja beliau di tempat
mana beliau pernah bermukim membimbing umat adalah : Purancak, Rambut siwi,
Pakendungan, Ulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu,
Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti,
Peti Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak
Tedung, dan lain-lain. Akhirnya Dang Hyang Nirartha menghilang gaib (moksa) di
Pura Uluwatu. (Moksa = bersatunya atman dengan Brahman/Sang Hyang Widhi Wasa,
meninggal dunia tanpa meninggalkan jasad).
Setelah mengungkapkan bahwa Sabdo
Palon sejatinya adalah Dang Hyang Nirartha, lalu bapak Tri Budi Marhaen
Darmawan memberikan kepada saya 10 (sepuluh) pesan dari beliau Dang Hyang Nirartha
sbb:
- Tuwi ada ucaping haji, utama ngwangun tlaga, satus reka
saliunnya, kasor ento utamannya, ring sang ngangun yadnya pisan, kasor
buin yadnyane satus, baan suputra satunggal. ( bait 5 ) Ada sebenarnya ucapan ilmu pengetahuan, utama orang
yang membangun telaga, banyaknya seratus, kalah keutamaannya itu, oleh
orang yang melakukan korban suci sekali, korban suci yang seratus ini,
kalah oleh anak baik seorang.
- Bapa mituduhin cening, tingkahe menadi pyanak, eda bani
ring kawitan, sang sampun kaucap garwa, telu ne maadan garwa, guru reka,
guru prabhu, guru tapak tui timpalnya. ( bait 6 ) Ayahnda memberitahumu anakku, tata cara menjadi anak,
jangan durhaka pada leluhur, orang yang disebut guru, tiga banyaknya yang
disebut guru, guru reka, guru prabhu, dan guru tapak (yang mengajar) itu.
- Melah pelapanin mamunyi, ring ida dane samian, wangsane
tong kaletehan, tong ada ngupet manemah, melah alepe majalan, batise twara
katanjung, bacin tuara bakat ingsak. ( bait 8 ) Lebih baik hati-hati dalam berbicara, kepada semua
orang, tak akan ternoda keturunannya, tak ada yang akan mencaci maki,
lebih baik hati-hati dalam berjalan, sebab kaki tak akan tersandung, dan
tidak akan menginjak kotoran.
- Uli jani jwa kardinin, ajak dadwa nah gawenang, patut
tingkahe buatang, tingkahe mangelah mata, gunannya anggon malihat,
mamedasin ane patut, da jua ulah malihat. ( bait 10 ) Mulai sekarang lakukan, lakukanlah berdua, patut
utamakan tingkah laku yang benar, seperti menggunakan mata, gunanya untuk
melihat, memperhatikan tingkah laku yang benar, jangan hanya sekedar
melihat.
- Tingkahe mangelah kuping, tuah anggon maningehang,
ningehang raose melah, resepang pejang di manah, da pati dingeh-dingehang,
kranannya mangelah cunguh, anggon ngadek twah gunanya. ( bait 11 ) Kegunaan punya telinga, sebenarnya untuk mendengar,
mendengar kata-kata yang benar, camkan dan simpan dalam hati, jangan semua
hal didengarkan.
- Nanging da pati adekin, mangulah maan madiman, patutang
jua agrasayang, apang bisa jwa ningkahang, gunan bibih twah mangucap, de
mangucap pati kacuh, ne patut jwa ucapang. ( bait 12 ) Jangan segalanya dicium, sok baru dapat mencium,
baik-baiklah caranya merasakan, agar bisa melaksanakannya, kegunaan mulut
untuk berbicara, jangan berbicara sembarangan, hal yang benar hendaknya
diucapkan.
- Ngelah lima da ja gudip, apikin jua nyemakang, apang
patute bakatang, wyadin batise tindakang, yatnain twah nyalanang, eda jwa
mangulah laku, katanjung bena nahanang. ( bait 13 ) Memiliki tangan jangan usil, hati-hati menggunakan,
agar selalu mendapat kebenaran, begitu pula dalam melangkahkan kaki,
hati-hatilah melangkahkannya, bila kesandung pasti kita yang menahan
(menderita) nya.
- Awake patut gawenin, apang manggih karahaywan, da maren
ngertiang awak, waluya matetanduran, tingkahe ngardinin awak, yen anteng
twi manandur, joh pare twara mupuang. ( bait 14 ) Kebenaran hendaknya diperbuat, agar menemukan
keselamatan, jangan henti-hentinya berbuat baik, ibaratnya bagai bercocok
tanam, tata cara dalam bertingkah laku, kalau rajin menanam, tak mungkin
tidak akan berhasil.
- Tingkah ne melah pilihin, buka anake ka pasar, maidep
matetumbasan, masih ya nu mamilihin, twara nyak meli ne rusak, twah ne
melah tumbas ipun, patuh ring ma mwatang tingkah. ( bait 15 ) Pilihlah perbuatan yang baik, seperti orang ke pasar,
bermaksud hendak berbelanja, juga masih memilih, tidak mau membeli yang
rusak, pasti yang baik dibelinya, sama halnya dengan memilih tingkah laku.
- Tingkah ne melah pilihin, da manganggoang tingkah
rusak, saluire kaucap rusak, wantah nista ya ajinnya, buine tong kanggoang
anak, kija aba tuara laku, keto cening sujatinnya. ( bait 16 ) Pilihlah tingkah laku yang baik, jangan mau memakai
tingkah laku yang jahat, betul-betul hina nilainya, ditambah lagi tiada
disukai masyarakat, kemanapun di bawa tak akan laku, begitulah sebenarnya
anakku.
Akhirnya bapak Tri Budi Marhaen
Darmawan mengungkapkan bahwa dengan penelusuran secara spiritual dapatlah
disimpulkan : “Jadi yang dikatakan “Putra Betara Indra” oleh Joyoboyo, “Budak
Angon” oleh Prabu Siliwangi, dan “Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu”
oleh Ronggowarsito itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Sabdo Palon,
yang sejatinya adalah Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu
Rawuh/ Tuan Semeru. Pertanyaannya sekarang adalah: Ada dimanakah beliau
saat ini kalau dari tanda-tanda yang telah terjadi dikatakan bahwa Sabdo Palon
telah datang ? Tentu saja sangat tidak etis untuk menjawab persoalan ini.
Sangat sensitif… Ini adalah wilayah para kasepuhan suci, waskitho, ma’rifat dan
mukasyafah saja yang dapat menjumpai dan membuktikan kebenarannya. Dimensi
spiritual sangatlah pelik dan rumit. Tidak perlu banyak perdebatan, karena
Sabdo Palon yang telah menitis kepada “seseorang” itu yang jelas memiliki
karakter 7 (tujuh) satrio seperti yang telah diungkapkan oleh R.Ng.
Ronggowarsito, dan juga memiliki karakter Putra Betara Indra seperti yang
diungkapkan oleh Joyoboyo. Secara fisik “seseorang” itu ditandai dengan
memegang sepasang pusaka Pengayom Nusantara hasil karya beliau Dang Hyang Nirartha.”
“Kesimpulan akhirnya adalah : Putra
Betara Indra = Budak Angon = Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu
seperti yang telah dikatakan oleh para leluhur Nusantara di atas adalah sosok
yang diharap-harapkan rakyat nusantara selama ini, yaitu beliau yang dinamakan “SATRIO
PININGIT”. Jadi, Satrio Piningit (SP) = adalah seorang Satrio
Pinandhito (SP) = yaitulah Sabdo Palon (SP) = sebagai Sang
Pamomong (SP) = dikenal juga dengan nama Semar Ponokawan (SP) =
pemegang pusaka Sabdo Palon (SP) = berada di “SP” (?) = tepatnya
di daerah “SP” (?) = dimana terdapat “SP” (?) = dengan nama “SP”
dan “SP” (?) . Satrio Piningit tidak akan sekedar mengaku-aku bahwa
dirinya adalah seorang Satrio Piningit. Namun beliau akan “membuktikan” banyak
hal yang sangat fenomenal untuk kemaslahatan rakyat negeri ini. Kapan waktunya
?