22 April 2014

Memahami “Kematian”


Tulisan Sdr.Henky Kuntarto
Akhir minggu kemarin saya melayat seorang kerabat yang meninggal dunia, masih family dekat dan usianya lebih muda dari saya. Ini seperti suatu pengalaman yang berulang2 kita alami, mendoakan kerabat yang meninggal sampai saatnya nanti kita juga akan mengalaminya. Tetapi selalu ada pertanyaan di benak saya ; bagaimana kehidupan yang akan dialami selanjutnya?
Dulu saya menganggap kematian adalah rahasia tuhan dan manusia tidak akan bisa mengetahui yang terjadi setelah kematian selain apa yan tertulis dalam kitab Suci. Banyak buku bercerita tentang hal tersebut yang hanya mengutip dari ayat2 yang tertulis dalam kitab sambil membayangkan kondisi yang terjadi di alam kubur maupun hari kebangkitan, jadi kita hanya bisa mendengarkan hal tersebut dari orang lain atau kitab yang ditulis lebih dari seribu tahun yang lalu dan bukan dari pencarian kita sendiri, ataupun pengalaman dari hasil riset dan observasi aktual terhadap pikiran bawah sadar manusia.
Kemudian secara tidak sengaja saya menemukan buku “Journey of Souls“, buku ini menceritakan tentang hasil observasi seorang hypnotherapis bernama Michael Newton terhadap pikiran bawah sadar manusia, terutama tentang pengalaman dari roh selama jeda antar kehidupan, yaitu dari sebuah kematian sampai ke kehidupan selanjutnya. Selama ini kita jarang mengobservasi memori pikiran bawah sadar kita, padahal kita tau bahwa kapasitas otak kita hanya digunakan maksimum 10%, lalu ngapain yang 90% lagi?
Ternyata ada banyak memori bawah sadar kita yang tersimpan di dalam diri kita, yang kita sendiri tidak ingat/lupa, jangankan kehidupan sebelumya, masa kecil kita aja banyak yang kita sudah lupa. Tetapi hal itu ternyata bisa dibuka dengan membangkitkan pikiran bawah sadar tersebut, hypnosis adalah salah satu methode, selain itu bisa juga dengan cara meditasi. Ada banyak buku yang menulis tentang hasil observasi ini.
Dengan membuka pikiran bawah sadar kita akan bisa melampaui dunia materi yang kita jalani saat ini, kita akan menyadari, bahwa kita sesungguhnya adalah jiwa yang sedang mengalami pengalaman manusia. Pada saat kita hidup di dunia materi/fisik, pikiran/ego menutupi kenyataan sebenarnya dari siapa diri kita. Jadi bila kita memahami suatu ajaran dengan pikiran/ego, kita tidak akan menemukan siapa diri kita sebenarnya, yang muncul hanyalah bayangan dari pemikiran kita sendiri.
Diri kita ini terdiri dari tubuh, pikiran dan jiwa. Dalam kehidupan dunia fisik ini, terutama setelah dewasa kita semakin jarang mendengarkan jiwa, sehingga kehidupan ini sangat dikendalikan oleh pikiran dan tubuh. Sebagian besar kegiatan kita ditujukan hanya untuk menyenangkan tubuh dan pikiran. Tubuh selalu ingin kenyamanan, bebas dari sakit, perut kenyang, tidur enak dll, sedangkan pikiran selalu berpikir tentang waktu yaitu masa lalu dan masa depan seperti pengen ini, pengen itu dan kebencian pengalaman masa lalu dll, pikiran kita selalu sibuk berpikir ke depan dan belakang tanpa menyadari, bahwa sebenarnya kita hidup di waktu sekarang, segala sesuatu ttg waktu adalah ilusi. Di saat inilah kita hidup sebenarnya. Eckhart Tolle menuliskan dengan tegas mengenai terpenjaraan kita oleh pikiran dalam buku “The Power of Now” , ia mengatakan bahwa setiap hari pikiran kita terus bercakap-cakap dengan dirinya sendiri dan ini sulit untuk dihentikan. Pikiran punya banyak pendapat, tetapi semua pendapat itu didasari pada apa yang telah terjadi di masa lalu. Akibatnya kita jadi sulit untuk merasakan hal2 yang ada diwaktu sekarang sebagai sesuatu yang baru. Terus menerus berpikir membuat kita tidak bisa menikmati waktu sekarang.
Mungkin inilah yang sekarang saya pahami tentang kematian, jiwa kita hidup dalam suatu perjalanan yang panjang untuk bertumbuh, menciptakan pengalaman, untuk menyembuhkan bagian2 dari diri kita yang harus disembuhkan seperti ketakutan, kebencian, keterpisahan, ego, kecemburuan, kemelekatan dll. Untuk pada akhirnya menyadari bahwa sebenarnya cinta-lah satu2 nya yang ada. God is Love.
Selamat jalan Edwin, Innaillahi Wainnaillahi Rojjiun, semuanya berasal dari Dia dan akan kembali kepadaNya. Perjalanan mungkin masih sangat panjang, tapi kita semua akan menuju kesana. Kita kehilangan tubuh kita dalam kematian, tetapi energi kehidupan abadi kita bersatu dengan kekuatan roh ilahi. Kematian bukan kegelapan melainkan terang. Semoga keluarga diberi ketabahan, amin.

Sumber: dr. Suekantara


EmoticonEmoticon